Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Analisa kelayakan mesin penggiling padi

5,152 views

Published on

nah kalo ini bukan tugas saya sama sekali.tapi ini saya dapat dari dokumen bapak saya,gan.sorry,lo ya.hehe

Published in: Sales
  • Login to see the comments

Analisa kelayakan mesin penggiling padi

  1. 1. ANALISA KELAYAKAN MESIN PENGGILING PADI Ary Mustofa Ahmad
  2. 2. Teknologi Penanganan Pascapanen Padi • Biji-bijian adalah bahan pangan yang mempunyai daya tahan tinggi karena tidak mudah rusak saat diangkut dan tahan lama bila disimpan dengan cara yang benar, dan sebelumnya diolah dengan cara yang benar pula
  3. 3. Susut yang disebabkan oleh faktor fisik dapat terjadi selama kegiatan panen, perontokan, pengeringan, dan pengangkutan. Contoh-contoh terjadinya susut pada masing-masing kegiatan antara lain: 1. Penundaan panen juga dapat menyebabkan keretakan pada biji-bijian sehingga akan mudah rusak pada proses pengolahannya 2. Kerusakan mekanis yang disebabkan oleh peralatan atau mesin yang digunakan 3. Proses pengeringan yang tidak sempurna yaitu terlalu cepat 4. Biji-bijian tercecer bila tidak dikemas dengan cara yang benar.
  4. 4. Faktor Biologis • Biasanya disebabkan oleh serangan hama dan jamur yang merupakan masalah utama dalam penanganan pascapanen biji-bijian. Pada keadaan tertentu, tikus dapat menjadi hama yang sangat merugikan dalam penyimpanan biji-bijian. • Tikus bukan hanya memakan biji-bijian, tetapi kotorannya juga akan mempengaruhi kualitas biji- bijian yang disimpan secara keseluruhan. Beberapa jenis tikus bahkan dapat menjadi perantara masuknya mikroba patogen ke dalam biji-bijian yang disimpan.
  5. 5. Faktor Fisiologis • Peningkatan aktifitas metabolisme akibat respirasi sangat kecil bila dibandingkan dengan produk lain seperti buah dan sayuran • Bila biji-bijian tidak dikeringkan dengan benar (kadar airnya masih tinggi), atau disimpan pada tempat yang hangat dan lembab, transpirasi uap air oleh biji-bijian yang disimpan meningkat sehingga kelembaban udara dalam ruang penyimpanan juga meningkat. Hal yang demikian dapat menciptakan lingkungan yang cocok bagi pertumbuhan mikroorganisme perusak biji-bijian.
  6. 6. Alat Pemberasan
  7. 7. Tinjauan Teknis Mesin-mesin Penggilingan padi – Secara umum, mesin-mesin yang digunakan dalam usaha industri jasa penggilingan padi dapat dikelompokkan sebagai berikut: • �Mesin pemecah kulit/sekam atau pengupas kulit/sekam gabah kering giling (huller atau husker) • �Mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (brown rice separator) • �Mesin penyosoh atau mesin pemutih (polisher) • �Mesin pengayak bertingkat (sifter) • �Mesin atau alat bantu pengemasan (timbangan dan penjahit karung)
  8. 8. MESIN PEMECAH KULIT • Mesin pemecah kulit/sekam gabah kering giling berfungsi untuk memecahkan dan melepaskan kulit gabah. Input bahan dari mesin ini adalah gabah kering giling (GKG), yaitu gabah dengan kadar air sekitar 14% basis basah dan outputnya berupa beras pecah kulit (BPK) yang berwarna putih kecoklatan (kusam) atau disebut juga brown rice.
  9. 9. Mesin Pemecah Kulit Tipe Rol Karet (Rubber Roll Husker) Mesin pemecah kulit tipe rol karet (rubber roll husker) memecahkan sekam dengan dua buah rol karet yang dipasang berdekatan. Kedua rol karet tersebut diputar dengan kecepatan yang berbeda dan arah yang berlawanan. Untuk mendapatkan hasil pengupasan yang baik, jarak antar kedua rol diatur sekitar 0.5-0.8 mm, yaitu lebih kecil daripada ketebalan satu butir gabah. Rol yang berputar dengan kecepatan tinggi dinamai rol utama, sedangkan rol lainnya dinamakan rol pembantu.
  10. 10. Rol utama juga disebut fixed roll karena dipasang pada suatu poros stasioner, sedangkan rol pembantu disebut movable roll karena posisinya dapat digeser untuk mengatur jarak antara kedua rol. Rol utama berputar dengan kecepatan sudut 1050 rpm, sedangkan rol pembantu berputar dengan kecepatan 800 rpm, atau kira-kira 24% lebih lambat daripada rol utama. Kedua rol mempunyai diameter yang sama, berkisar antara 150-250 mm tergantung kapasitas yang direncanakan. Tebalnya berkisar antara 60 mm sampai 250 mm. (Patiwiri, 2006)
  11. 11. Mesin pemecah kulit gabah tipe rubber roll (Sumber : PT Agrindo
  12. 12. .Aliran bahan pada mesin pemecah kulit gabah tipe rubber roll (Sumber : PT Agrindo)
  13. 13. MESIN PENYOSOH • Selanjutnya beras pecah kulit mengalami proses penyosohan Hasil dari proses penyosohan adalah beras putih yang siap dipasarkan atau dimasak • Beras pecah kulit yang diumpankan ke dalam mesin ini didorong memasuki silinder dengan permukaan dalam tidak rata Beras pecah kulit akan berdesakan dan bergesekan dengan permukaan silinder yang tidak rata sehingga lapisan kulit arinya (aleuron) yang berwarna kecoklatan terkikis. Kulit ari yang terkikis ini menjadi dedak.
  14. 14. Mesin penyosoh beras pecah kulit tipe friksi jetpeller (Sumber : PT Agrindo)
  15. 15. MESIN PENGAYAK BERAS • Beras putih hasil proses penyosohan kemudian perlu dipisahkan menurut kelompok mutunya yaitu beras utuh dan beras kepala sebagai mutu terbaik, beras patah sebagai mutu kedua, dan beras menir sebagai mutu ketiga. Pemisahan dilakukan menggunakan mesin pengayak bertingkat (sifter) atau silinder pemisah (silinder separator). • Ketiga macam mutu beras tadi akan dicampurkan kembali dengan perbandingan tertentu untuk menentukan harga jual sebelum beras dikemas bila akan dipasarkan
  16. 16. Mesin pengayak beras dengan saringan bertingkat dan hasil proses pemisahannya (Sumber : PT Agrindo)
  17. 17. RICE MILLING UNIT • Rice milling unit (RMU) merupakan jenis mesin penggilingan padi generasi baru yang kompak dan mudah dioperasikan, dimana proses pengolahan gabah menjadi beras dapat dilakukan dalam satu kali proses (one pass process). RMU rata-rata mempunyai kapasitas giling kecil yaitu antara 0.2 hingga 1.0 ton/jam, walau mungkin sudah ada yang lebih besar lagi
  18. 18. Gambar RMU dan alur proses RMU
  19. 19. RICE MILLING PLANT • RMP dapat memiliki kapasitas yang berbeda, sehingga waktu operasional tiap unit tidak sama untuk jumlah padi yang sama • RMP biasanya memiliki kapasitas giling yang lebih besar daripada RMU yaitu antara 1.0 hingga 5.0 ton/jam. Perbedaan kapasitas giling ini menjadi penting sebab akan meningkatkan efisiensi penggunaan mesin-mesin penggilin
  20. 20. Gambar RMP dan alur proses RMP
  21. 21. ANALISA FINANCIAL • Perhitungan biaya untuk alat dan mesin bidang pertanian dan industri dikenal 2 komponen biaya, yaitu Biaya tetap (fixed cost atau Owning Cost) dan Biaya tidak tetap (variable cost atau Operating cost).
  22. 22. Biaya Tetap (fixed cost atau Owning Cost). • Biaya tetap dihitung sebagai pengeluaran walaupun alat atau mesin tidak dipergunakan. Unsur biaya yang termasuk ke dalam komponen ini adalah : 1) Biaya penyusutan (Depreciation Cost), 2) Biaya bunga modal investasi (Interest on investment), 3) Biaya asuransi(Insurance), 4) Biaya pajak (Taxes), 5) Biaya beban gudang/garasi/gedung (Housing/Shelter Cost), 6)Biaya Dana Sosial, sumbangan dan lain-lain.
  23. 23. Biaya penyusutan (Depreciation Cost) • Biaya Penyusutan dapat didefinisikan sebagai biaya akibat penurunan atau kemerosotan dari nilai modal suatu alat atau mesin akibat pertambahan umurnya • Faktor yang mempengaruhi : Kerusakan alat, peningkatan biaya operasi, munculnya alat baru yang lebih efisien, adanya pengembangan proyek baru dalam perusahaan. Penghitungan dengan metode garis lurus D = P-S N Dimana: D = Biaya penyusutan tiap tahun, Rp/th P = Prchase price (harga beli), Rp S= Nilai akhir, % P (Rp), N = Perkiraan umur ekonomi (pemakaian),
  24. 24. Umur Ekonomi dan Umur Pelayanan • Umur ekonomi dari suatu alat atau mesin adalah umur suatu alat atau mesin dari sejak pembelian dengan keadaan baru 100% hingga umur pada saat alat dan mesin atau alat tersebut lebih ekonomis bila diganti dengan yang baru dari pada jika digunakan terus. • Pada saat tersebut mungkin saja alat atau mesin itu masih dapat digunakan (masih dalam umur pelayanan), tetapi sudah tidak ekonomis lagi
  25. 25. Biaya tidak tetap (variable cost atau Operating cost). • Biaya tidak tetap terdiri atas: • a) Biaya bahan bakar • b) Biaya perawatan preventip, • c) Biaya reparasi, • d) Biaya ban (khusus untuk traktor roda), • e) Biaya operator. • Biaya Bahan Bakar = 10 % x BHP x harga perliter jam
  26. 26. Biaya tidak tetap lain Biaya Oli pelumas dan Gemuk = 10% x Biaya Bahan bakar yang dipakai Biaya Ban per jam = biaya pergantian / perkiraan jumlah jam umur ban Biaya perbaikan dan pemeliharaan = 1,2 % (P – S) / 100jam • Dimana: P = harga baru S = nilai akhir mesin Biaya Aplikator untuk Mesin • Bp = A + B x C X Bp = biaya pokok per tahun. A = biaya tetap per tahun. X = jumlah jam kerja per tahun. B = biaya tidak tetap per tahun. C = kapasitas kerja traktor (jam/ha).
  27. 27. Break Even Point • Break even point (BEP) adalah suatu istilah dalam bidang ekonomi yang dapat diartikan sebagai “titik impas”, yaitu suatu kondisi pada saat total biaya pengeluaran sama dengan total pendapatan. • Agar usaha alat tidak rugi maka traktor harus dapat mengerjakan lahan di atas batas BEP-nya. • Y = a + b X. • Dimana: Y= biaya pokok • a = biaya tetap per tahun. • b = biaya tidak tetap per hektar. • X = lahan yang diolah per tahun. • Y > Y1 usaha rugi dan jika Y < Y1 usaha menguntungkan
  28. 28. Net Present Value (NPV) • Net Present Value (NPV) merupakan perbedaan antara nilai sekarang (present value) dari manfaat dan biaya. Apabila NPV bernilai positif, dapat diartikan sebagai besarnya keuntungan yang diperoleh dari proyek. Sebaliknya NPV yang bernilai negatif menunjukan kerugian
  29. 29. Internal Rate of Return (IRR) • Nilai IRR merupakan suatu tingkat pengembalian modal yang digunakan dalam suatu proyek, yang nilainya dinyatakan dalam persen per tahun. Nilai IRR merupakan nilai tingkat bunga, dimana nilai NPV-nya sama dengan nol
  30. 30. R/C RASIO • Analisis R/C Rasio • Analisis Return Cost (R/C) ratio merupakan perbandingan antara penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Analisis R/C rasio dibedakan menjadi analisis R/C rasio atas biaya tunai dan analisis R/C rasio atas biaya total. Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk rumus sebagai berikut: • R/C rasio = Jumlah penerimaan/ Jumlah biaya • Kriteria keputusan • R/C > 1, usahatani untung • R/C < 1, usahatani rugi • R/C = 1, usahatani impas
  31. 31. Analisis Benefit/Cost • Analisis benefit/cost merupakan perbandingan antara pendapatan dengan biaya. • B/C= • Dimana: • B/C > 1 , Pemakaian mesin pemupukan menguntungkan berarti diterima, • B/C = 1 , Pemakaian mesin pemupukan tidak ada manfaatnya • B/C < 1 , Pemakaian mesin pemupukan merugikan usaha tani.
  32. 32. TERIMAKASIH SEMOGA BERMANFAAT

×