Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Ppt stunting niken

pencegahan stunting

  • Login to see the comments

Ppt stunting niken

  1. 1. CEGAH STUNTING CIPTAKAN GENERASI SEHAT CERDAS AKTIF DAN PRODUKTIF PUSKESMAS GABUS II
  2. 2. Stunting Merupakan Kegawat-daruratan Nasional 1 dari 3 Anak di Indonesia Menderita Stunting 2
  3. 3. 3 27.24 24.50 28.15 30.00 31.29 25.79 32.50 37.58 25.93 27.23 23.79 23.97 22.70 25.15 37.58 37.00 32.36 31.76 22.93 26.15 25.89 21.04 29.97 26.62 30.92 35.63 30.84 34.36 28.52 27.95 22.08 28.09 21.00 31.71 24.23 13.41 24.99 25.79 32.23 21.81 20.97 31.02 39.23 25.71 23.82 20.29 28.31 13.81 26.33 19.34 24.59 29.92 27.86 21.21 27.06 22.32 21.42 27.14 28.90 17.87 32.14 31.48 34.08 28.75 22.15 5.65 22.55 17.70 19.49 28.58 Tahun 2017 (PSG) Tahun 2018 (e-PPGBM) PERBANDINGAN PREVALENSI BALITA STUNTING PER KABUPATEN/KOTA PREVALENSI BALITA STUNTING DI PROV. JATENG TH. 2017 : 28,5 %, TAHUN 2018 : 24,43 %
  4. 4. 4 GAMBARAN BALITA STUNTING DI WILAYAH PUSKESMAS GABUS II NO DESA SASARAN JUMLAH % 1 PANDANHARUM 501 22 4.39 2 GABUS 314 17 5.41 3 TUNGGULREJO 393 20 5.09 4 BENDOHARJO 319 13 4.08 5 KALIPANG 283 19 6.71 6 KARANGREJO 327 17 5.20 7 BANJAREJO 436 18 4.13 2573 126 4.89TOTAL
  5. 5. 5 KABUPATENLOKUSPENURUNANSTUNTING2018 DIJAWATENGAH • JATENG 1. Cilacap 2. Banyumas 3. Purbalingga 4. Kebumen 5. Wonosobo 6. Klaten 7. Grobogan 8. Blora 9. Demak 10. Pemalang 11. Brebes Tegal Pekalongan Semarang Brebes Pemalang Batang Kendal Ungaran Demak Kudus Jepara Pati Rembang Blora Salatiga Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Sragen Karanganyar Solo Purwodadi Temanggung Wonosobo Banjarnegara Purbalingga Kebumen Banyumas Purwokerto Slawi Cilacap Losari Tanjung Ketanggungan Margasari Balapulang Bumiayu Bumijawa Majenang Sidareja Ajibarang Wangon Adipala Kroya Sokaraja Klampok Mandiraja Gombong Selokromo Parakan Ambarawa Kartosuro Karanggede Gubug Pecangaan Kayen Juwana Tayu Lasem Cepu Randublatung Jatisrono Purwantoro Belik Randudongkal Bantarbolang Kedungwuni SragiComal Subah Limpung Bandar Sukorejo Cepiring Weleri Kaliwungu Boja Purworejo Wuryantoro Mungkid Kersana Malahayu Banjarharjo Adiwerna Kramat Sukalila Kajen Doro Paninggaran KalibeningWatukumpul Bobotsari Baturaden Ujungbarang Bantarkawung Wanayasa Wanadadi Rakit Karangkobar Batur Garung Bawang Muntung Ngadirejo Kretek Kepil Wadaslintang Karangpucung Rawalo Jeruklegi Gumilir Slarang Buntu Sumpiuh Tambak Bodo Karangbolong Puring Petanahan Ambal Mirit Grabag Prembun Butuh Kemiri Kutoarjo Salaman Borobudur Blondo Secang Kopeng Ngablak Bandungan Bawen Kedungjati Wonosegoro Selo Sruwen Simo Gemolong Sumberlawang Gundih Juwangi Godong Dempet Klambu Sukolilo Grobogan Wirosari Kunduran Todanan Jakenan Gabus Jekulo Daweh Welahan Kedung BangsriBangsri Keling Puncel Dukuhseti Kenanti Sluke Kragan Pamotan Sulang Ngawen Jepon Kradenan WulungWulung MantinganGondang Masaran Kebakkramat Karangpandan Tawangmangu Jumapolo Ngadirejo Baturetno Giriwoyo Pracimantoro Bayat Delanggu Wanareja Prupuk Pejagan Nusakambangan DI Yogyakarta Jawa Timur Jawa Barat Muntilan Pringsurat Prambanan Patimuan Kab. Grobogan 1. TERMAS 2. SINDUREJO 3. RAMBAT 4. JUWORO 5. KARANG ANYAR 6. GEYER 7. LEDOKDAWAN 8. SIDOREJO 9. KARANGHARJO 10. PUTATSARI TH 2019 TAMBAH SATU KABUPATEN PEKALONGAN TH 2020 TAMBAH EMPAT KABUPATEN : 1. PATI 2. JEPARA 3. SRAGEN 4. MAGELANG
  6. 6. 6 STRUKTUR PENDUDUK & PELUANG BONUS DEMOGRAFI
  7. 7. Stuntingadalah Kondisi Kekurangan Gizi Kronis Secara fisik anak stunting memiliki tinggi badan di bawah standar pertumbuhan anak normal seusianya (WHO)* 7
  8. 8. 8 Penilaian dilakukan secara antropometri berdasarkan indeks nilai z-skor tinggi badan menurut umur (TB/U) (Kemenkes 2010): < -3 SD (sangat pendek) -3 SD s/d < -2 SD (pendek) -2 SD s/d 2 SD (normal) > 2 SD (tinggi) Cara Penilaian Status Stunting
  9. 9. 9 HUBUNGAN STUNTING DAN PERKEMBANGAN OTAK Perkembangan otak anak yang sehat dan bergizi baik lebih baik dibandingkan anak yang stunting
  10. 10. 10 Praktek pengasuhan yg tdk baik  Kurang pengetahuan ttg kesehatan & gizi sebelum & pd masa kehamilan  55% anak usia 0-6 bln tidak mendpt ASI eksklusif (Susenas, 2015)  1 dari 3 anak usia 6-23 bln tdk menerima MP-ASI tepat (SDKI,2012) Kurangnya akses ke bahan makanan bergizi  1 dari 3 ibu hamil anemia  Bahan makanan mahal Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC, PNC, & pembelajaran dini berkualitas  1 dari 3 anak usia 3-6 thn tidak terdaftara di PAUD  2 dari 3 bumil belum mengkonsumsi suplemen besi yg memadai  Menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu (dr 79% di 2007 menjadi 64% di 2013)  Tdk mendpt akses yg memadai ke layanan imunisasi Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi  1 dari 5 rumah tangga masih BAB di ruang terbuka  1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih Penyebab stunting di Indonesia Multi-dimensional
  11. 11. 11 Akibat Stunting Kematian Jangka Pendek: • Gangguan perkembangan otak • Gangguan pertumbuhan fisik • Gangguan perkembangan motorik pada bayi Jangka Panjang: • Tingkat kecerdasan rendah • Prestasi belajar tidak baik • Prestasi kerja tidak baik (produktivitas rendah). • Kalah bersaing dalam mencari kerja. • Cenderung gemuk diusia tua sehingga menderiita penyakit degeneratif (hipertensi, jantung, diabetes, dll) Dampak jangka panjang: Kerugian negara karena generasi penerus mengalami kondisi yang tidak sehat dan tidak produktif
  12. 12. 12
  13. 13. 13 STUNTINGBISADICEGAHDENGANMEMASTIKANKESEHATANYANGBAIKDANGIZIYANG CUKUPPADAPERIODE1000HARIPERTAMAKEHIDUPAN 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yang Optimal Gizi tepat + Pencegahan Penyakit = Mencegah Stunting = Tumbuh Kembang Optimal
  14. 14. 14 PROGRAM PENANGANAN STUNTING Komitmen dan Visi Pimpinan Tertinggi Negara Kampanye Nasional Berfokus pada pemahaman, perubahan perilaku, komitmen politik dan akuntabilitas Konvergensi, Koordinasi, dan Konsolidasi Program Nasional, Daerah, dan Masyarakat Mendorong Kebijakan “Nutritional Food Security” Pemantauan dan Evaluasi INTERVENSI GIZI SPESIFIK INTERVENSI GIZI SENSITIF TUMBUH KEMBANG ANAK YANG MAKSIMAL (dengan kemampuan emosional, sosial dan fisik siap untuk belajar, berinovasi dan berkompetisi) MENINGKATKAN DAYA SAING MENGURANGI KESENJANGAN/INEQUALITY Pilar 1 Pilar 2 Pilar 3 Pilar 4 Pilar 5
  15. 15. 15 Intervensi gizi Spesifik (Bila cakupan 90%, berkontribusi 20-30%) Intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Intervensi yang ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1.000 HPK. Intervensi gizi Sensitif (berkontribusi 70- 80%) 1 2 Kerangka Penanganan Stunting
  16. 16. 16 Intervensi Percepatan Perbaikan Gizi Multisektor Intervensi Gizi Spesifik (Kesehatan) Intervensi Gizi Sensitif (Non-Kesehatan) Ibu Hamil  Suplementasi besi folat  Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK)  Penanggulangan kecacingan  Suplementasi kalsium  Pemberian kelambu dan pengobatan bagi ibu hamil yang positif malaria  Ibu Menyusui  Promosi menyusui  Komunikasi perubahan perilaku untuk memperbaiki pemberian makanan pendamping ASI  Bayi 0-23 Bulan  Suplementasi zink  Zink untuk manajemen diare  Suplemen vitamin A  Pemberian garam iodium  Pencegahan kurang gizi akut  Pemberian obat cacing  Fortifikasi besi dan kegiatan suplementasi • Penyediaan air bersih dan sanitasi • Meningkatkan kualitas dan fasilitas air bersih dan sanitasi serta integrasi dengan lokus masalah gizi • Ketahanan pangan dan gizi • Budidaya sumber pangan lokal • Memperkuat program KRPL • Keluarga Berencana • Pelatihan dan penguatan PLKB • Mengembangkan kurikulum kursus calon pengantin • Jaminan Kesehatan Masyarakat • Meningkatkan coverage atau jumlah • Jaminan Persalinan Dasar • Meningkatkan kualitas layanan • Fortifikasi Pangan • Perluasan pengawasan garam beryodium dan implementasi tindak lanjut hasil pengawasan • Pendidikan Gizi Masyarakat • Memperkuat strategi KIE dan perubahan perilaku serta pelaksanaan PAUD- HI • Intervensi untuk Remaja Perempuan • Pendidikan kesehatan reproduksi • Pengentasan Kemiskinan • PKH dan bantuan pangan non-tunai
  17. 17. 17 5 Paket Layanan Konvergensi Stunting Desa
  18. 18. Contoh Pencegahan Stunting No. PAKET LAYANAN SPESIFIK SENSITIF 1 Kesehatan Ibu dan Anak • Pemeriksaan kehamilan (4x) • Pemberiaan Pil Fe • Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan • Pemeriksaan masa nifas ( 3 x) • IMD (Inisiasi Menyusu Dini) : Colostrum, ASI Eklusif, MP-ASI. • Imunisasi lengkap • Pemberian obat cacing dan obat malaria • Pengolahan gizi seimbang keluarga. • Pemantauan minum pil Fe. • Menerapkan ASI-Ekslusif. • Menerapkan MP-ASI • Konsumsi garam beryodium • Pencegahan malaria • Pencegahan kecacingan 2 Konseling gizi terpadu • Penanganan KEK (kekurangan energi kronis) • Penyuluhan gizi dan pengolahan makanan • PMBA (pemberian makanan bayi dan anak) • Peningkatan ekonomi keluarga • Pemanfaatan pekarangan rumah/ kebun gizi • Promosi PHBS 18
  19. 19. No. PAKET LAYANAN SPESIFIK SENSITIF 3 Perlindungan Sosial • Menyiapkan form keterangan proses kelahiran • Penerbitan akte kelahiran, KTP, KK • Pemberian Kartu Jaminan Sosial • BPJS • Program subsidi keluarga miskin: • KIS • KIP • PKH • Beras miskin 4 Sanitasi dan air bersih • Penyuluhan PHBS dan Sanitasi • Penyediaan sarana air minum • Penyediaan jamban (keluarga/umum) • Pengolahan limbah keluarga (sampah dan limbah cair) 5 Layanan PAUD • Kegiatan Bina Keluarga Balita • Latihan pengasuhan anak (kelas parenting). • Menerapkan pola asuh anak. 19 Contoh Pencegahan Stunting
  20. 20. AYO HIDUP SEHAT SEHAT DIAWALI DARI SAYA T E R I M A K A S I H

×