Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

ANTOLOGI SYAIR KELAS 9J - SMPN 1 CIPANAS - JAGUAR PETANG TIGA PULUH

ANTOLOGI SYAIR 9 J - SMPN 1 CIPANAS

JAGUAR PETANG TIGA PULU

Syair ini terdiri dari berbagai genre, tema, perasaan, dan kisah yang ber beda. dari mulai kisah asmara, rindu, pengkhianatan,dan lain sebagainya yang sangat kompilasi dengan bahasa gugahan yamg sederhana, tak bisa diterka setiap kepengarangannya misterius, maka bacalah !!!!!!

  • Login to see the comments

ANTOLOGI SYAIR KELAS 9J - SMPN 1 CIPANAS - JAGUAR PETANG TIGA PULUH

  1. 1. 2013 / 2014 KARYA : KELAS IX SEMESTER GANJIL SMP NEGERI 1 CIPANAS JLN. TUGARAN NO.67 CIPANAS – CIANJUR STANDAR KOMPETISI : MEMAHAMI WACANA SASTRA MELALUI KEGIATAN MENDENGARKAN SYAIR. KOMPETISI DASAR : MENEMUKAN TEMA DAN PESAN SYAIR YANG DIPERDENGARKAN
  2. 2. Tuhan Baru Karya : Aldi Aldinar 1. Mentari benderang mewah sinarnya. Menaungiku di gelapnya dunia. Dunia ini terang kelampun hatinya. Jiwanya ,raganya,kotor senitasnya. 2. Kulihat kemajuan dunia ini. Namun kemundurannya nyata terjadi. Kugenggam dunia dengan tangan ini. Mereka yang tersembunyi kontra sunyi. 3. Kucarik kertas hitam dunia. Dengannya kulintasi Samudra Lima. Kuloncati benua tanpa bergema. Mereka hebat, menipu, memperdaya. 4. Madu dan racun menu nan elegan. Dikemas rapi, cantik si bola setan. Ia menjawab setiap pertanyaan. Sebuah organisasi yang terlarang 8. Dengan gelarnya Profesor Doktor. Gunanya ilmu tak pelak tingkah kotor. Selancar dunia semu bebas sensor. Penuh konspirasi cipta konspirator. 7. Tuhan Baru manalah orang tahu. Harta, tahta, wanita puja kelabu. Lupalah kamu, siapakah dirimu? Hamba tak berTuhan komunitasmu. 6. Bejadlah sudah pribadi kita. Zaman kebebasan dusta jadi duta. Desa kota penuh mahluk bercinta. Bercinta ritual api semata. 5. Tangan gaib megatur sejarah. Perang dunia dan pertumpahan darah. Niat kejam agar bangs lain musnah. Tanpa senjata hanya basah melemah.
  3. 3. ALAT EKSKRESI Karya : Aldi Aldinar 3. Tak usah kau kenang lagi tak bertuhan. Raja surga dunia pemuja setan. Menawan hati, menggoda lawan. Tak disangka, butalah tuan. 4. Hati buta matapun buta. Buta liar buta membabi buta. Samudera meronta karena auranya. Robahlah gunung sebab pijaknya 2. Kilatan sinar mengubah segalanya. Jiwa, raga, pikiran dan sejarahnya. Hitam kelam jadi putih dengannya. Bukan main ampuh tipu muslihatnya. 1. Kubuka mata dipagi senja. Sang Surya perlahan naik mengeja. Silau Sinar menerpa mata yang buta. Dunia ini menggoda dengan dusta. 5.Cahaya lentera padamlah sudah. Bumi ini kelam dan darah bersimbah. Mahluk apa?Dimana?Siapakah? Dia merusak dunia dengan fitnah. 6. Menularlah bobrok merongrong dunia. Membunuh manusia hal terbiasa. Tak kenal ayah,bunda,adik dan kaka. Bunuhlah jika hati mereka buta. 7. Hati kotor jiwapun nista. Nista senista kotoran manusia. Berpesta ria ketika masa duka. Matilah ibu dan ayah … yah sudahlah. 8. Dia berdalil ‘Dunia ini Surga’ Aku sanggah ‘Dunia ini penjara’ Dia berkata ’Mati itu celaka’ Aku cela ‘ Mati pintu bahagia’ 9. Dia dan Aku berbeda hati. Beda pikiran beda mengerti. Pastilah jaya ilmu Ilahi. Atas akal logika duniawi. 10. Hati menyuruh kita hati-hati. Hati itu pembeda ilmu Illahi . Dengan akal mengasal Duniawi. Hatiku…Hatimu… Alat eksresi?
  4. 4. MABUK ASMARA KARYA: ALDI ALDINAR Dengung rasanya badanku ini Diguncang rasa janggal dihati Tak tertahan tak akan terperi Sebenarnya apakah rasa ini Entah mengapa pahit menjadi manis Dingin mengiris terasa hangat perlis Air wajahnya ayu cantik nan mistis Siapakah pembuat hati histeris Aku tahu itu mustahil bagiku Dan mungkin ia tak akan tahu Gelora asmara itu tumbuh Dihatiku yang kering kerau Terasa lucu cintaku ini tak dibalas sembilu hati tak apa kau menolak hamba ini tapi biarkan aku mengagumi
  5. 5. TUDUNG SAJI Karya : Aldi Aldinar . Saji ditudungkan mega. Ditudung tersajilah saga. Sajilah saji tudung batu terduga. Tudung saji aku masuk Surga. Lampau jaman tudung saji jatuh guna. Rotan bambu silah ganti besi makna. Kontak-kontak kaca memancar pesona. Habislah moralmu Kujaya kencana. Tikus besi merongrong tudung saji. Lubang hati karena dia ingkar janji. Dendam dengki saling bunuh di Mesuji. Harta disengketa tahta di jeruji. Tudung saji bernasib malang. Anyaman mu kini koyak sembarang. Baranya mengincar jiwa menang senang. Tudung saji nan koyak tetaplah tenang.
  6. 6. Apakah Aku Berdosa? Karya: Ahmad Ramdani IX-J Ditengah malam yang sunyi Bunyi terompet semakin nyata Kududuk terpaku sendiri Mengguncang alam semesta Melihat mentari tak ada lagi Semua orang tak menyangka Terdiam kepada Sang Ilahi Bencana itu akan menerpa Betapa busuknya diriku ini Air mataku semakin mengalir Penuh dosa dihati ini Seiring waktu yang bergulir Tapi aku hanya bilang nanti Sampai saat ini ku berfikir Menunggu ajal Sang Ilahi Bagaikan angin dan petir Ya Allah yang Maha Kuasa Ampunilah segala dosa Memang aku tak berdaya Dihadapan Sang Maha Kuasa
  7. 7. Sang Malam Bulan purnama cahayanya terang Bintang terang diatas karang Belari-lari terang benderang Di akhiri bulan di tanah sebrang Gemerlapnya cahaya bintang seketika Beraturan bagai dijangka Seketika terbit belaka Terlihat berselimut duka Tengah malam gelap terjaga Melihat bintang cantik rupa Sejajar beratur tiga Cahayanya terang tidak terhingga Bintang malam berkedip di angkasa Bulan kokoh memancarka sinarnya Penghuni malam bersahutan berkala Oh, Sang malam yang penuh pesona Fanny Kurniawati Putri (IX-J)
  8. 8. “Sang Malam” Karya: Fanny Kurniawati Putri (IX J) Bulan purnama cahayanya terang Bintang terang diatas karang Belari-lari terang benderang Di akhiri bulan di tanah sebrang Gemerlapnya cahaya bintang seketika Beraturan bagai dijangka Seketika terbit belaka Terlihat berselimut duka Tengah malam gelap terjaga Melihat bintang cantik rupa Sejajar beratur tiga Cahayanya terang tidak terhingga Bintang malam berkedip di angkasa Bulan kokoh memancarkan sinarnya Penghuni malam bersahutan berkala Oh, Sang malam yang penuh pesona
  9. 9. HUBUNGAN SINGKAT Karya: Faisal Husni Mubarok (IX J) Berawal dari sebuah pertemuan Anatara dua orang insan Yang saling bertatap-tatapan Dibawah semua keindahan Akhirnya timbul benih-benih cinta Yang tumbuh menjadi sebuah rasa Sebuah rasa yang luar biasa Seiring dengan berjalannya masa Sebuah hubungan pun terjalin Diatas selembar kain Yang indah bagaikan nyala lilin Yang meghangatkan malam disaat dingin Merekapun saling bertengkar Seiring dengan lilin yang terbakar Masalah pun berbelit seperti akar Akar pun berkata “Kau harus bersabar” Diatas sebuah sampan Ku memikirkan sebuah perkataan Yang pedih dan menyakitkan Yang berakhir dengan penyesalan
  10. 10. “SAAT DIA” Karya : Faisal H.M Saat dia senang dan bahagia Ku akan ikut tertawa Saat dia sedih dan berduka Ku akan ikut merasa sengsara Dia bagaikan belahan jiwa Beriringan dari muda sampai tua Apapun yang di rasakan nya Akan terasa pada diriku jua Saat dia dekat, aku makin mendekat Saat dia jauh rindu pun menjerat Saat kita saling mendekat Kita bagai dua jari yang merekat Saat dia membuka pintu hatinya Ku siap tuk mengisi kehampaan nya Supaya kita selalu bersama Hingga ajal memisahkan kita Saat dia telah tiada Hatiku bagai suatu ruangan hampa Semua yang terjadi karena dia Dan berawal dari kata “saat dia”
  11. 11. Angan Nyata Karya: Erdalena Meniti hari demi hari Kulalui itu dengan pasti Menjalani amaliah Nan haqiqi Bersatu, bersama seiring hati Suka duka mewarnai Tetap harus kuarungi Semakin indah goresan, lukisan diri Membentuk akhlak yang berbudi Mawaahib membuka cakrawala Menyadarkan jiwa yang terlena Dari hamba yang hina Yang mudah berputus asa Terimakasih ku ucapkan pada-Nya Telah mempertemukanku dengannya Mewujudkan sebuah angan nyata Dan gapai bahagia di jiwa
  12. 12. Pujangga Penawanku Karya:Bintang Aulia Yasmin Saat sepasang mata melihat Begitu cepat bagai kilat Dibawah gedung-gedung berflat Dalam do’a pada shalat Pujanggaku yang membuatku haru Pasir diatas tanah melambaimu Berharap ada canda dalam dirimu Untukku yang menunggu kamu Seberkas cahaya yang begitu indah Tersirat pernah dan bernanah Begitu saja oleh panah Tepat diulu hati terbawah Anggaplah aku petani Menggarap tawa dari nurani Setia dalam badai abadi Tak terjebak dalam lingkaran api Wahai dirimu oh dirimu Pujangga perubahku Disambut rasa haru Sempurnamu sempurnaku Aku akan jadi pelipur lara Bukan jadi penghimpun lara Menjagamu dari bahaya Bahaya hati yang melanda Siapa sangka hati terpaut Tapi duniawi berkata takut Kehilanganmu diatas maut Karena kau, hatiku terpaut Ya Rabbi yang Maha Abadi Jujur aku ini minta pamrih Maka aku sendiri akan bersedih Jikalau rasaku berlebih Barakallah Ya Rabbi yang Maha Tinggi Jangan biarkan getaran ini mati Bukankah ini ajaran illahi Melengkapi dengan hati Aku pinta dia Ya Rabbi… Titipkan dengan hati Dengan seluruh konsistensi Ku pinta dia dengan mata hati Wahai pujangga yang kubangga Aku ini darah belia Mengejar dunia yang fana Akhiratpun tak dilupa Kau boleh bilang apapun itu Asal kau sadari dengan satu Desiran hati yang terdengar slalu Dalam dendamnya rindu Tak perlulah kau bingung dalam malam Badaipun terkadang bisa diam Matahari bisa kebanjiran Jadi tolong jangan kau abaikan
  13. 13. Anugerah Terindah Setetes rindu yang teramat sepi Hanyut terbawa tangisan diri Diri yang jauh dari suci Untuk mencapai ridho ilahi Terhentak ku di jalan sepi Termenung melamunkan diri Kapankah dia menghampiri Membawaku untuk pergi Rasa resah tak terarah Rasa gundah melanda jiwa Seperti tertancap sembilu panah Dan entah itu mengapa Bagitu, itu anugerah Asal ku bisa mencapai ridho-Nya Meski tertusuk sebilu panah Ikhlas rela menjalaninya Karya : Alisa Silviana Saepudin
  14. 14. DALAM RENUNGAN Semilir angin terpaku di tepi Tepi pantai di pagi hari Nikmati, renungkan diri Terpejam mengulas yang terjadi Kutapaki sebuah perjalanan masa Dimana banyak sang penikmat dunia Tertawa dengan tipu daya Tak pedulikan dusta merajalela Dimana rasa tak terbendung harap Secangkir impian tak pernah terucap Apakah hidup seperti kecap? Hitam pekat banyak penjilat Ku terhenyat, langkahku lekat Seakan ku tergeliat Ditengah orang kumat Lara hati, duka melarat Melangkah ku di kebimbangan Pasrah terhadap takdir Tuhan Dalam jalan tak berketentuan Mungkin ini adalah cobaan Karya : Alisa Silviana Saepudin
  15. 15. Setitik Kuasa Tuhan Karya: Anisa Muplihah Mari meluncur ke Cianjur Tanah marhamah juga subur Siang bagai hijau ditabur Malam-malam bintang bertabur Ayam pelung barsahutan Muda-mudi berpautan Melukiskan keindahan Penuh dengan keragaman Tangan-tangan hijau melambai Juntaian kelapa yang membelai Merona hati terbuai Terbuai alam membelai Kota santri kota impian Kota tanpa keraguan Rasa ingin menaklukan Langkah awal gapai impian Bila daku pergi darimu Rindu hati ingin bertemu Tak sekedar bayangan semu Sungguh diri ingin bertemu Di bawah sinar rembulan Ku duduk dengan si Pulan Syukur nikmat disenandungkan Setitik tinta kuasa Tuhan
  16. 16. Relung Hati Gemuruh kaki melangkah tenang Satu langkah tampak tak terbilang Tubuh tinggi, tegap besar melenggang Wajah dingin nan angkuh namun periang Hatinya terbelalak gembira Mendapati satu roh berakal rasa Terdiam tampak bimbang menanti masa Hatinya semakin bahagia Digenggam lalu dijilatnya Runcing terlihat tajamnya Dalam benak, terbayang segarnya Dahaga tercurah di kerongkongannya Dijilat lagi benda runcing itu Memastikan tajamnya itu Namun memang sedikit berbatu Ia telan satu-satu Belati pun tak segan menghujam Raga tak bersalah tengah dihantam Dengan benda kecil yang sangat tajam Oleh si Pendekar Dirham Jeritan, gaungan, rontaan Melambunga menyentuh lautan Menerobos lorong pendengaran Namun ia tetap tentram nyaman Bilangan detik seketika menguap Rasanya puas nampak dadanya pengap Darah segar mengalir menguap Menggairah jiwa ingin melahap Dahagapun terobati Darah segar sudah tak menanti Namun ada gelisah di hati Berbekas lara di relung hati Oleh : Anita Mardina Sesaat…
  17. 17. Sepilah Ungkap Apakah kalian tahu ? Tentang perjalananku Yang penuh dengan lika liku Perjalanan mengikuti lajur waktu Banyak masalah yang menghadang Banyak kegagalan yang menjatuhkan Banyak orang licik yang menjadi palang Serta saingan yang menjadi gawang Ribuan keinginan tak terlaksana Ribuan mimpi tak menjadi nyata Terkadang diriku merana Meratapi harapanku yang nyata Namun beginilah hidup ini Hidup ini harus dinikmati Bagaikan sinetron di televisi Hidup ini harus dinikmati
  18. 18. Hidupku yang baru Karya : Arini Silvina Putri Ku berlari mengejar mimpi Mencoba menaung berlari lari Tak sampai ku berkata suci Saat ajal ku tak kembali Hati kecil ku ini bertanya Apa yang akan aku lakukan disana? Sedangkan pilu ku kini bercampur berdera Aku tak menginginkan semuanya Gelap gulita menumbuk cakrawala Hidupku sudah tak berarti disana Impianku kini telah terbawa derita Saat aku memecahkan kekekalan yang tiada Aku menangis membentangkan haruku Apa yang telah aku lakukan pada- Mu? Bagaimana aku membiaskan semua Gelombang laut yang terburu? Satu janjiku untuk bertobat pada- Mu Lembung pagi diufuk Timur Keluh kesah tak lagi bercampur Hanya perasaan pilu tak teratur
  19. 19. Tak Tahu Apa Karya : Chevron R. K. Ku coba tenangkan diri Mentap pada mentari Disini hanya sendiri Menatap rumput yang menari Kucoba lewati lika-liku Bermodalkan pikiran yang membeku Banyak masalah datang menghampiriku Turun menuju lubuk hatiku Terasa diri ini terus terkurung Dan hari-hari makin menjadi mendung Masalah bagai bara yang terkurung Terus membakar hati yang murung Tak tahan lagi menahan ombak Diam menjadi patung tak bergerak Datang penolong namun member arak Ingin teriak namun semakin serak Kucoba bertanya pada bulan Tapi tak ada satupun jawaban Yang kubisa hanya berangan – angan Anganku terpaku akan pertanyaan Terbayang simpul senyum merayu Larut dalam cerita masa lalu Namun bunga menjadi layu Dan waktu terus berlalu Senyap menyergap cahaya yang terang Jalankan lentera terang dan tenang Banyak burung kembali ke sarang Dan aku berjalan ke atas karang Ku simpan kidung rindu dalam hati Sebelum semuanya akan mati Diatas kumpulan batu ku menanti Kujalani hidup untuk mencari arti Saat kumenyusur dalam bumi kelam Banyak mayat berada di dalam Tangan – tangannya menjulur dari dalam Menuju bulan memberikan ku salam
  20. 20. KISAH HIDUP-KU Hari-hari terus berganti Ku lewati semua dengan bakti Walau sebenarnya dalam hati Hati di dalam lubuk hati Aku lelah menjalaninya Aku bosan menjalaninya Aku takut menjalaninya Menderita menjalaninya Ayah ibu kakak lihatlah diri ku Penyakit ini merusak tubuh ku Menjatuhkan semangat hidup ku Mengiris - iris batin ku Terima kasih terima kasih Tuhan Atas semua nikmat-Mu Tuhan Yang kau beri kepada ku Tuhan Yang terbaik bagi ku Tuhan Ku tuliskan semua di dalam buku Semua kisah hidup ku Untuk semua yang sayang pada ku Agar mereka selalu mengingat ku KARYA : DENISA RAMDIANI INSPIRASI : FILM”SURAT KECIL UNTUK TUHAN”
  21. 21. Pahlawan Dunia Karya : Dimas Anugrah Raut wajahmu membuatku terpaku Membuat tidakkaruan melihatmu Meski pipi mulai mengkerut Kau tetap jagoan dalam hidupku Ribuan pulau kau arungi Keringat penuh menghujani diri Banting tulang wajah berseri Hanya untuk yang disayangi Kasih sayang tiada tara Penuh cinta bergelora Tanpa ada dukalara Kaulah pahlawan dunia Cintanya dipanjatkan ke angkasa Hingga mengelilingi tatasurya Hanya untuk anak tercinta Kaulah pahlawan wahai ibu bapa
  22. 22. Pejuang Maut Karya : Dwi Yuniarkasih Kulihat ibu mengandung besar Berjalan menelusuri kamar Terbaring diatas kasur kasar Terlahir bayi pria yang kembar Seuntai nama mulai terucap Kebahagiaan mulai terkuap Kesedihan hilang seperti asap Pikiran kelam hilang seperti uap Hanya bahagia yang mengiringinya Terhias canda tawa pada senyumnya Tercurah kasih sayang kepadanya Terlihat manis disetiap hidupnya Ku bersyukur kepada Allah Atas lahirnya Sang Ramah Kutuntun ia dengan panah Agar tak tersesat arah
  23. 23. Menahan Sejuta Harapan Karya : Eka Safitri Terdiam bukan berarti tenang Tertawa bukan berarti melayang Tersenyum bukan berarti senang Menjerit ingin kuberjuang. Bertahan dalam ketidakpastian Menanti pancaran terang melintang Membuat warna indah nan datang Menanti sejuta harapan benderang Apa kau telah mengerti? Sejuta impian yang kunanti Berjalan ku tak henti Diiringi keajaiban tak pasti Hati ini semakin beku Diriku semakin merindu Sejuta harapan menghantuiku Menunggu dan menunggu arti diriku Kugoreskan sebuah kata-kata Mencurahkan penghangat jiwa Ku menjerit tanpa suara Menangispun tanpa air mata Kucoba memutar waktu Kutuluskan seribu harapanku Betapa indahnya cobaanku Berjalan seperti terpaku
  24. 24. Tuhan Telah Menegurmu Karya : Erdalena Tuhan telah menegurmu dengan sopan Lewat anak – anak yang kelaparan Tuhan telah menegurmu dengan sopan Lewat semayup suara adzan Apa kau tidak mendengarkan ? Apa kau tidak menghiraukan ? Apa jiwa dan hatimu tak tergetarkan ? Ataukah memang tlah kau abaikan ? Gunung – gunung tlah memuntahkan lahar Air laut membawa gempar Jerit tangis pun menyayat kasar Membuat hati merintih gusar Ya Allah Engkau tempat kami mengadu Sembuhkanlah hati kami yang pilu Ampuni dosa kami yang mengabaikan-Mu Agar kami bisa meniti di jalan-Mu
  25. 25. Petualangan Mimpi Tatkala senja menabur embunya Mata terpejam dalam hamparanya Terhanyut dalam kilau mimpi indahnya Nakodapun tergambar diatasnya Getir tubuh terombang ambing dilaut Rasa din gin kini kian membalut Ekspresi diri hanya diam kalut Dalam petualangan mimpi di laut Terhisap jutaan pasir Dibawah terik manja menyisir Tapi ini bukanlah pesisir Ini petualangan di Gurun pasir Melihat seorang pengembara Terbang melewati ribun awan berara Mencoba melewati segunung bara Menjelajah di petualangan udara Mau tak mau aku harus puas Walau raga terus memelas Menunggu lagi untuk mimpi buas Menjelajah ribuan dunia luas Karya : Fanny Puteri Cahyani
  26. 26. SIMPONI NADA HATI Karya : Indah Shalehah Malam sunyi gelap gulita Penuh dengan simponi kata Oleh jutaan rayuan cinta Yang datang seketika Ku terdiam lemah membisu Dalam hati yang membeku Seakan tercipta harmoni rindu Tangga nada simponiku Detik demi detik kulalui Bersama dirimu waktuku ini Kutanam bersama bui bui Sampai asa ku temui Getar ini mengakuinya Mungkin sesulit itu kumerasa Begitu berat ungkapkan rindu, cinta Begitu sulit mengaku cinta Sepi, sunyi, bisu hatiku Panas hati ini melihatmu Bersama Bunga lain kau tak malu Padaku kau beri harapan palsu Jutaan Omong kosong kau ucapkan Benarkah ini dirimu tampan Biasa padaku kau lakukan Tak satupun maaf kau ucapkan Kuharap kau tak ulangi lagi Perbuatan busukmu ini Kepada bunga bunga bermimpi Benar benar tak lagi
  27. 27. Penantian Karya : Intan Zahra Ramdhini Ku duduk sendiri terpaku Ku dengar detak jantungku Pikiran mulai membeku Kurasa dunia ini mendustaiku Bolehkah aku bertanya? Atas apa yang telah terjadi seluruhnya? Aku takut, sangat menghawatirkannya Takut, untuk kehilangannya Poros diri mulai bergoyang Tak diingat tapi selalu membayang Siapa yang datang menghadang? Mungkin hanya seuntai sayang Ku terdiam tanpa adegan Ku terus berangan-angan Terduduk penuh harapan Menantimu dalam kekosongan
  28. 28. “PENANTIAN” Karya : Iyya Juwita P. Termenung dalam kesedihan Meratapi suatu cobaan Gelisah tak ada harapan Menanti sebuah keajaiban Tuhan kumohon kabulkan Semua yang kunantikan Biarlah datang perlahan Tapi kumohon pastikan Tuhan diriku kini menunggu Sebuah jawaban darimu Resahku semakin menggebu-gebu Bila kau tak menjawab do’aku Sejuta harapan menghantuiku Banyak impian melekat di tubuhku Dunia gundah merana terpaku Menanti sebongkah pelagi untukku Tuhan diriku mulai pasrah Hidupku kini tak terarah Tubuhku pun terasa lelah Otakku tak dapat terasah Lamanya waktu berjalan Hariku tiada perubahan Sedihku kini kusimpan Semua kuanggap pengalaman
  29. 29. Menunggu dan Bertemu Seseorang Karya : Luh Ratih Paramitha Yuda Sendiri ku duduk termenung Menanti yang kan datang kepadaku Sambil terbaring ku menutup mataku Sambil menunggu ku bersenandung Kubertanya terus bertanya Siapakah yang kan tiba Apakah sahabat atau siapa Ku terus menunggu dan bertanya Seseorang datang menghampiriku Dan bertanya kepadaku Dan berkata sedang apa kau Ku hanya bisa tersenyum Ku bercerita kepadanya Tentang permasalahan yang melanda Ingin kucapai cita-cita Dan kau bersedia mendengarkan Setangkai impian yang ku inginkan Segenggam harapan yang kuberikan Semangat yang dia berikan Untuk mewujudkan cita-cita
  30. 30. Pencuri Karya: Nisrina Noor Islami Aku terbangun dari lamunan Menyadari dunia hilang kenangan Malam terbit di siang Salju terasa gersang Aku terbangun dan terseok Berjalan menemui tembok-tembok Kulihat ada perampok Membobol dinding hingga bobrok Aku bertanya pada satu yang bertopeng Ada apa wahai pria bopeng? Dia menjawab dengan enteng Aku sedang mencuri genteng-genteng Tidak kah kau lari melarikan diri? Tanya satu sosok yang berdiri Rumahmu akan segera kami curi Aku pun bingung sendiri Hati! Rumahmu adalah hatimu! Genteng yang kami curi itu iman mu! Dinding yang bobrok itu akhlakmu! Teriak satu bayang semu Guncangan hebat datang di pundak ku Mungkin sedang lemahkan keteguhanku Oh namun ternyata aku keliru Ini mimpi buruk, nafasku berderu
  31. 31. Tirai Pemuda Karya : Rahayu Nurfitriyani Shalehah Dunia membabi Jaya Alampun membuta seketika Kulihat tanah gila Ingin datang merana sentosa Mahkota raja terposok Insan agung lenyap tak elok Mereka melata mencari golok Yang ada alam berkokok Berdirinya tak kuasa Dimabuk haru tanpa iba Nafsunya memuncak bara Sang ilahi ikut membela Lewat gardu berguling ria Tanpa melihat lumpur ikut serta Bisiknya tak tahu apa Lainya juga ikut berusaha Dalam rupa sedikit merana Dengan duka seonggok easa Lalu berjalan membela raja Ditepisnya hidung belang muda
  32. 32. Bantal Wajah Muda Karya: Rahayu Nurfitriyani Shalehah Ku tunjuk satu bintang setengah melayang Melingkar bundar panjang membentang Bagaskara malam mengembang melapang Hembus rindu kini menghadang Ku berpilu lewat lagu rindu Bantal wajah mengharu kalbu Semuku juga bertalu-talu Beribu ragu bahkan beradu Halusinasi mengadu jaya Tandanya dunia,mati sementara Geraman gigi,bertanya-tanya Terguyurlah bantal wajah muda Dari kaki langit tanah marah Bersatu bersama gelisah Bantal wajah muda mulai basah Ku hapus pelan dengan gagah
  33. 33. Pesona Alam Tuhan Karya: Regitawati Putri Kala sang surya mulai menutup mata Kicauan burung-burung di atas sana] Deburan ombak di pantai utara Dengan syahdu merdu mengiringinya Lukisan pelangi mewarnai senja Tergores dari selatan ke utara Dari merah hingga jingga Tergambar indah di depan mata Keadaan semakin sepi Semua masih seperti mimpi Aku merasa di alam surgawi Karena Tuhan pencipta alam ini Tuhan..yang Maha Kuasa Tuhan juga..yang menciptakana
  34. 34. Masa Yang Telah Lalu Karya : Regitawati Putri Peluhnya menetes ke tanah Nafasnya terengah-engah Berjalan kea rah tengah Aku panggil dikau ayah Terngiang-ngiang di kepala Tak pernah sanggup jauhnya Tak lupa wangi harum tubuhnya Hangat peluk waktu kecil darinya Masih kurasakan kasihmu Namun tak seindah dulu Ketika aku menangis di pangkuanmu Dan mengingat tawa renyahmu Kini sudah berbeda Tak seperti dulu kala Aku mulai dewasa Mengejar cita cita
  35. 35. CINTA TAK TERBALAS Karya: Rhisda siti nurfalah Awan hitam membawa kegelapan Membendung asa menaruh harapan Jam dan menit silih bergantian Hanya dirimu yang ku simpan Semua kata tanpa nada Semua kata bukan tanpa makna Mulut membisu tanpa kata Namun hati berteriak duka Saat nyata pecundangi angan Hempaskan mimpi dan lamunan Mengiris hati jadi kepingan Saat kau berjalan bergandengan tangan Sesak dada bak air laut karang Tuk bernafaspun butuh ruang lapang Tak sekalipun bibir tersenyum girang Tiada daya menaripun berdendang Genderang perang bertalu Logika mulai menyerbu Hati masih bersikukuh Meski jelas menyandang rapuh Mengagumi laksana membenci Suasana biasa berubah misteri Melepas pandang seperti mencuri Berperang hati dan harga diri Cukuplah melihat kau bahagia Cukuplah hati yang bersuara Cukuplah rindu yang menggema Cukuplah kenangan bercerita Aku lelah dikutuk penyesalan Mencintaimu tanpa ada balasan Aku belajar tentang kehidupan Dari perhitungan hingga ketulusan Aku belajar untuk mengakhiri Tanpa harus menangis dan meratapi Bukan berarti berhenti peduli Tapi berhenti mencintai
  36. 36. Jerapah Karya: Rika Malia Aku berlari kehilangan arah Berlari pergi tak terarah Takut kawanku yang marah Hingga akhirnya masuk ke lembah Masukku ke dalam lembah Temu aku dengan jerapah Lalu aku bertanya pada jerapah Wahai jerapah, aku ini apa? Jerapah, aku ini apa? Dan kawanku itu mengapa? Jerapah diam memapah Memapah diriku yang entah siapa Diriku begitu tersanjung Aku dengar jerapah bersenandung Langit cerah mulai mendung Keajaiban! Alam bersenandung Di ufuk timur, berdiri sang menawan Wajahnya sangat rupawan Pakaiannya serupa bangsawan Yang ternyata seorang kawan Kawan dulu yang padaku marah Kawan dulu yang sempat tarik kerah Hingga aku pergi tak terarah Sampai ku di lembah bersama jerapah
  37. 37. Rintihan Rindu Karya : Santi Nuraeni Di balik bukit yang menggunung Hembusan angin mulai bersenandung Awan hitam pun tak enggan bergabung Rintihan air sudah tak terbendung Kini hati mulai membisu Gejolak dada semakin membelenggu Yang dihantui rasa rindu Terus dibayangi suara rindu Aku berpikir dalam lubuk hatiku Apa kau mengerti perasaanku? Yang tak pernah lelah memikirkanmu Dalam setiap waktuku Detik demi detik terus berlalu Menit demi tak henti berlagu Jam demi jam meninggalkan pilu Mungkin esok aku akan bertemu Walau itu hanya harapan palsu Tak akan ku hapus dari memoriku Karena kau belahan jiwaku Dan tak aka nada yang menggantikanmu Meski sakit kurasakan Meski sakit ku bayangkan Namun takkan kulupakan Karena kau yang kuinginkan
  38. 38. Lilitan Diri Karya: Santi Nuraeni Semua terlihat kelam Saat cahaya itu padam Sinar eloknya tak tergenggam Semua datang hingga menerkam Si bulu manis yang berdiri Getarannya beresonansi Peluh bak es yang meniti Dering langkah bak kemari Bagai rembulan di awan yang berlalu Perasaan dan akalnya terasa gagu Tubuhnya membatu karang yang kaku Meski neuron-neuron terus menyeru Jiwanya seakan terpisah Ujung rambut sampai tanah yang mendesah Langit yang menggeram-geram marah Membuat hatinya semakin gundah Meski rasanya semakin pahit Layaknya papila yang melilit Tetapi si cerdas dendrit Terus menjalarkan meski berderit
  39. 39. Bidadari Dunia Karya : Sarah Sitka Azzahra Melihatnya menitihkan air mata Mendengarnya mengalunkan do’a Merasakan kepedihan hidupnya Memahami kegoyahan batinnya Setiap hembusan nafasnya Setiap ucapan kalimatnya Selalu menunjukkan semangatnya Dihadapan buah hatinya Bagi seluruh hidupnya Buah hati adalah segalanya Terpancar dalam matanya Sakit yang belum ada habisnya Tetapi dengan ketenangan jiwanya Ia mampu meredam emosinya Dan menunjukkan senyum manisnya Dengan harapan suka menantinya
  40. 40. [SYAIR] 2013 Penyesalan Karya:Sinta Fatimah Hidup ini memang penuh tanda Tanya Mengizinkan ku bersuka dalam duka Mengizinkan ku berduka dalam suka Tertekan dalam berbelenggu cerita Ku teiak tanpa suara Ku menangis pun tanpa air mata Semangat pun hilang tak berada Jiwa dalam diri merasuk dada Terlambat aku sadari Tak sempat ku mengerti Resah gulana terasa di hati Tinggalkan luka yang berduri 14Oktober,2013 Berharap cahaya dating dalam gelap Berharap keajaiban dalam lelap Menemani risau dalam harap Menanti ketenangan jiwa meresap Pengalaman pahit jadikan pelajaran Menuntun ku kembali menggapai harapan Biarkan ku hidup tak penyesalan Mengartikan semua menanti kebahagiaan
  41. 41. Bimbang Dalam Rindu Seberkas cahaya menghampiri Seuntai kata tak dapat kuberi Dalam kebimbangan hati Ku ukir di dalam mimpi Setitik embun membasahi Menyejukkan sedihnya hati Sebongkah harapan ini Takkan lenyap dalam diri Sejuta kenangan ku simpan Dalam nyanyian harapan Terlukis dalam impian Tersimpan dalam kerinduan Gejolak hati membelenggu Meledak dalam jutaan rindu Terlebur dalam awan kelebu Kegelisahan telah membeku Bergulung-gulung angan-angan Telah ku petik dalam lamunan Tergambar dalam kepiluan Yang mewarnai kebimbangan Karya : Sintiani
  42. 42. TERUNTUK BIDADARI LAKNAT Karya : Valdy Irawansyah Suwandi Disini ku menanti Tak lelah, resah pun anti Ribuan makna yang berarti Terucap langsung dari hati Namun, sesuatu yang pahit Datang dengan terbirit Memanggilku dengan menjerit Dan membuatku terbelit Kapan pun ku akan ingat Peristiwa yang buatku melarat Hanya sakit yang terpahat Dan kaulah yang membuat Ku telan hari yang kelam Tak siang, terasa malam Ku ingin kau pun suram Layaknya senyummu yang masam
  43. 43. Dirimu Karya : Vina Amalia Apriyanti Mananti di dalam kekosongan Diam membeku tanpa adegan Aku terus berangan-angan Hingga darah ke otak tak beraliran Sekelebat bayanganmu melintas Membuatku sedikit antusias Tapi kenyataan memberantas Hingga air mataku mengalir deras Aku berharap dapat menggapai mu Menggapai mu yang hanya sebuah debu Aku terus menyebut namamu Hingga membuat lidahku kelu Bayangan mu terus menghantuiku Membuatku ingin menyusulmu Tolong bawalah aku bersamamu Bersama dalam dekapanmu
  44. 44. Senandung Rindu Sosok itu bak hiasan di mataku Tatapannya, memacu haiku Melihat senyum simpulmu Bibir ini sangkan terasa kelu Hatiku berbisik ini cinta Tapi logika tak berkata sama Sebuah teka-teki dan rahasia Yang sulit ditemukan jawabannya Rasa ini tak dapat kupahami Semakin tak dapat kumengerti Saat dirimu mulai mengisi hati Gelak tawa mulai menghampiri Sebuah rasa tanpa nama Hadir menumpas segala lara Bagai simfoni dan irama Yang melantunkan nada indahnya Bisikan panggilan rindumu Buat tubuhku menjadi terpaku Hitam, kelam, bahkan kelabu Menyelimuti relung haiku Aku bukan sabit atau purnama Bukan pula bintang atau sinarnya Ku hanya manusia biasa Yang mencoba meraih angannya
  45. 45. Khianat Cinta Sebuah harap yang telah kau hancurkan Bagai gelas kaca pecah berserakan Menyapu bersih indahnya angan Bak terjatuh saat meraih impian Paduan hati dan relungku Nalar serta logikaku Bertanya-tanya tentang dirimu Inikah sebenarnya cintamu? Kuraih air mata di pipiku Benarkah semua ini berakhir pilu? Mana janji cinta tulusmu? Apakah hanya ucapan semu? Asa ku remuk bagai terhimpit Bagai menelan derita pahit Hatiku amatlah sakit Bahkan angan pun telah terjepit Ku sadar ku bukan harapanmu Mungkin, hanya pelampiasan cintamu Bahkan, menjadi beban dalam hidupmu Atau mungkin derita hidupmu Cintaku tulus apa adanya Tapi kau balas dengan dusta Bagai raja yang duduk di singgasana Membuat luka bagi pengawalnya
  46. 46. Harapan Malam sunyi gundah gelisah Ku teringat canda tawa yang menggugah Hari demi hari terkekah Merenungi suatu kisah Detik demi detik berlalu Bagai ombak mengikis batu Sayang seribu sayang telah berlalu Tiada kata ku ucapkan padamu Hanya terdiam berdiam diri Merenungi hari yang ku jalani Ku tak percaya semua ini Begitu cepat kau tanggalkan hati Bagai malam tanpa bulan Tak ada bintang gemerlapan Malam menjadi kerinduan Tanpa ada sosok yang kuharapkan Secercah harapan kau berikan Entah kemana kau tinggalkan Seuntai kata kau ucapkan Untuk diriku yang kesepian Kapankah kau kan datang Ku disini bagai memeluk bintang Begitu berat rasa yang terkekang Hanya impian yang terbelakang Karya : Wulan
  47. 47. Penantian Karya: Yola Oktaviani Mentari baru menampakkan cahayanya Ku ayunkan kaki ku dengan mantapnya Ku melihat sudut angkasa dengan indahnya Tapi berharap bum kembali lagi pada asalnya Kulangkahkan kakiku di ibu kota Merasakan perasaan dengan melata Bayangannya selalu ada dalam mata Berharap kebersamaan selalu merestui kita Kududuk d tengah kesepian yang menunggu Entah siapa yang akan menghiburku Mangaburnya perasaan hatiku Pergi selalu kau dan aku Aku takkan kuat lagi Apa yang mengganggu hatiku lagi? Tak karuan rasa ini Menunggu dirinya sampai mati Dia menatapku dengan kuat Memelukku dengan erat Hilang rasa kesepian Rasa ingin pergi meninggalkan tempat Airmata coba kubendung namun tak bisa Kupeluk erat dia dengan penuh asa Sudah perginya orang yang putus asa Senyumnya membuatku percaya kehadirannya yang ada
  48. 48. Impian Karya : Yusra Aulia Rahmah Kutanam benih-benih mimpi Dilubuk terdalam hati ini Dengan rasa percaya diri Akan kulakukan dengan senang hati Mungkin kedengarannya manis Karena angan-anganku berlapis lapis Tapi jiwa ini menangis Mendengar cibiran dari orang sinis Seribu rintangan akan kulalui Meski badai menghampiri Semangat api takkan berhenti Demi terciptanya semua mimpi Kumenunggu setiap hari Dengan sabar dan mengikhlaskan diri Ditemani kilauan embun pagi Hingga mentari tak terlihat lagi

×