Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

PAPER DWI ANGGA TEGUH SANTOSO

312 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

PAPER DWI ANGGA TEGUH SANTOSO

  1. 1. KEGIATAN LABORATORIUM LINGKUNGAN Oleh : DWI ANGGA TEGUH SANTOSO 1. Pendahuluan Tingkat kualitas lingkungan ditujukan oleh berapa banyak polutan masuk dan tinggal di dalamnya, apakah masih di bawah atau sudah di atas baku mutu. Untuk mengetahui tingkat pencemaran pada lingkungan harus dilakukan pengukuran menggunakan alat yang sesuai dan dilaksanakan oleh petugas bersertifikat. Oleh karena itu peran laboratorium lingkungan sangat penting dalam mempersiapkan alat, operator, dan prosedur yang sesuai standar (SOP), sehingga dapat menghasilkan data yang berkualitas. 2. Deskripsi Pekerjaan Pada Laboratorium Lingkungan a. Melakukan pengambilan sampel ke lapangan b. Melakukan pengujian sampel sesuai jenis sampel dan parameter yang diminta konsumen c. Melakukan pelaporan hasil uji sampel 3. Jenis – jenis Sampel Lingkungan Pembangunan dalam segala bidang begitu pesat di Indonesia, hal tersebut merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Faktor penyebabnya adalah masuknya berbagai limbah gas, limbah cair, dan limbah padat ke dalam lingkungan, hal tersebut menyebabkan pencemaran udara, badan air dan tanah. 3.1 Sampel Udara Ambien dan Emisi Udara ambien merupakan udara bebas dipermukaan bumi pada lapisan toposfir yang berada di dalam wilayah Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehtan manusia, makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainya. Adapun jenis sample yang merupakan rangkaian dari udara ambien yaitu, kebisingan, getaran, pencahayaan, serta kebauan. Limbah gas merupakan salah satu penyebab pencemaran udara. Sumber pencemaran udara dapat dibedakan menurut jenis emisinya yaitu sumber emisi bergerak seperti kendaraan bermotor, dan kendaraan trasnportasi lainnya, serta sumber emisi tidak bergerak seperti pembakaran incinerator, gas buang genset, ataupun buangan dari pembakaran boiler.
  2. 2. 3.2 Sampel Air Pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal bukan dari kemurniannya. Air yang tidak tercemar bukan berarti air murni, namun air tersebut tidak mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi ambang batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat digunakan secara normal untuk keperluan tertentu, seperti air minum dan industri. Ada beberapa jenis sampel air, yaitu air limbah (AL), air bersih (AB), air minum (AM), badan air penerima (BAP), dan air tanah (AT). Air limbah yaitu sisa dari suatu usaha atau kegiatan yang berwujud cair. Berdasarkan sumbernya air limbah dapat dibedakan menjadi, limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limbah rumah sakit. Air bersih merupakan air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Serta air minum merupakan air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Badan air penerima adalah badan air yang diperkirakan menerima cemaran dari lingkungan sekitar, dari industri maupun domestik. Sedangkan air tanah merupakan sejumlah air dibawah permukaan bumi yang dapat dikumpulkan dengan sumur dilengkapi pompa. Sample air tanah biasanya digunakan sebagai kontrol air disekitar lahan tercemar oleh bungan limbah yang berasal dari kolam Land Application. 4. Pemantauan (Sampling) Prosedur sampling yang tepat merupakan bagian penting dari suatu survei untuk mengkaji kualitas bahan pencemar dan untuk mengetahui apakah telah memenuhi bahu mutu. Sebuah sampel yang tidak benar cara pengambilannya, penyimpanannya, transportasinya atau indentifikasinya akan menghasilkan data yang tidak akurat, walaupun dianalisis oleh laboratorium yang mempunyai presisi baik. 4.1 Pengambilan Sampel Udara Ambien Prinsip dari pengambilan sampel udara ambien adalah penentuan lokasi pengabilan contoh uji, yang perlu diperhatikan dikarenakan data yang diperoleh harus dapat mewakili daerah yang sedang dipantau, dan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Hal pertama dalam pengambilan sample udara ambien adalah penentun lokasi pengambilan sampel. Dalam penentuan lokasi, yang perlu diperhatikan adalah bahwa data yang diperoleh harus dapat mewakili daerah yang sedang dipantau, yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan, adapaun syarat pemilihan lokasi pengambilan sampel udara ambien : a. Hindari tempat yang dapat merubah konsentrasi akibat adanya absopsi, atau adsopsi (seperti dekat gedung atau pepohonan).
  3. 3. b. Hindari tempat dimana pengganggu kimia terhadap bahan pencemar yang akan diukur dapat terjadi, (emisi dari kendaraan bermotor yang dapat mengotori pada saat pengukuran ozon, amoniak dari pabrik refrigerant yang mengotori pada saat mengukur gas-gas asam). c. Hindari tempat dimana pengganggu fisika dapat menghasilkan suatu hasil yang mengganggu pada saat mengukur debu, tidak boleh dekat dengan incinerator baik domestik maupun komersil, gagguan listrik terhadap peralatan pengambil sampel. d. Letakkan peralatan di daerah dengan gedung atau bangunan yang rendah dan saling berjauhan. e. Apabila pemantauan bersifat terus menerus (kontinyu) makan pemilihan lokasi harus mempertimbangkan perubahan kondisi peruntukan pada masa datang. Dalam pengukuran kualitas udara dengan menggunakan metode dan peralatan yang manual, terlebih dahulu dilakukan sampling yang dilanjutkan dengan analisa di laboratorium. Teknik pengumpulan sampel udra ambien yang digunakan untuk menangkap das diudara ambien adalah teknik adsorpsi. Teknik adsorpsi merupakan teknik pengumpulan gas berdasarkan kemampuan gas pemcemar terabsopsi/bereaksi dengan alrutan pereaksi yang spesifik (larutan absorben). Pereaksi yang digunakan harus spesifikasi atinya hanya dapat bereaksi dengan gas pencemar tertentu yang akan dianalisa. Untuk menagkap kadar gas- gas berbahaya secara konvensional, menggunakan sampling udara dengan impinger.
  4. 4. Peralatan impinger secara keseluruhan terdiri dari : a. Pompa vakum : dibuat dengan sistem vibrasi ganda yang tahan korosi. Kecepatan hisap stabil dan dapat diatur dengan potensiometer. b. Tabung impinger : tempat reaksi antara kontaminan uadara dengan larutan penangkap. Dapat lebih dari satu tabung. c. Moisture adsorber : tabung berisi bahan penyerap uap untuk melindungi pompa dari korosi. d. Flow meter : alat pengukur kecepatan aliran udara dengan metode bubble flow. Yang menjadi satu rangkaian dalam pengambilan sampel udara ambien adalah pengmbilan sampel debu (partikulat). Penggambilan debu dikukan dengan pompa vakum dan kertas saring yang sudah diketahui berat awalnya untuk kemudian ditimbang sebagai berat akhir dan selisihnya dinyatakan sebagai kadar debu.Berikut rangkaian kegiatan sampling udara ambien terlihat pada gambar dibawah ini : 4.2 Pengambilan Sampel Emisi Pemilihan lokasi paling sedikit delapan kali diameter cerobong dari aliran bawah dan dua kali diameter dari aliran atas, dan bebas dari gangguan aliran seperti belokan, pelebaran atau penyempitanaliran cerobong. Adapun pesyaratan cerobong dan lubang pantau yang harus dienuhi : a. Lubang sampling harus terletak di 8 kali diameter dari bawah atau 2 kali diameter dari atas b. Banyak lubang pantau paling sedikit 2 buah c. Lubang pantau minimal memiliki ukuran diameter 10 cm, dan terdapat penutup
  5. 5. d. Tersedia tangga yang aman untuk petugas pengambil contoh naik cerobong e. Tersedia platform / tempat kerja yang aman untuk petugas pengambil contoh 4.3 Pengambilan Sampel Air Tujuan dari pengambilan sampel air yaitu Untuk mendapatkan sampel yang representative, mengukur jumlah kontaminan dalam sampel dan untuk memberikan gambaran keadaan air tersebut. 4.3.1 Persyaratan Alat Pengambilan Sampel air Alat pengambilan contoh harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat sampel b. Mudah dicuci dari bekas sampel sebelumnya c. Sampel mudah dipindahkan ke dalam botol penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya d. Kapasitas alat 1 – 5 liter tergantung dari maksud pemeriksan e. Mudah dan aman dibawa 4.3.2 Jenis Alat Pengambilan Sampel Air Beberapa jenis alat pengambilan sampel yang dapat digunakan meliputi : a. Alat pengsmbilan sampel sederhana berupa : 1. Botol biasa atau ember plastic yang digunakan pada permukaan air secara langsung 2. Botol biasa yang diberi pemberat yang digunakan pada kedalaman tertentu b. Alat pengambilan sampel mendatar, digunakan untuk mengambil sampel air sungai atau tempat yang airnya mengalir pada kedalaman tertentu c. Alat pengmbilan sampel secara tegak, digunakan untuk mengambil sampel pada lokasi yang airnya tenang atau aliranya lambat seperti danau, waduk dan muara sungai pada kedalaman tertentu d. Alat pengambilan sampel pada kedalaman terpadu, digunakan untuk memeriksa zat padat tersuspensi atau untuk mendapatkan contoh yang mewakili semua lapisan air e. Alat pengambilan sampel secara otomatis yang dilengkapi alat pengatur waktu dan volume yang diambil, digunakan untuk sampel gabungan waktu dari sampel yang tercemar agar diperoleh kualitas air rata-rata selama periode tertentu f. Alat pengambilan sampel untuk pemeriksaan gas terlarut yang dilengkapi tutup, sehingga alat dapat ditutup setelah terisi penuh g. Alat pengambilan sampel plankton berupa jarring berpori dengan ukuran pori 173 mesh/inci h. Alat pengambilan sampel untuk pemeriksaan benthos disesuaikan dengan jenis habitat hewan benthos yang akan diambil, beberapa contoh alat pengambilan sampel benhos :
  6. 6. 1. Eckman grab, dibuat dari besi baja dengan berat ± 3,2 kg dengan ukuran 15 x 15 cm, digunakan untuk pengambilan sampel pada sumber air yang aliranya relative kecil dan memiliki dasar berlumpur dan pasir 2. D-net terbuat dari benan nilon yang ditenun, digunakan pada perairan dangkal 5. Pedoman Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Berdasarkan KAN G-16 K3 merupakan pengetahuan dan penerapan guna mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja. 5.1 Manajemen K3 Laboratorium a. Laboratorium menerapkan kebijakan dan prosedur K3 serta menjamin komitmen terhadap penerapannya b. Menetapkan personil yang bertanggung jawab terhadap penerapan K3 di laboratorium c. Menetapkan perencanaan dan pemeliharaan fasilitas K3, simulasi K3, pelatihan K3, dan pemeriksaan kesehatan terhadap tenaga kerja d. Melakukan evaluasi penerapan K3 di laboratorium e. Memelihara rekaman kegiatan K3 di laboratorium 5.2 Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium 5.2.1 Informasi dan Komunikasi K3 Laboratorium harus memiliki system informasi dan komunikasi K3 untuk semua personil laboratorium. a. Informasi bahaya 1. Lembar data keamanan bahan kimia atau Material Safety Data Sheet (MSDS) ataupun dalam bentuk lain yang lebih praktis seperti poster dari prosedusen bahan kimia atau label karakteristik bahan yang berfungsi sebagai informasi acuan untuk menangani langsung dan mengelola bahan kimia berbahaya di laboratorium. 2. Contoh informasi berdasarkan ranking bahaya tercantum pada table dibawah ini : Rangking Bahaya Kesehatan Bahaya Kebakaran Bahaya Reaktivitas 4 Penyebab kematian, cidera fatal meskipun ada pertolongan Segera menguap dalam keadaan normal dan dapat terbakar secara cepat Mudah meledak atau diledakkan, sensitive erhadap panas 3 Berakibat serius pada keterpaan Cair atau padat dapat dinyalakan Mudah meledak tetapi memerlukan
  7. 7. singkat, meskipun ada pertolongan pada suhu biasa penyebab panas atau tumbukan kuat 2 Keterpaan intensif dan terus menerus berakibat serius, kecuali ada pertolongan Perlu sedikit ada pemanasan sebelum bahan terbakar Mudah meledak tatapi memerlukan penyebab panas dan tumbukan kuat 1 Penyebab iritasi atau cidera ringan Dapat terbakar tetapi memerlukan pemanasan Stabil pada suhu normal dan tidak meledak 0 Tidak berbahaya bagi kesehatan meskipun terkena panas Bahan tidak dapat dibakar sama sekali Stabil, tidak reaktif meskipun terkena panas atau suhu tinggi b. Komunikasi Bahaya 1. Memasang sensor bahaya atau alarm di lokasi yang mudah menimbulkan bahaya 2. Memasang symbol lokasi-lokasi tertentu yang berkaitan dengan bahan kimia yang beracun dan berbahaya 5.3 Fasilitas Keselamtan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium a. Safety shower Persyaratan safety shower, antara lain : 1. Memiliki kualitas air yang bagus 2. Safety shower harus dapat beroperasi dan memiliki aliran air yang konstan 3. Letak safty shower harus mudah dijangkau
  8. 8. b. Bak cuci Laboratorium harus memiliki bak cuci, selain digunakan untuk mencuci peralatan gelas laboratorium dapat juga digunakan ketika pekerja terkena bahan kimia pada kulit. c. Lemari asam Persyaratan lemari asam, antara lain : 1. Bersih di bagian dalam 2. Saluran gas harus tahan panas 3. Pastikan fungsi pintu tidak mudah jatuh 4. Pada kondisi tertutup semua bagian berfungsi 5. Sesuai dengan spesifikasi sifat bahan kimia yang digunakan d. Eye wash
  9. 9. Persyaratan eye wash, anatara lain : 1. Eye wash harus dapat beroprasi dan memiliki aliran air yang konstan 2. Dapat diatur sehingga tepat pada posisi mata 3. Kualitas air sama bagus e. Exhaust fan Exhaust fan disarankan digunakan pada ruangan tertentu seperti ruang preparasi atau ruang penyimpanan bahan kimia. f. Pemadan kebakaran Alat pemadam api ringan (APAR) adalah suatu pemadam kebakaran yang berisi media pemadam kebakaran yang dikeluarkan melalui tekanan dari dalam tabung melalui pompa yang tersedia. APAR ini harus diletakan pada lokasi-lokasi yang dimungkinkan dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Dalam penempatanya APAR harus mudah dan terjangkau apabila akan digunakan dalam keadaan darurat. g. Petunjuk arah keluar ruangan Merupakan tanda yang dapat memberikan informasi bagi pekerja laboratorium untuk keluar dengan aman dan selamat ketika terjadi bahaya. h. Perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Obat-obatan minimal yang wajib ada di laboratorium diantaranya obat luka bakar, plester luka, kapas antiseptic, kain kasa, dan lainnya. 5.3 Penanggulangan Tanggap Darurat a. Penanggulangan tanggap darurat bila terkena bahan kimia 1. Jangan panic 2. Mintalah bantuan rekan yang berada paling dekat 3. Bersihkan bagian yang mengalami kontak lagsung dengan bahan kimia 4. Bila kulit terkena bahan kimia, jangan digaruk agar tidak tersebar 5. Bawa ketempat yang cukup oksigen 6. Hubungi petugas medis b. Penanggulangan tanggap darurat bila terjadi kebakaran 1. Jangan panic 2. Ambil alat pemadam kebakaran sesuai dengan jenis kebakaran 3. Beritahu teman terdekat 4. Bunyikan alarm 5. Hindari menggunakan lift
  10. 10. 6. Hindari menghirup asap secara langsung 7. Tutup pintu untuk menghambat api membesar 8. Hubungi petugas pemadam kebakaran 6. Pedoman Teknis Pengolahan Limbah Laboratorium Berdasarkan KAN G-15 6.1 Manajemen Pengolahan Limbah Laboratorium a. Laboratorium menetapkan kebijakan dan prosedur pengolahan limbah b. Laboratorium memiliki kebijakan untuk meminimalisasi limbah sebelum menghasilkan dan mengolah limbah c. Menetapkan personil yang bertanggung jawab pada penerapan prosedur pengolahan limbah d. Menetapkan perencanaan pengadaan dan pemeliharaan fasilitas prosedur pengolahan limbah e. Melakukan evaluasi penerapan prosedur pengolahan limbah 6.2 Syarat Wadah Penyimpanan Limbah a. Dalam kondisi yang baik b. Tempat penyimpanan limbah memiliki kapasitas minimal 25 liter c. Mampu mengamankan limbah yang disimpan di dalamnya d. Diberi symbol sesuai karakteristik limbah e. Memiliki penutup yang kuat 6.3 Persyaratan Ruang penyimpanan Limbah a. Memiliki rancang bangun dan luas ruang yang sesuai dengan limbah yang dihasilkan b. Terlindungi dari msuknya air hujan c. Dibuat tanpa plafon, memiliki penghawaan yang memadai d. Memiliki sistem penerangan yang memadai e. Pada bagian luar diberi simbol f. Lantau harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan tidak retak
  11. 11. DAFTAR PUSTAKA Dokumen KAN G – 15 Tentang Pengolahan Limbah Laboratorium Dokumen KAN G – 16 Tentang K3 di Laboratorium SNI 6989.57:2008, Air dan Limbah – Bagian 57 : Metode Pengambilan Contoh Air Permukaan SNI 6989.58:2008, Air dan Air Limbah – Bagian 58 : Metode Pengambilan Contoh Air Tanah SNI 6989.59:2008, Air dan Air Limbah – Bagian 59 : Metode Pengambilan Contoh Air Limbah SNI 19-7119.6:2005, Udara Ambien – Bagian 6 : Penentuan Lokasi Pengambilan Contoh Uji Pemantauan Kualitas Udara Ambien

×