Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

EYESEEPHOTOPAGE#1

Majalah bulanan elektronik fotografi. Unduh gratis, bagikan gratis. Penerbit EYESEESTUDIO Bandung

  • Be the first to comment

EYESEEPHOTOPAGE#1

  1. 1. NO.1 FEBRUARI 2015 www.eyeeephotopage.com Review: Lensa Canon 55mm 1.8 Lampu Flash Slave Air sebagai property Hasselblad Master: Hans Neleman Q&A fotografi Tutorial: Backlight Portfolio: Bagaskoro Adimasputro Syarif Syahab Firdaus Andhika P. Darise Christian Lukman Fokus:Kanisius Surya
  2. 2. unduh gratis di www.eyeseephotopage.com dan bagikan gratis 1 EYESEEPHOTOPAGE
  3. 3. KONTEN Fokus: Kanisius Surya Portfolio Bagaskoro Adimasputro Syarif Syahab Firdaus Andhika P. Darise Christian Lukman Air Sebagai Property Hasselblad Master: Hans Neleman Tutorial: Backlight Lampu Flash Slave Lensa Canon 55mm 1.8 Q&A Monika Priscilia Brief Rekomendasi 10 14 20 22 26 30 32 34 36 40 42 FOTOGRAFER:KANISIUSSURYA 2
  4. 4. 3 “What i like about photographs is that they capture a moment that’s gone forever, impossible to reproduce.” - Karl Lagerfeld - FOTOGRAFER:KANISIUSSURYA
  5. 5. REDAKSI Founder/Editor Hermawan Wicaksono Desain Grafis Hermawan Wicaksono Kontributor Eyesee Photo Class Penerbit Eyesee Studio Kontak EYESEESTUDIO KOMPLEK CIPTA GRAHA BLOK D.6 GUNUNG BATU-BANDUNG PHONE/SMS/WA: 0815 713 6534 EMAIL: hermawan.wicaksono@yahoo.com Donasi BCA a/n Hermawan Wicaksono No Acc: 233-240-1433 EYESEEPHOTOPAGE menerima tulisan yang berhubungan dengan fotografi. Tulisan akan dimuat setelah melalui proses editing tanpa mengurangi maksud tulisan. Dilarang mereproduksi sebagian atau keseluruhan isi majalah ini dalam segala bentuk tanpa izin penerbit. Dilarang mengkomersialkan majalah ini. Bagikan secara cuma-cuma. Mari belajar bersama untuk karya fotografi yang lebih baik. WHAT YOU GET IS NOTHING WHAT YOU SHARE IS SOMETHING Motor adalah tempat dimana saya bisa mendapatkan banyak ide. Biasanya dalam perjalanan saya sering berpikir tentang ‘WHAT NEXT ?’. Tahun 2002, setelah menyandang gelar sarjana ekonomi saya mulai berpikir untuk menciptakan my own business. Dan mulailah saya menjual jasa sebagai visual desainer. Mengerjakan proyek desain grafis, video, dan juga fotografi. Pada tahun 2009 saya mendapatkan kontrak dengan salah satu agensi foto di New York, USA. Sejak saat itu saya mulai megerjakan proyek foto untuk keperluan editorial, ilustrasi, iklan di banyak negara di dunia. Tahun 2011 saya menulis 2 buku tutorial fotografi yang diedarkan secara nasional, tentang portrait dan still life. Di tahun 2013 saya membagikan tutorial fotografi di beberapa grup fotografi online. Pada tahun 2014 saya bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung membuat kelas foto gratis di Bandung. Dan pada tahun 2015,...akhirnya saya mengeluarkan majalah elektronik fotografi yang bisa diunduh secara gratis. Kenapa gratis?..banyak yang mau belajar tapi banyak keterbatasan, dan saya pernah mengalami keterbatasan itu. Bercermin dari keadaan itu, muncullah ide ‘gratisan’ ini. Saya ucapkan terima kasih buat teman-teman yang sudah membantu memberikan kontribusi yang juga gratisan. Di awal terbit ini, saya akan membahas tentang apa saja ruang lingkup kerja fotografer, ada juga fotografer pilihan, dan beberapa portfolio teman-teman fotografer. Saya juga akan memberikan review tentang lensa, slave flash, dan menggunakan air sebagai property. Di bagian master, saya akan memperkenalkan Hans Neleman. Mengapa Hasselblad Master? karena para pengguna Hasselblad adalah para fotografer kelas dunia, dan kita akan belajar dari mereka. Selain itu saya juga akan memperkenalkan seorang tamu yang suka difoto. Apa lagi ya?...silahkan buka dan nikmati edisi pertama EYESEEPHOTOPAGE kali ini. Hermawan Wicaksono Model Annisa Anandita Fotografer Kanisius Surya Lokasi Dago Resort, Bandung Denique Photography ©2014 4
  6. 6. 5
  7. 7. 6 ISU Secara umum fotografer adalah seseorang yang bekerja memberikan jasa fotografi, biasanya melalui tahapan proses: bertemu klien, mengambil gambar, mencetak, memberikan gambar tersebut kepada klien, dan mendapatkan bayaran atas jasa tersebut. Tetapi saat ini ruang lingkup pekerjaan fotografer bukan hanya itu saja. Dunia digital membawa perubahan besar terhadap perkembangan fotografi itu sendiri. Setiap orang bisa dengan mudah memotret. Tidak perlu perlengkapan mahal, tidak perlu tahu teknik fotografi, komposisi, dan sebagainya. Semua bisa dilakukan dengan instan. Hanya dengan menggunakan smart phone maka seseorang bisa menciptakan foto, mengedit foto tersebut, dan membagikannya di dunia maya. Dimanakah fotografer yang ‘sebenarnya’?, yang harus berinvestasi besar untuk mendapatkan alat, yang harus sekolah atau setidaknya mengetahui teknik komposisi seni rupa?, dimanakah klien yang rela antri menunggu hanya untuk sebuah pas foto 3x4?, dimanakah klien yang harus berhari- hari baru kembali menemui si fotografer untuk mengambil hasil? Semua berangsur hilang. Apakah si fotografer juga hilang? jawabannya tergantung sejauh mana si fotografer bisa beradaptasi dengan lingkungannya dan mempengaruhi lingkungan tersebut. Saya masih menemui fotografer yang memiliki klien yang setia walaupun si klien punya smart phone canggih. setidaknya hal itu menandakan masih ada ‘pasar’ si fotografer. Dan saya juga pernah mengalami saat-saat harus berdaptasi dengan muculnya para fotografer dadakan bermodal smart phone atau DSLR mahal yang mau motret tanpa dibayar.
  8. 8. Foto Komersial Model ini adalah model paling konvensional. Kita memotret kemudian dibayar. Dulu kita mengenal istilah 'fotografer keliling'. Konsep fotografer komersial tidak jauh beda dengan fotografer keliling. Komersil artinya melakukan sesuatu/memberikan jasa fotografi untuk dibayar. Kita menawarkan jasa foto dan klien membayar. Jasa yang diberikan bisa foto portrait perorangan atau keluarga, foto pernikahan, foto produk, dan jenis pemotretan lainnya. Besarnya bayaran yang kita dapatkan tergantung dari klien kita dan ‘siapa’ kita di mata klien. Tahun 2002 saya mulai menawarkan jasa foto komersial. Klien pertama saya adalah tetangga depan rumah saya. Dan saya dibayar untuk itu. Saya merasa lebih beruntung karena di tahun itu belum banyak orang yang memiliki kamera (apapun bentuknya). Tetapi dengan banyaknya orang yang memiliki kamera maka kita sebagai fotografer juga harus dapat membuat strategi. Kita bisa memulainya dengan memotret orang- orang terdekat kita. Mulailah dengan meminta mereka menjadi model kita. Bisa dengan metode TFP (Trade For Print) atau TFCD (Trade for CD). TFP artinya kita memotret si objek (model) dan kita memberikan foto dalam bentuk cetak. Foto yang dicetak tetap selalu lebih berkenan dibanding hanya data digital, tujuan pemberian foto ini untuk memperluas karya kita dilihat orang lain. Makin luas makin bagus, makin besar kemungkinan jasa kita digunakan. TFCD artinya kita hanya memberikan data digital ke si objek foto. Foto komersil menuntut kita bertemu lebih banyak pengguna jasa kita secara langsung. Untuk itu dibutuhkan kemampuan dalam bertingkah laku. Bukan hanya sebatas menguasai perlegkapan dan konsep tetapi harus mengetahui psikologi klien. Seorang klien yang puas dengan pekerjaan kita akan mengajak klien yang baru, tetapi kekecewaan klien juga akan berdampak sangat buruk bagi kita. Kita pernah memotret 'iseng', semua kita potret? Kemanakah hasil foto tersebut? Apakah hanya disimpan saja? Tahukah bahwa foto yang dihasilkan itu bisa menghasilkan uang? Adalah stock photo agency yang bisa menampung kemudian menjual foto-foto tersebut. Kita bisa memotret pemandangan, atau konsep-konsep foto untuk naskah presentasi seperti orang berjabatan, dan sebagainya. Ada ratusan stock foto agency di internet. Tetapi tidak semua agensi itu bagus. Setiap agensi memiliki aturan yang berbeda. Dari persyaratan teknis foto hingga pembayaran. Untuk masuk ke agensi foto stock biasanya dilakukan ujian secara tertulis, rekomendasi, atau bisa juga dengan mengirim beberapa portfolio ke agensi tersebut, kemudian agensi melakukan penilaian. Agensi fotografi adalah perantara fotografer dengan pihak-pihak yang membutuhkan foto yang kita hasilkan, seperti agensi periklanan, majalah, media online, dan sebagainya. Setelah kita lolos ujian, tahap selanjutnya kita akan dibimbing untuk teknis, seperti komposisi, teknis perlengkapan foto (kamera, lampu, dsb), dan yang paling penting adalah kemampuan fotografer untuk merubah bahasa tulisan menjadi bahasa gambar. Fotografer juga harus dapat melihat trend foto apa saja yang laku untuk di pasaran. Setelah foto kita dibeli pihak ketiga maka agensi akan melakukan pembayaran. Tahun 2009 saya masuk ke sebuah agensi fotografi yag berlokasi di New York. Saya tinggal di Indonesia, tetapi lewat internet saya bisa bertemu banyak klien di dunia ini dengan perantara (agensi). Untuk masuk ke agensi tersebut saya tidak mengirimkan portfolio atau ikut ujian. Saya masuk lewat rekomendasi teman yang pernah magang di agensi Foto Stock 7
  9. 9. 8 tersebut. Networking memiliki pengaruh yang besar dalam kemajuan kita berkarya. Dan saya sebutkan lagi, internet sangat membantu proses (networking) tersebut. Foto stock tidak dapat meghasilkan uang dalam waktu cepat. Tidak seperti foto komersil yang setelah motret langsung dibayar. Foto stock adalah investasi jangka panjang. Setelah satu tahun saya baru mendapat hasil dari apa yang saya kerjakan. Semakin banyak kita mengirim foto, semakin besar kemungkinan foto kita diterima dan semakin besar juga pendapatan kita. Kita bisa membuat buku fotografi. Buku tersebut bisa tutorial fotografi, bisa juga perjalanan ke suatu tempat, atau bisa juga kumpulan portfolio. Dalam hal ini kita bisa mencari penerbit. Bisa dimulai dengan mengirimkan naskah ke penerbit yang dituju. Bisa juga mencetak dan menerbitkannya sendiri. Atau membagikannya secara gratis di internet dalam bentuk majalah/ buku elektronik. Untuk di Indonesia sendiri sudah banyak fotografer yang menerbitkan buku foto. Isi dari buku foto tersebut bisa portfolio atau kumpulan artwork, atau berisi tutorial. Bila kita hanya memiliki sedikit karya untuk masuk ke dalam satu buku, kita bisa meminta partisipasi fotografer lain untuk ikut. Contoh, ketika kita ingin menerbitkan buku tentang ‘macro’, sementara foto macro karya kita hanya sedikit, maka kita bisa meminta fotografer lain untuk memberikan foto macronya kepada kita. Dalam membuat buku, bukan hanya foto saja yang diperhatikan, tetapi sudah lebih luas. Buku adalah gabungan dari karya grafis, sastra, fotografi, dan desain produk. Dalam menciptakan sebuah buku, keempat sisi tersebut harus diperhatikan. Konten yang bagus harus didukung dengan tata letak yang bagus juga. Selain itu, buku yang diterbitkan harus memiliki daya jual. Penerbit tidak akan menerbitkan buku yang sepertinya tidak laku di pasaran. Untuk itu fotografer harus bisa juga melihat kebutuhan pasar. Tahun 2011 saya mendapat kontrak dengan Elexmedia Komputindo untuk menerbitkan buku. Awalnya saya hanya membuat buku tutorial fotografi yang nantinya akan saya bagikan gratis dalam bentuk pdf. Tetapi kembali lagi saya berpikir untuk mencoba memasukkan materi saya ke penerbit. Materi yang saya masukkan sudah dalam bentuk siap cetak. Maksudnya, sudah lengkap foto, teks, dan rancang grafisnya. Tahap berikut adalah brain storming antara penerbit dan penulis buku, menyangkut teknis penerbitan buku. Penulis akan mendapat royalti dari setiap buku yang laku terjual. Kembali, uang bukan yang utama. Networking dan level kita sebagai fotografer sudah pasti akan bertambah. Seorang fotografer bisa dikatakan mahir, jika dia sudah mengeluarkan buku. Tingkat kemahiran tersebut tidak sampai di situ tetapi juga sejauh mana buku tersebut didistribusikan, nasional bahkan internasional. Pameran adalah ’konser’ bagi fotografer. Waktunya fotografer menunjukkan karyanya. Dalam pameran kita bisa mengundang tamu untuk datang. Tamu-tamu ini adalah peminat fotografi yang bisa membeli foto kita ataupun melihat karya kita. Buku Foto Pameran Foto Kita bisa memulai pameran dengan menentukan konsep pameran. Misalnya konsep 'lompat'. Kita bisa memotret para selebriti sedang melompat. Kemudian mencetak dan memamerkannya. Selanjutnya kita bisa menyewa galeri atau tempat umum lainnya untuk memajang karya terssbut, sehingga orang lain melihat dan tertarik untuk membelinya. Pameran membutuhkan biaya yang besar, seperti layaknya konser. Untuk meminimalisir biaya, kita bisa mengajak fotografer lain untuk ikut dalam pameran kita atau mencari sponsor. Foto komersil menuntut kita bertemu lebih banyak pengguna jasa kita secara langsung. Untuk itu dibutuhkan kemampuan dalam bertingkah laku.
  10. 10. Foto Hunting Banyak para fotografer pemula menyukai acara ini 'foto hunting'. Foto hunting menjadi ajang pertemuan sesama fotografer, fotografer dengan model, atau pihak-pihak lain yang berkepentingan. Dalam foto hunting kita bertugas sebagai event coordinator. Bisa dimulai dengan penentuan konsep. Pemilihan konsep sangat penting, pilihlah konsep yang banyak diminati fotografer. Biasanya foto hunting dengan konsep 'sexy' banyak sekali peminatnya. Setelah penentuan konsep, kita bisa mencari lokasi acara pemotretan, mencari model, make up artist, wardrobe, dan yang tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi/promosi acara. Acara foto hunting melibatkan banyak pihak, untuk itu kita harus menjalin kerjasama agar semuanya mudah terkoordinasi. Pihak-pihak yang terkait (fotografer, model, make up artist, desainer kostum) bisa sailng memberikan bantuan. Kita bisa memungut biaya pendaftaran dari para peserta. 9 Kelas Foto Semakin banyaknya orang yang ingin belajar foto membuat semakin banyak juga fotografer menawarkan kelas atau kursus singkat fotografi, ada juga kursus dengan sertifikat. Ada yang berbayar ada juga yang gratis. Materi pengajaran bisa dari fotografi dasar sampai level profesional. Pada tahap ini kita pasti bukan fotografer sembarangan, karena sudah bisa membagikan ilmu kepada orang lain, dan lebih lanjut bisa mempertanggung jawabkan ilmu tersebut. Kelas foto bisa dimulai dengan membuat sebuah komunitas belajar foto bersama, bisa online dan juga offline. Membagikan ilmu kepada orang lain tidak ada ruginya. Semakin banyak kita membagi ilmu, maka semakin kita menguasai ilmu tersebut. Januari 2014 saya memulai kelas foto offline di Bandung. Sebelumnya saya membagikan tutorial gratis secara online. Kelas foto ini diadakan setiap Senin di Taman Fotografi Bandung. Sampai saat ini kelas masih bebas biaya. Selain di taman, kelas juga diadakan di studio untuk pembahasan studio lighting. Setidaknya ada 6 bidang pekerjaan fotografer yang bisa dilakukan. Dunia fotografi sangat luas, 6 bidang ini hanya uraian singkat. Lebih jauh mari kita belajar, jangan menunggu harus ini, harus itu, karena tanggung jawab yag besar bermula dari kemampuan bertanggung jawab dalam hal yang kecil. Membagikan ilmu kepada oranglain tidakada ruginya.Semakin banyakkita membagiilmu,maka semakin kita menguasaiilmu tersebut. PENULIS: HERMAWAN WICAKSONO FOTO: DOKUMENTASI EYESEE PHOTO CLASS
  11. 11. 10 FOKUS “sebelum anda memilih untuk menjadi seorang fotografer, milikilah etika” -Kanisus Surya- Pertemuan kami bermula di kelas foto gratis di Bandung. Surya adalah murid saya dan dengan bangga saya pilih dia sebagai fotografer fokus di edisi perdana ini. Fotografer yang memiliki lensa warna biru dan gak bisa fokus kalau harus motret objek warna hijau. FOTOGRAFER: KANISIUS SURYA Halo om Surya, bisa perkenalkan diri? Pertama, perkenalkan nama saya Kanisius R Surya, dan biasa dipanggil surya atau mungkin orang orang terdekat saya suka memanggil dengan julukan abang. Kok abang? bukan karena saya orang batak yang pasti, cuma pada jaman SMA saya mungkin sering menjadi tempat sampah saudara-saudara saya, saudara disini adalah teman yang sangat dekat, tetapi saya menyebut nya saudara. Dan pada saat itu saya memiliki seorang adik angkat yang memanggil saya abang untuk pertama kali, dan dari situ orang orang terdekat saya suka memanggil saya abang.
  12. 12. 11 Pertanyaan standar, kenapa suka fotografi? awalnya gimana? Sebenarnya berawal dari iseng, kemudian menjadi benar-benar suka. Sudah lama saya suka fotografi, tetapi baru di awal 2010 untuk pertama kalinya saya punya DSLR pertama saya,dan kalau boleh berbicara merk, DSLR pertama adalah canon 1000D. Dan satu hal yang membuat saya suka dengan fotografi itu, lewat foto kita dapat menumpah kan setiap rasa yang kita rasakan. Rasa disini yang saya maksud adalah feel nya, bagaimana dengan foto yang sederhana, tetapi bisa menceritakan perasaan si objek yang kita foto, atau bagaimana dengan foto yang sederhana, kita dapat menyampaikan sebuah pesan bagi yang menikmati foto tersebut. Kalo tadi udah bahas soal sukanya,..sekarang dukanya apa nih? Membuat ide yang sering kali menjadi kendala, apa lagi benar benar membuat sebuah karya foto yang original, bukan sekedar ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) itu salah satunya, salah duanya adalah pungli atau pungutan liar. Sering kali saya temui saat saya ingin foto di tempat-tempat publik, ada saja oknum oknum yang selalu berbicara, “apa sudah ada ijin foto disini”, dll. yang ujung ujung nya adalah duit. Sulit bagi saya, karena saya bukan orang yang lahir dalam keluarga yang berkecukupan, dan kedua itu adalah tempat publik, mengapa kita sebagai warga tidak boleh memanfaat kan nya, padahal kita hanya pakai untuk foto, bukan untuk hal hal negatif. Mulai belajarnya gimana? oh yah, saya mengenal fotografi secara otodidak dan jarang sekali saya bertanya, karena saya pun bingung, harus betanya pada sapa, dan karena keadaan ekonomi yang seadanya, yang tidak memungkin kan saya untuk mengikuti kelas-kelas fotografi premium alias berbayar. Karena itu saya lebih banyak belajar dan mencari tahu sendiri, dan saya bangga akan hal itu. Mungkin saya tidak memiliki banyak sertifikat, karena bagi saya sertifikat hanyalah sebuah kertas, tidak lebih.
  13. 13. Kalau gitu, fotografer yang hebat itu seperti apa? Bila ditanya apakah saya seorang fotografer profesional atau saya adalah fotografer yang hebat, saya hanya bisa bilang saya hanya seorang fotografer jalanan, karena dari jalananlah awal saya belajar fotografi, dan masalah profesional atau hebat, itu ga penting, karena bagi saya, menjadi seorang fotografer yang terpenting adalah memiliki etika dan jam terbang tentu nya. tetapi tidak semata mata dengan memiliki semua itu bisa dikatakan fotografer yang hebat, atau profesional. Jadi yang bisa memaksimalkan keterbatasan ya? Iya, karena itu, saya mencoba membuat studio foto sendiri, sebenarnya bukan studio juga,lebih layak disebut sebuah gubug, bermodal kan dari sebuah ruangan kosong, dan barang barang yang saya punya. dari peralatan yang seadanya, bagaimana bisa membuat sebuah karya foto yang maximal. Karena bagi saya pribadi foto yang bagus itu, bukan dilihat dari apa saja alat yang dipakai, melainkan foto yang bagus adalah foto yang memiliki feel yang sangat dalam, dan untuk mendapat kan feel tersebut, saya pribadi harus bisa mengarahkan si model untuk mengerti dan apa bila perlu, masuk kedalam peran yang ingin di tampilkan dalam foto tsb. Dan lebih baik lagi ditambah dengan konsep juga, supaya tidak terlalu sederhana. Fotografer yang jadi indpirasi? Tahun 2014 dengan tidak sengaja saya melihat iklan tentang sekolah foto gratis, dan saya pun iseng iseng ikutan, yang pada akhirnya, banyak hal hal positif yang saya dapat dari kelas tersebut. Kelas foto yang di gerakan oleh seorang fotografer bernama Hermawan Wicaksono, dari beliau saya belajar banyak tentang fotografi. dan bagi saya, itulah fotografer yang sebenarnya. Dengan segala kesederhanaan nya, tetapi memiliki etika dan rasa yang sangat kental, mungkin beliau bisa dibilang salah satu fotografer indonesia yang meng inspirasi saya,dan kalau ditanya fotografer yang saya favoritkan, beliau bernama Kevin Wang. FOTOGRAFER:KANISIUSSURYA 12
  14. 14. Terakhir, harapan buat fotografi Indonesia? Harapan saya kedepan nya, bagi indonesia sendiri, mungkin dihilangkan nya pungli-pungli yah,dan untuk fotografer sendiri, sebelum anda memilihh untuk menjadi seorang fotografer, milikilah etika.Fotografi adalah sebuah bidang, dan menjadi seorang fotografer merupakan sebuah kebanggaaan, jangan menyalah gunakan profesi tersebut untuk hal hal yang negatif. Terakhir banget-banget, itu kenapa lensanya biru? Oh, ini sticker Terakhir banget-banget, bener-bener banget, kenapa waktu kelas motret motor kawasaki di atas rumput gak bisa? Gak tau juga, kalo liat warna ijo langsung blank aja. Hahaha,..nuhun ya om buat wawancaranya, semoga bisa terus menginspirasi banyak orang. Siap Kanisius R Surya a.k.a Abank'z Based in Bandung, Indonesia Studio: Denique Photography ™ Gear: Canon 550D + Fix 50mm II f:1.8 Instagram : surya_deniquephotography Phone: 08986146180 Blackberry Pin: 7DDAE018 Line Id: Surya_Denique Email: kanisius_r_surya@hotmail.com “saya hanya bisa bilang saya hanya seorang fotografer jalanan, karena dari jalananlah awal saya belajar fotografi” 13
  15. 15. 14 PORTFOLIO Halaman berikut akan menampilkan beberapa karya terbaik dari teman-teman fotografer. Mereka adalah: Bagaskoro Adimasputro Syarif Syahab Firdaus Andhika P. Darise Christian Lukman selamat menikmati
  16. 16. 15 facebook.com/gazlow twitter.com/BagazlowAdimasp instagram.com/bagazlow gazlow_tba@yahoo.com Bagaskoro Adimasputro
  17. 17. 16 Syarif Shahab www.facebook.com/syarif.alif syarifshhb Syarif469@yahoo.com
  18. 18. 17 Andhika Putra @justandhi justandhi andhikaputra33@gmail.com Firdaus Andhika P Darise
  19. 19. 18 www.facebook.com/Crsrevive @crs_r christiancrslukman gspdcrs@yahoo.com Christian Lukman
  20. 20. EYESEEPHOTOCLASS FOTOGRAFI SEDERHANA ADALAH KONSEP DASAR MATERI PENGAJARAN EYESEE PHOTO CLASS. KESEDERHANAAN TERSEBUT DILIHAT DARI 4 SUDUT; MURAH, MUDAH DIGUNAKAN, MUDAH DIDAPAT, DAN TIDAK MENYITA WAKTU. MENCIPTAKAN KARYA FOTOGRAFI DENGAN MEMAKSIMALKAN PERALATAN ATAU OBJEK YANG ADA ADALAH TUJUAN DARI KELAS INI. EYESEE PHOTO CLASS BERDIRI SEJAK TAHUN 2013 DI BANDUNG. DIMULAI DARI PENGAJARAN SECARA ONLINE HINGGA AKHIRNYA PADA AWAL 2014 MULAI MEMBAGIKAN MATERI FOTOGRAFI SECARA OFFLINE BAIK ITU DI STUDIO INDOOR MAUPUN OUTDOOR. MATERI YANG DIBERIKAN MULAI DARI KOMPOSISI SENI RUPA DASAR, TEKNIS PERALATAN FOTOGRAFI, MEMANDU OBJEK FOTO DAN LAIN SEBAGAINYA. KELAS INI TERBUKA UNTUK UMUM TANPA DIPUNGUT BIAYA. UNTUK JADWAL KELAS DAN INFORMASI LEBIH JAUH BISA MENGIKUTI PAGE FACEBOOK EYESEE PHOTO CLASS 19 EYESEE PHOTO CLASS
  21. 21. 20 REVIEW AirSebagai PropertyTEKS & FOTO: HERMAWAN WICAKSONO FOTOGRAFER:JUSTINHIDAYATSOPUTRA
  22. 22. 21 1 2 4 3 Dalam menciptakan sebuah karya foto setidaknya diperlukan tiga komponen pendukung, yaitu: perekam cahaya (kamera), sumber cahaya (buatan atau cahaya alam), property (pendukung objek utama). Sebelum memotret kita harus mengetahui tujuan foto yang kita hasilkan. Ada pesan yang akan kita sampaikan, dan pesan-pesan itu akan lebih mudah sampai jika kita bisa menggunakan property foto dengan baik. Kali ini kita akan membahas ‘air sebagai property’, air sebagai pendukung objek. Air di sini adalah segala bentuk zat cair (liquid). Sebagian besar kita bisa menemukan air dengan mudah dan murah. Jadi buat apa mencari property yang mahal dan sulit didapat, sedangkan yang mudah dan murah bisa kita temui?. Mungkin karena kita belum mengetahui bagaimana caranya. Di samping ada empat foto yang menggunakan air sebagai property. Kita akan membahas secara singkat keempat foto tersebut. Foto ini menceritakan seorang pemain bola. Air bersumber dari shower yang diletakkan tepat di atas objek. Dalam dunia olahraga air identik dengan kesegaran dan semangat. Penggunaan air dalam foto ini akan mewujudkan ide ‘olahragawan yang penuh semangat’. Foto berikut adalah foto air kemasan. Air kemasan kita masukkan ke dalan akuarium dan kemudian kita tuangkan air dari atas ke dalam akuarium tepat di atas botol sehingga tercipta gelembung-gelembung udara. Dalam foto ini air digunakan sebagai gambaran kesegaran. Air di dalam foto ini disemprotkan ke kaca yag letaknya di depan objek. Kesan yang ingin ditampilkan dari foto ini adalah seorang yang sedang bersedih. Air di foto ini akan menambah kesan sedih yang harus ditonjolkan. Foto ini menggambarkan seorang anak yang sedang bermain di kolam air. Kolam air yang digunakan adalah kolam air plastik portable. Air dalam foto ini menambah kesan keceriaan objek foto. Masih banyak kreasi yang bisa kita ciptakan dengan air, zat cair sebagai faktor pendukung foto yag semuanya bertujuan untuk mempermudah penyampaian pesan kepada para penikmat fotografi. 1. Pemain Bola 2. Air Kemasan 3. Gadis Sedih 4. Kolam Air
  23. 23. 22 "I fell in love with the speed of photography. I used to take photographs of my sets in painting class and I had fun shooting the nude models for our "life drawing" classes. It was at Goldsmiths’ College, in London. They kicked me out of those classes because I was always taking pictures.” -Hans Neleman- MASTER HASSELBLAD Mungkin ada yang bertanya-tanya ‘apa itu Hasselblad Master?’. Hasselblad adalah kamera medium format terbaik di dunia. Kamera ini diproduksi di Swedia sejak tahun 1841. Hanya fotografer terbaik yang menggunakan kamera ini. Untuk itu dalam kolom ini saya akan menampilkan para fotografer terbaik di dunia yang bisa menginspirasi kita semua. Tahun 2009 saya mendapat undangan untuk bertemu dengan seorang fotografer profesional di Looop Studio, Jakarta. Pada pertemuan itu dia meminta saya untuk menunjukkan karya terbaik saya. Saya buka laptop dan menunjukkan foto seorang model wanita cantik dengan make up yang baik ditambah lensa kontak di mata si wanita yang menambah kecantikannya. Itukan standar model di Indonesia, rambut panjang, langsing, make up plus lensa kontak. “Ini foto apa?’ tanya si fotografer. Saya jawab ‘beauty’,..dan dijawab lagi ‘where is the beauty, it’s scary, look her eyes’. Saya bingung juga, kenapa matanya?...ternyata mata dengan lensa kontak itu menakutkan, gak masuk akal logika sehat, seorang indonesia dg mata kebiru- biruan dibilang ‘beauty’...hahaha. Baik teman-teman, saya perkenalkan Hasselblad Master edisi ini,...Hans Neleman
  24. 24. Hans Neleman was born and raised in Holland, lives in Connecticut and is based out of New York.Between high school and university Hans took a year-long course in anthroposophy at a Rudolf Steiner School in Holland. "Yes, anthroposophy encourages and motivates you to follow your heart. At that time I wanted to be an actor but soon realized it was just a fad. Then I toyed with the idea of fashion designer, thinking to ultimately build on my interest in sculpture and painting.” And then came photography. After Goldsmiths’ he was accepted at the Polytechnic of Central London and received a Bachelor of Art degree in film and photography. At the same time he was assisting advertising and fashion photographers. Now he is, since many years, an esteemed commercial and fine arts photographer working from SoHo, New York City. He also studied semiology, the science of signs and symbols which is especially apparent in his still life and collage work. Interesting is also that he has been fascinated by what he calls “morbid beauty and modern taboos” his latest personal project addresses body modification: people who inhabit their bodies in more extreme ways than the rest of us. And asked what he demands from camera equipment in order to achieve a successful result his reply is “reliability especially”. His answer is understandable as he spends many days of the year travelling and then digging into almost impossible environments exposing both the equipment and himself to the utmost strains. He also feels that as the traditional poles between high and low culture, particularly those to do with art, collapse and as global culture increasingly supplants local traditions and national or ethnic identity it has become more imperative to document the private contemporary underground community. “Fashion has long flirted with it as a source of inspiration, film, television and other media have fictionalized it in sensational ways, but it is rarely seen from a documentary art perspective with the purpose of creating a coherent narrative of who, where, when, how and why.” 23 FOTOGRAFER: HANS NELEMAN
  25. 25. 24
  26. 26. 25 Neleman works with a Hasselblad H1 with a 120 mm lens and a zoom lens 50 – 110mm. “The zoom lens is so versatile, I love it. And originally I was so attracted to the simplicity of the Hasselblad idea of back, body and lens.” Among his major clients you find Sony, American Express, Adidas. Most recently he has worked for NIKE. “The art directors were inspired by my still life work, assemblages and collages and combined it with my new fashion approach in photography to come up with really cool 8x8 foot structures which involved painting, grafiti etc. It was like being back in art school where it all began.” Exhibitions 1991 Visual Arts Museum, New York 1993 Eton Gallery Detroit, Michigan 1994 Cintermex Monterrey, Mexico 1994 Art Projects International, New York 1995 Schneider Gallery, Chicago 1996 World Trade Financial Center, Netherlands 1998 Tabakman Gallery New York, New York 1999 Cultura De Nuevo León y Drexel Galeria, Mexico 1999 Holland Festival, Netherlands 2000 Biennale De Lyon, France 2003 Ricco/Maresca Gallery, New York 2009 Peabody Essex Museum, Salem, Massachusetts Books 1999 Moko - Maori Tattoo 2000 Silence 2003 Night Chicas kolom ini diambil dari www.hasselblad.com www.wikipedia.com
  27. 27. 26 TUTORIAL Back LightTEKS & FOTO: HERMAWAN WICAKSONO
  28. 28. 27 Pada kesempatan yang pertama ini kita akan membahas tentang BACKLIGHT. Secara terjemahan langsung diartikan sebagai cahaya belakang. Salah satu tujuan dari backlight adalah untuk memberikan efek cahaya yang seolah-olah keluar dari objek (model orang atau benda) yang tujuannya disesuaikan dengan tema/konsep pemotretan. Konsep backlight lebih banyak ditemui untuk foto portrait, memotret manusia dengan tujuan menonjolkan karakter si objek/manusia. Apa saja yang diperlukan/diperhatikan dalam menciptakan foto backlight? Pertama, yang harus ada adalah sumber cahaya. Bisa cahaya alami seperti matahari, bisa juga buatan seperti lampu. Kita harus dapat mengetahui karakter dari sumber cahaya yang kita gunakan. Cahaya lampu flash yang bisa diatur intensitasnya akan lebih mudah diatur daripada cahaya lampu flash slave tanpa tombol pengatur. Tetapi semua bisa dikondisikan dengan memperhatikan tahap kedua. Kedua, penempatan sumber cahaya di belakang objek. Penempatan ini harus tepat karena jika terlalu keluar dari objek maka akan terjadi over exposure, dan jika terlalu tertutup objek maka efek backlight tidak akan terlihat. Ketiga, latar belakang. Latar belakang gelap akan membuat efek cahaya yang dihasilkan akan lebih jelas dan terfokus, sedangkan latar belakang terang akan cenderung melebarkan cahaya sehingga efek backlight kurang maksimal. Keempat, kecepatan bukaan kamera. Membuat efek backlight mengharuskan kita untuk menempatkan kamera kita di depan sumber cahaya, yang pada umumnya hal ini akan menimbulkan over exposure. Untuk itu kecepatan bukaan kamera harus tinggi, tetapi tidak sampai 1/250 detik jika menggunakan lampu flash karena lampu akan tidak singkron dengan kamera. Cobalah menutup sebagian sumber cahaya (lampu flash) dengan objek. Kita bisa mencoba beberapa kali untuk mendapatkan posisi yang terbaik untuk menghasilkan foto yang terbaik juga. Di bawah kita akan melihat diagram foto dari foto di samping. Foto di samping adalah foto seorang wanita dengan pose membelakangi kamera. Lampu flash diletakkan di depan kamera dan tertutup sebagian badan objek. Lampu yang digunakan sebagai backlight adalah lampu slave tanpa tombol kontrol, untuk itu posisi fotografer dan flash sangat menentukan hasil foto. Sebagai lampu utama, digunakan lampu dengan tombol kontrol cahaya ditambah softbox agar cahaya yang dihasilkan bisa lebih menyebar. Post production menggunakan software photoshop dengan menurunkan intensitas warna merah/desaturate. Selamat mencoba. 1 Keterangan: 1. Tembok putih 2. Background gelap 3. Slave flash 4. Model 5. Main light dengan receiver 6. Kamera dengan flash trigger EXIF: F 5.6, 1/41 sec, ISO 100 2 4 3 5 6 Materi BACKLIGHT dapat dipelajari selengkapnya di buku tutorial fotografi ‘Simply Photography-Indoor Portarit Series oleh Hermawan Wicaksono, Penerbit Elexmedia Komputindo’
  29. 29. 28 Foto ini menggambarkan seorang perawat sedang membaca hasil X Ray. Digunakan konsep backlight agar foto X Ray bisa terlihat jelas ketika ditembakkan cahaya dari belakang
  30. 30. 29 Menggambarkan seorang musisi, dalam hal ini seorang drummer sedang menjatuhkan kumpulan stick drum. Backlight diletakkan di bawah sehingga membentuk bayangan khaki.
  31. 31. 30 REVIEW Slave FlashTEKS & FOTO: HERMAWAN WICAKSONO
  32. 32. Dalam pembahasan di kolom tutorial tentang backlight kita menggunakan slave flash yang tidak bisa dikontrol intensitas cahayanya. Sesuai dengan gambarnya, flash ini berukuran kecil, dengan panjang 10 cm, dan lebar 8cm. Daya yang dihasilkan berkisar 100 watt. Cocok untuk fotografer pemula dengan mini studio. Flash ini bisa dipancing oleh flash dari kamera langsung atau dari flash master. Flash ini tidak memiliki tombol pengatur intensitas cahaya sehingga cahaya yang dikeluarkan juga tidak stabil dan cenderung over exposure. Untuk itu kita bisa memodifikasinya dengan meletakkan kertas putih di depan flash, atau bisa juga dengan umbrella transparent, atau menembakanya ke silver umbrella, atau bisa juga dengan menembakkannya ke atas (bouncing). Untuk memberikan efek warna sekaligus meredupkan cahaya yang dikeluarkan bisa dengan palstik mika. Warna yang dihasilkan tergantung dari warna plastik mika. Pemakaian flash ini sangat mudah. Kita hanya perlu menambahkan dudukan flashnya. Setelah itu kita bisa langsung gunakan. Harganya murah dan tahan lama. Dengan Rp 300 ribu kita bisa memiliki flash dan dudukannya. Jika modal kita terbatas untuk membeli lampu studio, kita bisa mencoba flash slave ini. Tips & Trik dengan Slave Flash Plug & Play: 1. Kenali karakteristik cahayanya dari seberapa kuat cahaya yang dihasilkan. Cobalah di ruangan kecil, ruangan sedang, dan ruangan yang besar. 2. Akan terjadi banyak over exposure, untuk itu kita harus dapat memodifikasinya. Untuk foto hi key, flash ini direkomendasikan. 3. Karena cahaya yang dikeluarkan cenderung berubah-ubah dan tidak bisa diatur intensitasnya, fotografer dituntut untuk dapat mengatur setting kamera (ISO, speed, AV) dengan baik. 4. Kreatif dengan filter-filter warna dari plastik mika. 5. Flash slave ini tidak dianjurkan sebagai main light, tetapi bisa sebagai fill light untuk background atau environment. 6. Setelah terlepas dari sumber arus listrik, ada baiknya kembali menembakkan flash dengan menekan tombol ‘test’ di flash atau memancingnya dengan slave master/ flash kamera 31
  33. 33. 32 REVIEW Canon Lens 50mm 1.8TEKS & FOTO: HERMAWAN WICAKSONO
  34. 34. 33 Canon menghadirkan lensa bukaan besar dengan harga murah. Bukaan hingga 1.8 dengan harga satu jutaan. Lensa ini sudah menjadi senjata wajib fotografer Untuk me-review lensa canon ini pasti sudah ‘basi banget’. Kenapa?...karena saya yakin sudah banyak teman-teman fotografi yang menggunakannya. Menghasilkan foto dengan tingkat kedalaman yang besar membutuhkan lensa dengn bukaan besar. Dengan lensa bukaan besar, kreatifitas fotografer dalam berkarya juga semakin tertantang. Lensa dengan bukaan besar menghasilkan foto dengan objek yang sangat terpusat. Selain masih bisa menangkap cahaya di tempat dengan sangat sedikit cahaya, efek blur (kabur) di sekitar objek menjadikan foto dengan bukaan besar banyak diminati. Masalahnya, lensa dengan bukaan besar harganya mahal. Semakin besar bukaan, maka semakin tinggi juga harga lensanya. Canon hadir dengan solusi. Sebuah lensa fix 55 mm, berdiameter 52 dengan bukaan 1.8, yang harganya saat ini satu jutaan. Awal keluar lensa ini hanya berkisar Rp 700 ribu saja. Harga lensa semakin naik dengan semakin banyak peminat lensa ini. Masalah berikut adalah,..lensa ini fix, yang menuntut fotografer untuk lebih banyak maju-mundur dalam pengambilan gambar. Tips & Trik dengan Slave Flash Plug & Play: 1. Kenali karakteristik lensa, ujilah dengan mencoba memotret dengan bukaan terkecil hingga terbesar, dan membandingkan hasilnya. 2. Auto focus masih menjadi kendala di lensa ini. Lensa ini akan maksimal dalam memotret objek yang ‘still’. Tidak direkomendasikan untuk liputan. 3. Kreatiflah dengan filter, adapter, lens-hood, dan aksesori lensa lainnya. 4. Lensa ini bisa memotret banyak objek yang menuntut detil, seperti produk, bagian tubuh manusia, dan lain-lain. 5. Perhatikan singkronisasi lensa dan flash, ada kalanya akan menciptakan over exposure.
  35. 35. Q&A Q: Apa itu fotografi? A: Fotografi berasal dari dua kata, foto artinya cahaya, dan grafi artinya gambar. Fotografi adalah gambar cahaya. Kamera adalah alat penangkap cahaya yang kemudian merekam cahaya tersebut di media penyimpanan, berupa film atau kartu memori. Q: Kriteria kamera yang bagus buat pemula? A: Semua kamera bagus, karena semua dibuat oleh pabrik yang telah melakukan riset dan pengembangan terlebih dahulu. Kamera tidak berhubungan langsung dengan hasil foto. Hasil foto tergantung siapa yang menguasai kamera tersebut. Kamera diibaratkan sebagai pensil di tangan pelukis. Tidak ada yang perlu dibanggakan dengan kamera, tetapi banggalah dengan hasil fotonya. Apapun kamera selama digunakan dengan maksimalkan akan menghasilkan hasil foto yang bagus. Q: Syarat foto yang bagus? A: Ada sebuah pepatah ‘Segala sesuatu yang dibuat dari hati akan sampai ke hati’, dan hal itu terbukti benar di seni rupa. Fotografi adalah seni rupa. Dalam seni rupa ada rumusan-rumusan yang membuat artwork tersebut indah. Rumusan tersebut adalah komposisi titik, garis, bidang, ruang, warna, dan rasa, yang semuanya harus menjadi satu kesatuan yang seimbang. Cobalah membuat karya dengan memperhatikan panduan vertikal horizon terlebih dahulu untuk mendapatkan konsep ‘keseimbangan’. Q: Berapa modal untuk menjadi fotografer? A: Yang pertama kali harus dimiliki seorang fotografer adalah daya imajinasi. Sama seperti pelukis. Hanya bedanya pelukis menggambar dengan kuas, fotografer dengan kamera. Seorang fotogafer juga harus menguasai teknis peralatan foto (kamera, lensa, lampu, editing, dan sebagainya). Sebuah foto yang bagus adalah gabungan antara imajinasi, teknis, dan kemampuan mewujudkan imajinasi tadi dengan pengetahuan teknis yang dikuasai. Q: Adakah kisaran harga jasa foto? A: Dari segi bisnis, penentuan harga jasa foto bisa dengan melihat harga di pasaran, atau bisa juga dengan menghitung semua biaya produksi yang kemudian ditetapkan selisih keuntungan. Dari segi si pembuat foto dan klien, bisa tergantung siapa si fotografer dan siapa si klien. Dari segi seni, bisa sangat mahal, bisa juga sangat murah. Seorang fotografer bisa dibayar 1 juta untuk 1 foto, bisa juga tidak dibayar untuk 100 foto. Fotografi adalah seni yang tidak ada patokan harganya. Q: Kapankah seorang fotografer dikatakan pro? A: Pro artinya profesi. Saat seseorang melakukan segala sesuatu sebagai profesi (mencari nafkah) maka orang tersebut bisa dikatakan ‘pro’ dalam bidangnya. Pro bukan hanya dari segi keahlianteknis tetapi juga emosional. Q: Bagaimana cara menemukan ciri dalam karya kita? A: Hasil foto setiap orang berbeda. Contoh: Ada fotografer sekolahan, ada juga yang belajar secara otodidak. Hasil fotografer sekolahan pasti lebih halus, disesuaikan dengan keinginan peminat, sedangkan yang otodidak cenderung ‘semau gue’. Ciri akan muncul sendiri seiring intensitas kita dalam memotret. Kita tidak bisa menjadi serupa dengan orang lain. Dan ciri tersebut haruslah menjadi kekuatan kita, walaupun tidak sedikit juga yang menjadi kekurangan. Contoh: seorang fotografer yang selalu menghasilkan foto yang over exposure. Di satu sisi itu bisa menjadi kekurangannya, di sisi lain bisa menjadi kelebihannya karena dia akan sangat ahli dalam membuat foto hi-key. Untuk itu tidak perlu berkecil hati, bangglah dengan ciri diri sendiri. Q: Apakah era fotografi digital membawa kemunduran untuk fotografi itu sendiri? A: Salah satu keuntungan era digital adalah, fotografer bisa mengetahui hasil fotonya saat itu juga. Tetapi hal ini berdampak pada seringnya fotografer dalam menekan tombol shutter. Tidak jarang fotografer menggunakan multiple shoot untuk memotret objek ‘still’. Baru setelah itu memilihnya di komputer. Mulailah untuk memotret seperlunya. Matangkan konsep, baru tekan shutter. Setiap barang yang digunakan terus menerus akan cepat usang, begitu juga dengan kamera. Hanya memotret yang ‘yakin’ akan membantu kita menciptakan foto-foto yang berkwalitas bukan berakhir menjadi sampah digital. pertanyaan bisa dikirimkan melaui e-mail ke hermawan.wicaksono@yahoo.com 34
  36. 36. KOMPLEK CIPTA GRAHA BLOK D.6 GUNUNG BATU-BANDUNG PH: 08157136534 EYESEE STUDIO 35
  37. 37. 36 KENALAN Monika Pricilia IsakhFOTOGRAFER: HERMAWAN WICAKSONO
  38. 38. 37 NAMA MONIKA PRICILIA ISAKH TEMPAT/TANGGAL LAHIR TOLI-TOLI/ 27 JULI 1992 KEGIATAN MAHASISWI DI UNIVERSITAS WIDYATAMA -BANDUNG JURUSAN BAHASA INGGRIS, MENARI, MENYANYI, MODELLING MUSIK R N B, POP, JAZZ MAKANAN NASI TIMBEL, BASO, SURABI, ES KRIM TEMPAT NONGKRONG NGOPI DOELOE, CHAT TIME, SURABI ARAB DITAKUTIN TAKUT SAMA KEGELAPAN DAN HEWAN REPTIL DISUKAI LIHAT PEMANDANGAN LAUT DAN KEBUN ALIAS PEMANDANGAN ALAM FACEBOOK monika pricilia TWITTER @monikapricilia
  39. 39. 38 Stay Strong Think Big Pray Hard
  40. 40. 39 PHOTOGRAPHY TUTORIAL BY HERMAWAN WICAKSONO SIMPLY PHOTOGRAPHY AVAILABLE NOW ON GOOGLE PLAY FREE DOWNLOAD & FREELY SHARE
  41. 41. 40 BRIEF Kolom ini menampilkan karya-karya yang masuk di page facebook EYESEE PHOTO CLASS yang juga diikutsertakan dalam lomba dwi-mingguan kelas.Tema kali ini adalah ‘air’. Juri dari lomba ini adalah seorang fotografer dari Peru bernama Magdalena Ladron de Guavara a.k.a Magu. Untuk lebih mengenal Magu, kita bisa mengunjungi www.maguimages.com Pemenang lomba dan review foto akan dibahas di edisi mendatang dan juga page EYESEE PHOTO CLASS Siapapun bisa ikut kelas ini, baik online maupnu offline. Daftar gratis, ikutan kelas gratis. Belajar bersama, bertumbuh bersama, dan bagikan ilmu ke sesama Selfie Sareupna by Christian Lukman Batu Di Air Laut by Justin Soputra NN by Arnold Waiting at Sunset Pool by Raymond Maulany Panas Dingin by Andhika Putra Reflection by Kanisius R. Surya EYESEE PHOTO CLASS
  42. 42. 41 Noda by Syafif Shahab Goddess Who Holds a Jug of Water by Yosua Michael Simanjuntak Tempat Bersuci Umat Hindu by Mahierda Warda Waiting for Sunset, Just with You by Gandhi Firmansyah Vintage Kimono by Gazlow Song
  43. 43. 42 REKOMENDASI www.commarts.com Founded by Richard Coyne and Robert Blanchard in 1959, Communication Arts is the premier source of inspiration for graphic designers, art directors, design firms, corporate design departments, advertising agencies, interactive designers, illustrators and photographers—everyone involved in visual communication. People involved in visual communication turn to Communication Arts for ideas and inspiration more than any other creative publication. CA’s editorials, feature articles and annual competitions provide new ideas and information while promoting the highest professional standards for the field. www.win-initiative.com WIN-Initiative is an independent stock photography company that licenses images based on global youth culture. Founded in 2007 by photographer Hans Neleman, WIN, which stands for Worldwide Image Navigation, licenses images from its community of photographers from around the world. Essentially functioning as a collective, WIN Scouts are located in 22 countries. These Scouts assist in finding and retaining new talent, as well as being the liaison with the WIN headquarters team in SoHo, New York. www.elizabethpoje.com Didirikan tahun 1991 oleh Elizabeth Poje sebagai tempat berkumpulnya para fotografer dan digital imaging artist. Studio ini memberikan pelayanan fotografi komersil, berkantor di New York, LA, dan Dallas. www.thelooopindonesia.com The Looop didirikan oleh Sam Nugroho, di Jakarta Indonesia. The Looop memberikan jasa fotografi udara, komersil, digital imaging/CGI, fashion dengan klien internasional dari dalam maupun luar negeri. Kita bisa melihat dan mempelajari karya-karya mereka yang inspiratif. Karya-karya yang tidak hanya mengedepankan seni tapi juga bisnis. The Looop juga memiliki sekolah foto bernama Loop Akademie, berkantor di Jakarta.
  44. 44. 43 DEKKE
  45. 45. 44 NEXT edisi berikut kita masih akan membahas topik utama, mereview peralatan & property, mengenal fotografer kelas dunia, berkenalan dengan model, belajar tehnik di tutorial, mengenal fotografer lokal, tanya jawab, dan yang pasti tetap gratis salam damai
  46. 46. saran, kritik, pertanyaan ide, apapun untuk kemajuan bersama silahkan email ke: hermawan.wicaksono@yahoo.com unduh gratis di www.eyeseephotopage.com dan bagikan gratis

    Be the first to comment

    Login to see the comments

  • hermawanwicaksonoworks

    Mar. 7, 2015
  • arrialkatiri

    Mar. 8, 2015
  • DgreatdanZ

    Apr. 26, 2015
  • devapradnyana1

    Aug. 20, 2017

Majalah bulanan elektronik fotografi. Unduh gratis, bagikan gratis. Penerbit EYESEESTUDIO Bandung

Views

Total views

2,494

On Slideshare

0

From embeds

0

Number of embeds

94

Actions

Downloads

293

Shares

0

Comments

0

Likes

4

×