Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

makalah

3,924 views

Published on

stroke non hemoragic

Published in: Healthcare
  • Login to see the comments

makalah

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke menurut WHO adalah suatu gangguan fungsi saraf akut yang disebabkan oleh karena gangguan peredaran darah otak, dimana secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) timbul gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah fokal di otak yang terganggu. Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan terjadinya gangguan peredaran darah otak. Menurut Brunner & Sudarth stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak. Insiden stroke bervariasi di berbagai negara di Eropa, diperkirakan terdapat 100-200 kasus stroke baru per 10.000 penduduk per tahun (Hacke dkk, 2003). Di Amerika diperkirakan terdapat lebih dari 700.000 insiden stroke per tahun, yang menyebabkan lebih dari 160.000 kematian per tahun, dengan 4.8 juta penderita stroke yang bertahan hidup. (Goldstein dkk, 2006). Rasio insiden pria dan wanita adalah 1.25 pada kelompok usia 55-64 tahun, 1.50 pada kelompok usia 65-74 tahun, 1.07 pada kelompok usia 75-84 tahun dan 0.76 pada kelompok usia diatas 85 tahun (Lloyd dkk, 2009). Menurut patofisiologinya, stroke diklasifikasikan menjadi stroke iskemik dan stroke hemoragic. Stroke iskemik terjadi akibat penutupan aliran darah ke sebagian otak tertentu, maka terjadi serangkaian proses patologik pada daerah iskemik. Perubahan ini dimulai dari tingkat seluler berupa perubahan fungsi dan struktur sel yang diikuti dengan kerusakan fungsi dan integritas susunan sel, selanjutnya akan berakhir dengan kematian neuron. Hemiparesis berarti kelemahan pada satu sisi tubuh. Kelemahan dapat terjadi karena adanya kerusakan pada fungsi sensorik dan fungsi motorik, di antaranya yaitu jika pasien mengeluhkan kelemahan pada satu sisi tubuh yang mengarah pada lesi hemisfer serebri
  2. 2. 2 kontralateral dapat menyebabkan kelemahan otot dan spastisitas kontralateral serta defisit sensorik (hemianestesia). Kesulitan berbicara (akibat kerusakan area motorik tambahan) serta apraksia pada lengan kiri jika korpus kalosum anterior dan hubungan dari hemisfer dominan ke korteks motorik kanan terganggu. Mengingat bahwa yang paling berfungsi dalam kegiatan sehari – hari adalah tangan dan kaki maka sangat penting untuk memperbaiki gangguan fungsi sensorik dan motorik pada penderita stroke. Untuk memperbaiki gangguan fungsi sensorik dan motorik tersebut, Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang berupaya memberikan pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah fisioterapi. Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukkan kepada individu dan kelompok untuk mengembangkan, memelihara, memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, pelatihan fungsi dan komunikasi (SK MENKES RI No. 1363 / MENKES / SK / 2001, pasal 11 ayat 2 ). Dengan pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai penatalaksanaan fisioterapi yang tepat untuk penderita hemiparese post stroke. B. Rumusan Masalah 1. Apa saja problematika fisioterapi yang terjadi pada kondisi hemiparese sinistra post stroke ? 2. Bagaimana peenatalaksanaan fisioterapi pada kondisi hemiparese sinistra post stroke ?
  3. 3. 3 C. Tujuan 1. Untuk mengetahui problematika fisioterapi yang terjadi pada kondisi hemiparese sinistra post stroke. 2. Untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi hemiparese sinistra post stroke. D. Manfaat 1. Bagi Institusi pendidikan Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa/i di perpustakaan dan sebagai acuan atau pedoman bagi mahasiswa/i yang melakukan penelitian berikutnya. 2. Bagi penulis Untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan tentang hemiparese sinistra post stroke.
  4. 4. 4 BAB II
  5. 5. 5 TINJAUAN PUSTAKA A. Anatomi dan Fisiologi Otak 1. Anatomi Otak Otak terdiri dari neuron – neuron, sel glia, cairan serebrospinalis, dan pembuluh darah. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama yaitu sekitar 100 miliar tetapi jumlah koneksi diantara berbagai neuron tersebut berbeda – beda. Orang dewasa yang mengkonsumsi sekitar 20% oksigen dan 50% glukosa di dalam darah arterinya hanya membentuk sekitar 2% atau 1,4 kg koneksi neuron dari berat tubuh total (Feigin, 2006). Dalam pembahasan ini, penulis akan menjelaskan tentang (1) kortek serebri, (2) upper motor neuron yang terdiri dari traktus piramidalis dan traktus ekstrapiramidalis, (3) vaskularisasi otak dan (4) plastisitas otak. a. Kortek serebri Korteks serebri pada cerebrum mempunyai banyak lipatan yang disebut dengan konvulsi atau girus. Celah-celah atau lekukan yang disebut sulcus terbentuk dari lipatan-lipatan tersebut yang membagi setiap hemispherium menjadi daerah-daerah tertentu. Berikut beberapa daerah yang penting ; (1) lobus frontalis : area 4 merupakan daerah motorik yang utama. Terletak disebelah anterior sulkus sentralis. Lesi daerah ini akan menghasilkan parese atau paralysis flaccid kontralateral pada kelompok otot yang sesuai. Area 6 merupakan bagian sirkui ttraktus extrapiramidalis.Spasitas lebih sering terjadi jika area 6 mengalami ablatio. Area 8 berhubungan dengan pergerakan mata dan perubahan pupil. Area 9, 10, 11, 12 adalah daerah asosiasi frontalis; (2) Lobus parietalis : area 3, 1, dan 2 merupakan daerah sensorik postsentralis yang utama. Area 5 dan 7 adalah daerah asosiasi sensorik; (3) Lobus temporalis : Area 41 adalah daerah auditoriusprimer. Area 42 merupakan kortek auditorius sekunder atau asosiasi.Area 38, 40, 20, 21, dan 22 adalah daerah asosiasi, disini terjadi pemprosesan bentuk-bentuk masukan sensorik yang lebih elemental; (4) Lobus occipitalis : Area 17 yaitu kortek striata, kortek visual yang utama, Area 18 dan 19 merupakan daerah asosiasi visual ( Duss, 1996).
  6. 6. 6 Gambar 2.1 Gyrus pada Hemisferium Serebri dari sisi kiri (Putz, 2005) Gambar 2.2 Gyrus pada Hemisferium Serebri dari medial (Putz, 2005) b. Traktus Piramidalis Traktus piramidalis berasal dari sel-sel betz pada lapisan ke lima korteks serebri pada girus presentralis lobus frontalis ke kapsula interna masuk ke diencephalon diteruskan ke mesencephalon, pons varolli sampai medulla oblongata. Di perbatasan medulla oblongata dan medulla spinalis sebagian besar traktus ini merupakan penyilangan di dekusasio piramidalis. Fungsi dari sistem pyramidalis berhubungan dengan gerakan terampil dan motorik halus.
  7. 7. 7 Gambar 2.3 Traktus Piramidalis (Duus, 1996) c. Traktus Extrapiramidalis Traktus extrapiramidalis tersusun atas korpus striatum, globus palidus, thalamus, substantia nigra, formation lentikularis, cerebellum dan cortex motorik. Traktus extrapiramidalis merupakan suatu mekanisme yang tersusun dari jalur-jalur dari korteks motorik menuju Anterior Horn Cell (AHC). Fungsi utama dari traktus extrapiramidalis berhubungan dengan gerakan yang berkaitan pengaturan sikap tubuh dan integrasi otonom. Lesi pada setiap tingkat dalam traktus extrapiramidalis dapat menghilangkan gerakan dibawah sadar.
  8. 8. 8 Gambar 2.4 Traktus Extrapiramidalis (Duus, 1996) d. Vaskularisasi Otak Suplai darah arteri ke otak merupakan suatu jalinan pembuluh pembuluh darah yang bercabang-cabang, behubungan erat satu dengan yang lain sehingga dapat menjamin suplai darah yang adekuat untuk sel (Wilson, 2002). Pengaliran darah keotak dilakukan oleh dua pembuluh arteri utama yaitu oleh sepasang arteri karotis interna dan sepasang arteria vertebralis. Keempat arteria ini terletak didalam ruang subarakhnoid dan cabang-cabangnya beranastomosis pada permukaan inferior otak untuk membentuk circulus willisi.Arteri carotis interna, arteri basilaris, arteri cerebri anterior, arteri communican anterior, arteri cerebri posterior dan arteri comminicans posterior dan arteria basilaris ikut membentuk sirkulus ini (Snell, 2007). Faktor yang mempengaruhi aliran darah di otak, diantaranya adalah (a) keadaan arteri, dapat menyempit karena tersumbat oleh thrombus dan embolus, (b) keadaan darah, dapat mempengaruhi aliran darah dan suplai oksigen, (c) keadaan
  9. 9. 9 jantung, bila ada kelainan dapat mengakibatkan iskemia di otak (Lumbantobing, 2004). Gambar 2.5 Circulus Willisi (Chusid, 1993) B. Patofisiologis 1. Definisi Stroke Stroke adalah cedera vaskuler akut pada otak. Ini berarti bahwa stroke adalah suatu cedera mendadak dan berat pada pembuluh-pembuluh darah otak. Cidera dapat disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, sumbatan dan penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah. Semua ini menyebabkan kurangnya pasokan darah yang memadai (Feigin, 2006). 2. Etiologi Berdasarkan etiologi Hinton (1995) membagi stroke menjadi dua : (a) Stroke hemoragik yaitu suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan pendarahan pada area tersebut ; (b) Stroke non hemoragik, yaitu gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah otak sehingga distribusi oksigen dan nutrient ke area yang mendapat suplai terganggu. Berdasarkan perjalanan klinisnya stroke non haemoragik dibagi menjadi 4, yaitu: (a) TIA (transient ischemik attack) merupakan serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam ; (b) RIND (reversible ischemic neurologic deficit)
  10. 10. 10 merupakan gejala neurologis yang akan menghilang antara > 24 jam sampai dengan 21 hari ; (c) progressing stroke atau stroke in evolution merupakan kelainan atau deficit neurologis yang berlangsung secara bertahap dari yang ringan sampai menjadi Berat ; (d) complete stroke atau stroke komplit merupakan kelainan neurologis yang sudah menetap dan tidak berkembang lagi (Junaidi, 2006). 3. Patologi Pada arteriosklerosis akan timbul aliran turbulensi sehingga trombosit saling kontak maka akan menambah plak sampai terjadi sumbatan total. Pada stroke embolik penyumbatan disebabkan oleh suatu embolus yang dapat bersumber pada arteri serebral, karotis interna, vertebro-basiler, arkus aorta asendens ataupun katub serta endokardium jantung. Apabila pembuluh darah tersumbat maka aliran darah menuju otak akan terhenti dan bagian otak di sebelah distalnya akan mengalami kerusakan. Akibat kerusakan otak tersebut maka kontrol supraspinal (sistem ekstrapiramidalis) terhadap aktivitas stretch reflek menghilang dan menurunnya eksitasi sistem inhibisi sehingga timbul spatisisitas (Suyono,1992). Kerusakan atau kelumpuhan yang dikarenakan lesi pada kapsula interna hampir selamanya disertai hipertonus yang khas hal ini dikarenakan pada kapsula interna dilewati serabut serabut ekstrapiramidal. Tergantung pada arteri yang terkena maka lesi vaskular yang terjadi di kapsula interna dapat mengakibatkan kerusakan area disekitarnya seperti radiasio optika, nucleus kaudatus dan putamen sehingga hemiplegia akibat lesi kapsula interna memperihatkan kelumpuhan upper motor neuron yang disertai oleh rigiditas, atetosis, distonia tremor atau hemianopia. 4. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi tergantung dari topis dan derajat beratnya lesi. Akan tetapi tanda dan gejala yang dijumpai pada penderita pasca stroke non haemoragik stadium akut secara umum meliputi ; (a) gangguan motorik : kelemahan atau kelumpuhan separo anggota gerak, gangguan gerak volunter, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi ; (b) gangguan sensoris : gangguan perasaan, kesemutan, rasa tebal-tebal ; (c) gangguan bicara : sulit berbahasa (disfasia),
  11. 11. 11 tidak bisa bicara (afasia motorik), tidak bisa memahami bicara orang (afasia sensorik) ; (d) gangguan kognitif (Soetedjo, 2004, dalam Rujito, 2007). 5. Komplikasi Komplikasi yang akan timbul apabila pasien stroke tidak mendapat penanganan yang baik. Komplikasi yang dapat muncul antara lain (Suyono,1992): a. Abnormal tonus Abnormal tonus secara postural mengakibatkan spastisitas. Serta dapat menggangu gerak dan menghambat terjadinya keseimbangan. b. Sindroma bahu Sindrom bahu merupakan komplikasi dari stroke yang dialami sebagian pasien. Pasien merasakan nyeri dan kaku pada bahu yang lesi akibat imobilisasi. c. Deep vein thrombosis Deep vein trombosis akibat tirah baring yang lama, memungkinkan trombus terbentuk di pembuluh darah balik pada bagian yang lesi. Hal ini menyebabkan oedem pada tungkai bawah. d. Kontraktur Kontraktur terjadi karena adanya pola sinergis dan spastisitas. Apabila dibiarkan dalam waktu yang lama akan menyebabkan otot-otot mengecil dan memendek. 6. Diagnosis Banding Diagnosis banding antara stroke iskemik dan stroke hemoragik yaitu pada stroke iskemik ada nyeri kepala ringan, gangguan kesadaran ringan atau tidak ada, dan defisit neurologis atau kelumpuhan berat. Sedangkan pada stroke hemoragik ada nyeri kepala yang berat, gangguan kesadaran sedang sampai berat, dan deficit neurologis ada yang ringan dan ada yang berat (Junaidi, 2006). C. Problematik Fisioterapi
  12. 12. 12 Problematik fisioterapi pada pasien stroke stadium flaccid menimbulkan tingkat gangguan. 1. Impairment Impairment atau gangguan tingkat jaringan yaitu gangguan tonus otot secara postural, semakin tinggi tonus otot maka akan terjadi spastisitas ke arah fleksi atau ektensi yang mengakibatkan terganggunya gerak ke arah normal. Sehingga terjadi gangguan kontraksi dan koordinasi yang halus dan bertujuan pada kecepatan dan ketepatan gerak anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi. Serta dapat mengakibatkan gangguan dalam reaksi tegak, mempertahankan keseimbangan atau protective reaction anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi saat melakukan gerakan. 2. Functional limitation Functional limitation yang timbul adalah terjadi penurunan kemampuan motorik fungsional. Penurunan kemampuan dalam melakukan aktifitas dari tidur terlentang seperti mampu melakukan gerakan tangan dan kaki secara aktif saat miring, terlentang duduk disamping bed seperti mampu melakukan gerakan menggangkat kepala namun saat menurunkan kaki butuh bantuan orang lain agar mampu duduk disamping bed, keseimbangan duduk seperti kurang mampu mempertahankan keseimbangan duduk, dari duduk ke berdiri seperti masih membutuhkan bantuan orang lain, berjalan seperti masih membutuhkan bantuan dari orang lain, fungsi anggota gerak atas seperti gerakan mempertahankan posisi lengan ke segala arah dan pergerakkan tangan yang terampil seperti mengambil benda dan memindahkan dari satu tempat ke tempat lain. 3. Disability Yang termasuk dalam disability adalah terjadi ketidakmampuan melakukan aktifitas sosial dan berinteraksi dengan lingkungan. Seperti gangguan dalam melakukan aktifitas bekerja karena gangguan psikis dan fisik. D. Teknologi Intervensi Fisioterapi
  13. 13. 13 Pendekatan yang dilakukan fisioterapi antara lain adalah terapi latihan, yang terdiri dari latihan keseimbangan dan koordinasi, dan latihan fungsional. 1. Latihan keseimbangan dan koordinasi Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium flaccid sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien dan dilakukan pada posisi terlentang, duduk dan berdiri. Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan koordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuan mempertahankan tonus ke arah normal (Pudjiastuti, 2003). Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke non hemoragik stadium flaccid dapat dilakukan secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya repetisi. 2. Terapi latihan Terapi latihan atau exercise therapy merupakan salah satu usaha pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaannya mengunakan latihan-latihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif. Dengan diberikan terapi latihan dapat menjaga dan meningkatkan kekuatan otot, menjaga dan meningkatkan lingkup gerak sendi, mencegah kontraktur, mencegah atrofi otot, serta memajukan kemampuan penderita yang telah ada untuk dapat melakukan gerakan-gerakan yang berfungsi serta bertujuan, sehingga dapat beraktifitas normal.
  14. 14. 14 BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS A. Keterangan Umum Penderita Sebelum kita memberikan tindakan fisioterapi pada kondisi Pasien Paska Stroke Hemorage Dextra et causa stroke non hemorragic terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan yang akurat melalui prosedur yang benar. Hal ini bertujuan untuk menegakkan diagnosa dan menentukan langkah-langkah pemberian terapi sesuai dengan permasalahan yang terjadi. Pelaksanaan tersebut dilakukan dengan pemeriksaan sebagai berikut : A. Anamnesis Anamnesis merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab mengenai pasien dan keadaan penyakit pasien Dalam pengkajian fisioterapi ini didapatkan melalui anamnesis secara heteroanamnesis (melakukan tanya jawab dengan keluarga pasien). Sistem anamnesis dibagi menjadi : a. Anamnesis Umum Nama : Ny “F” Umur : 47 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Jl.Di.Panjaitan.Lr Daruhaman No.122 Rt.28,Rw.10 b. Anamnesis khusus 1. Keluhan Utama Adanya kelemahan otot pada sisi sebelah kanan. 2. Riwayat Perjalanan Penyakit
  15. 15. 15 Lebih kurang januari 2014 pasien mulai merasakan lemas di tangan dan kaki sebelah kanan pasien, terjadi pada saat pasien bangun tidur, kemudian pasien langsung dibawa ke RS.Muhammadiyah palembang, dan pasien di diagnosa mengalami stroke, setelah itu dokter merujuk pasien ke fisioterapi untuk dilakukan tindakan terapi. RPD : Hipertensi RPS : Stroke non hemoragic RPK : - 3) Anamnesis Sistem a) Sistem Muskuloskeletal Adanya kelemahan pada otot extremitas atas dan bawah sisi dextra b) Sistem Nervorum Pasien tidak mengeluhkan kesemutan dan rasa tebal-tebal. B. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Fisik a. Tanda Vital 1) Tekanan Darah : 140/80 Mmhg 2) Denyut Nadi : 84×/menit 3) Penapasan : 24×/menit 4) Temperatur : 36,5˚C 5) Tinggi badan : 165cm 6) Berat Badan : 62 Kg b. Inspeksi 1) Statis - Tampak bahu pasien asimetris lebih tinggi ke kiri - Tampak SIAS pasien lebih tinggi ke kanan 2) Dinamis
  16. 16. 16 - Tampak adanya fase berjalan yang hilang yaitu : initial contact, terminal stance, terminal swing. c. Palpasi Adanya Hipotonus. 2. Gerakan Dasar a. Gerak Aktif Pada saat melakukan gerakan aktif pasien mampu melakukan gerakan aktif full ROM pada bagian anggota gerak bagian dextra, tanpa disertai nyeri. b. Gerak Pasif Pada saat dilakukan gerakan pasif full ROM pada bagian anggota gerak bagian dextra, tanpa disertai nyeri. c. Gerak Isometrik Melawan Tahanan Pasien mampu melawan tahanan secara minimal tanpa disertai rasa nyeri. 3. Pemeriksaan Kognitif, Intrapersonal, dan Interpersonal - Pasien memiliki motivasi tinggi untuk sembuh - Pasien mampu melakukan perintah dengan baik walaupun harus berfikir lama untuk menjalankan perintah dari fisioterapis - Pasien tidak mampu berkomunikasi dengan baik terhadap terapis 4. Pemeriksaan Kemampuan Fungsional a. Kemampuan Fungsional Dasar Pasien mampu tidur miring kekanan dan kiri, mampu duduk, mampu berdiri dan berjalan tetapi belum seimbang. b. Aktivitas Fungsional Pasien mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas seperti : menggenggam, menyisir rambut dan mengancing baju
  17. 17. 17 c. Lingkungan Aktivitas Lingkungan aktivitas mendukung karena pekerjaan rumahnya dibantu oleh keluarga. 5. Pemeriksaan Spesifik a. Kekuatan Otot dengan MMT ( Manual Muscle Testing ) No Nilai Kriteria 1 5 Subyek bergerak dengan LGS penuh melawan gravitasi dan tahanan maksimal 2 4 Subyek bergerak dengan LGS penuh melawan gravitasi dan tahanan minimal 3 3 Subyek bergerak dengan LGS penuh melawan gravitasi 4 2 Subyek bergerak dengan LGS penuh tanpa melawan gravitasi 5 1 Kontraksi otot dapat dipalpasi 6 0 Kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi Tabel 3.1 keterangan pemeriksaan MMT Sendi Otot Penggerak Kanan Normal Shoulder Fleksor 3 5 Ekstensor 3 5 Abduktor 3 5 Adduktor 3 5 Elbow Fleksor 3 5 Ekstensor 3 5 Wrist Fleksor 2 5 Ekstensor 2 5 Hip Fleksor 3 5 Ekstensor 3 5 Abduktor 3 5 Adduktor 3 5 Knee Fleksor 4 5 Ekstensor 4 5 Ankle Fleksor 2 5 Ekstensor 3 5 Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan MMT tanggal 05 november 2014
  18. 18. 18 b. Pemeriksaan ADL dengan Indeks Barthel Aktifitas Nilai Bantu an Mandi 1. Makan 5 ri 2. Berpindah dari kursi roda ke tempat 10 3. Kebersihan diri, mencuci muka, 5 4. Aktivitas di toilet ( menyemprot, mengelap 5 ) 5. Mandi 5 6. Berjalan di jalan yang datar. 10 7. Naik turun tangga 5 8. Berpakaian termasuk menggunakan sepatu 5 9. Mengontrol BAB 10 10. Mengontrol BAK 10 Jumlah 70 Tabel 3.3 Hasil pemeriksaan indeks barthel tanggal 05 november 2014 Hasil : pasien mengatalami ketergantungan moderat Keterangan : 0 – 20 : Ketergantungan penuh 21 – 61 : Ketergantungan berat atau sangat tergantung 62 – 90 : Ketergantungan moderat 91 – 99 : Ketergantungan ringan 100 : Mandiri c. Pemeriksaan Koordinasi
  19. 19. 19 nilai Jenis Tes 2 Finger to nose 3 Finger to therapist finger 3 Finger to finger 2 Graps 3 Heel to knee 3 Heel to toes Tabel 3.4 Hasil pemeriksaan koordinasi tanggal 05 november 2014 Keterangan : 1) Tidak mampu melakukan aktifitas. 2) Keterbatasan berat, hanya dapat mengawali aktifitas tetapi tidak lengkap. 3) Keterbatasan sedang, dapat menyelesaikan aktifitas tetapi koordinasi tampak menurun dengan jelas, gerakan lambat, kaku dan tidak stabil. 4) Keterbatasan minimal, dapat menyelesaikan aktifitas dengan kecepatan dan kemampuan lebih lambat sedikit dari normal. 5) Kemampuan normal. d. Gait analisis Gambar 3.1 gait analisis Dari hasil pemeriksaan, didapatkan hasil bahwa Ny”F” mengalami kehilangan fase berjalan pada fase initial contact, terminal stance, dan terminal swing.
  20. 20. 20 C. Diagnosis Fisioterapi 1. Impairment : - Adanya kelemahan otot pada sisi dextra - Adanya fase yang hilang pada saat berjalan yaitu : initial contact, terminal stance, terminal swing. - Mengalami gangguan koordinasi dan kesimbangan. 2. Functional limitation : - Pasien mengalami kesulitan ADL seperti menyisir rambut, menggenggam, mengambil barang, mengancing baju. D. Rencana Fisioterapi 1. Tujuan Jangka pendek : - Memperbaiki kemampuan koordinasi dan keseimbangan. - Meningkatkan kekuatan otot extremitas atas dan bawah pada sisi dextra. 2. Tujuan Jangka panjang : - Meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional seoptimal mungkin seperti : menyisir rambut, menggenggam, mengambil barang, mengancing baju. E. Pelaksanaan Fisioterapi 1. IRR a. Persiapan alat : - Cek terlebih dahulu kabel dan alatnya - Pastikan tidak ada kabel yang terlilit dan terbuka, alatnya tidak rusak b. Persiapan pasien : - Posisikan pasien ergonomis dan rileks - Pada area yang diterapi bebaskan dari pakaian dan aksesoris c. Persiapan fisioterapi : - Cuci tangan sebelum melakukan tindakan atau terapi - Menjelaskan efek-efek dari alat yang diberikan d. Penatalaksanaan terapi - Posisikan alat terhadap pasien, sesuai area yang akan diterapi
  21. 21. 21 - Hidupkan IRR, lalu atur waktu selama 10-15 menit - Tanyakan pada pasien (kontrol terus), tentang efek hangat yang dirasakan - Jika terlalu hangat, jauhkan jarak sinarnya Gambar 3.2 pelaksanaan terapi dengan IRR 2. Terapi latihan 1. Persiapan pasien - Pasien diposisikan senyaman mungkin, bebas dari pakaian dan aksesoris 2. Persiapan fisioterapi - Berikan penjelasan terhadap teknik yang akan dilakukan - Cuci tangan sebelum melakukan tindakan terapi 3. Penatalaksanaan terapi - Lakukan gerakan dengan aktif berbantuan pada otot yang mengalami kelemahan
  22. 22. 22 Gambar 3.3 pelaksanaan terapi latihan 4. Setelah selesai terapi : - Evaluasi sesaat keadaan umum pasien - Dokumentasi : catat hasil kemajuan pasien setelah selesai terapi F. Prognosis Quo Ad Sanam : Bonam Quo Ad Vitam : Bonam Quo Ad Cosmeticam : Bonam Quo Ad Fungsional : Dubia Ad Malam G. Evaluasi
  23. 23. 23 1. Hasil Pemeriksaan MMT (Manual Muscle Testing) Nopember 2014 05 07 10 12 Sendi Otot penggerak Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Shoulder Fleksor 3 5 3 5 3 5 3 5 Ekstensor 3 5 3 5 3 5 3 5 Abduktor 3 5 3 5 3 5 3 5 Adduktor 3 5 3 5 3 5 3 5 Elbow Fleksor 3 5 3 5 4 5 4 5 Ekstensor 3 5 3 5 3 5 3 5 Wrist Fleksor 2 5 2 5 2 5 3 5 Ekstensor 2 5 2 5 2 5 2 5 Hip Fleksor 3 5 3 5 3 5 3 5 Ekstensor 3 5 3 5 3 5 3 5 Abduktor 3 5 3 5 3 5 3 5 Adduktor 3 5 3 5 3 5 3 5 Knee Fleksor 4 5 4 5 4 5 4 5 Ekstensor 4 5 4 5 4 5 4 5 Ankle Fleksor 2 5 2 5 2 5 3 5 Ekstensor 3 5 2 5 3 5 3 5 Tabel 3.5 hasil pemeriksaan MMT awal-akhir 2. Hasil pemeriksaan dengan Indeks Barthel Aktifitas Nilai Bantua Mandir 1. Makan 5 2. Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur dan 10
  24. 24. 24 3. Kebersihan diri, mencuci muka, menyisir, 5 4. Aktivitas di toilet ( menyemprot, mengelap ) 5 5. Mandi 5 6. Berjalan di jalan yang datar ( jika tidak mampu 10 7. Naik turun tangga 5 8. Berpakaian termasuk menggunakan sepatu 5 9. Mengontrol BAB 10 10. Mengontrol BAK 10 Jumlah 70 Tabel 3.6 hasil indeks barthel Hasil pemeriksaan pada tanggal 05 November 2014 dengan jumlah nilai 70 (Ketergantungan moderat). Aktifitas Nilai Bantua Mandir 1. Makan 5 2. Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur dan 10 3. Kebersihan diri, mencuci muka, menyisir, 5 4. Aktivitas di toilet ( menyemprot, mengelap ) 5 5. Mandi 5 6. Berjalan di jalan yang datar ( jika tidak mampu 10 7. Naik turun tangga 5 8. Berpakaian termasuk menggunakan sepatu 5 9. Mengontrol BAB 10 10. Mengontrol BAK 10 Jumlah 70 Hasil pemeriksaan pada tanggal 07 November 2014 dengan jumlah nilai 70 (Ketergantungan moderat). Aktifitas Nilai Bantua Mandir 1. Makan 10 2. Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur dan 10 3. Kebersihan diri, mencuci muka, menyisir, 10
  25. 25. 25 4. Aktivitas di toilet ( menyemprot, mengelap ) 5 5. Mandi 5 6. Berjalan di jalan yang datar ( jika tidak mampu 15 7. Naik turun tangga 5 8. Berpakaian termasuk menggunakan sepatu 5 9. Mengontrol BAB 10 10. Mengontrol BAK 10 Jumlah 85 Hasil pemeriksaan pada tanggal 10 November 2014 dengan jumlah nilai 85 (Ketergantungan moderat). Aktifitas Nilai Bantua Mandir 1. Makan 10 2. Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur dan 10 3. Kebersihan diri, mencuci muka, menyisir, 10 4. Aktivitas di toilet ( menyemprot, mengelap ) 5 5. Mandi 5 6. Berjalan di jalan yang datar ( jika tidak mampu 15 7. Naik turun tangga 5 8. Berpakaian termasuk menggunakan sepatu 5 9. Mengontrol BAB 10 10. Mengontrol BAK 10 Jumlah 85 Hasil pemeriksaan pada tanggal 12 November 2014 dengan jumlah nilai 85 (Ketergantungan moderat). 3. Hasil pemeriksaan dengan gait analisis Tipe gait analisis November 2014 07 11 13 18 Initial contact - - - - Loading respon + + + +
  26. 26. 26 Mid stance + + + + Terminal stance - - - - Preswing + + + + Mid swing + + + + Terminal swing - - - - Tabel 3.7 Hasil pemeriksaan Gait Analisis awal-akhir Ket : + : Ada fasenya. - : Tidak ada fasenya. 4. Hasil pemeriksaan Test Koordinasi Jenis Tes 07 Novembe r 2014 11 Novembe r 2014 13 Novembe r 2014 18 November 2014 Finger to nose 2 2 3 3 Finger to therapist 3 3 3 3 finger Finger to finger 3 3 3 4 Graps 2 2 3 3 Heel to knee 3 3 3 4 Heel to toes 3 3 4 4 Tabel 3.8 Hasil pemeriksaan test koordinasi awal-akhir Keterangan : 1. Tidak mampu melakukan aktifitas. 2. Keterbatasan berat, hanya dapat mengawali aktifitas tetapi tidak lengkap. 3. Keterbatasan sedang, dapat menyelesaikan aktifitas tetapi koordinasi tampak menurun dengan jelas, gerakan lambat, kaku dan tidak stabil. 4. Keterbatasan minimal, dapat menyelesaikan aktifitas dengan kecepatan dan kemampuan lebih lambat sedikit dari normal.
  27. 27. 27 5. Kemampuan normal. H. Hasil Terapi Akhir Pasien yang bernama Ny ”F” 47 tahun dengan kondisi hemiparese dextra pasca stroke non hemoragik setelah mendapatkan penanganan fisioterapi sebanyak 4 kali dengan menggunakan terapi latihan maka didapatkan hasil dimana adanya peningkatan kekuatan otot, perubahan pada aktifitas fungsional, perbaikan koordinasi dan keseimbangan, dan belum ada perubahan pada gait pasien. BAB IV PENUTUP KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
  28. 28. 28 Berdasarkan etiologi Hinton (1995) membagi stroke menjadi dua : (a) Stroke hemoragik yaitu suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan pendarahan pada area tersebut ; (b) Stroke non hemoragik, yaitu gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah otak sehingga distribusi oksigen dan nutrient ke area yang mendapat suplai terganggu. Tanda dan gejala pada penderita pasca stroke non hemorragik stadium akut secara umum meliputi ; (a) gangguan motorik : kelemahan atau kelumpuhan separo anggota gerak, gangguan gerak volunter, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi ; (b) gangguan sensoris : gangguan perasaan, kesemutan, rasa tebal-tebal ; (c) gangguan bicara : sulit berbahasa (disfasia), tidak bisa bicara (afasia motorik), tidak bisa memahami bicara orang (afasia sensorik) ; (d) gangguan kognitif (Soetedjo, 2004, dalam Rujito, 2007). Peran fisioterapi sangatlah penting bagi penderita pasca stroke karena untuk mengembalikan aktifitas fungsional pasien secara optimal merupakan tujuan utama fisioerapi. Salah satunya dengan memberikan terapi latihan yang berfungsi memperbaiki otot-otot yang tidak efisien dan mengembalikan gerak-gerak sendi kembali normal. Sehingga dapat meningkatkan aktivitas fungsional pasien dengan maksimal. B. Saran Penanganan fisioterapi pasca stroke adalah kebutuhan yang mutlak bagi pasien untuk dapat meningkatkan kemampuan gerak dan fungsinya. Berbagai metode intervensi fisioterapi seperti yang telah di bahas dalam makalah studi kasus ini yaitu electrotherapy dan exercise therapy telah terbukti memberikan manfaat yang besar dalam mengembalikan gerak dan fungsi pada pasien pasca stroke. Akan tetapi peran serta keluarga yang merawat dan mendampingi pasien juga sangat menentukan keberhasilan program terapi yang diberikan. Kemampuan anggota keluarga memberikan penanganan akan berdampak sangat baik bagi pemulihan pasien. Penanganan fisioterapi pasca stroke pada prinsipnya adalah proses pembelajaran sensomotorik pada pasien dengan metode-metode tersebut diatas. Akan tetapi interaksi antara pasien dan fisioterapis amat sangat terbatas, lain halnya dengan keluarga pasien yang memiliki waktu relatif lebih banyak. Dampak lain adalah
  29. 29. 29 jika pemahaman anggota keluarga kurang tentang penanganan pasien stroke maka akan menghasilkan proses pembelajaran sensomotorik yang salah pula. Hal ini justru akan memperlambat proses perkembangan gerak. Bagi orang-orang yang beresiko terkena stroke harus melakukan pencegahan terhadap serangan stroke tersebut.

×