Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Sistem Pernapasan Manusia LKS

Tugas sekolah_EKASMA

  • Login to see the comments

Sistem Pernapasan Manusia LKS

  1. 1. LKS BIOLOGI Sistem Pernapasan Manusia Kelas XI IPA 1 SMA NEGERI 1 SEMARAPURA
  2. 2. Anggota Kelompok 1. Made Bakti Sukma Dewi ( 01 ) 2. Ni Putu Nining Purwaningsih ( 07 ) 3. Ni Putu Maetri Megantari ( 10 ) 4. Komang Ayu Yulianitha Dewi ( 12 ) 5. Ni Wayan Galung Aryani ( 18 ) 6. Anak Agung Istri Dewi ( 24 )
  3. 3. LEMBAR KERJA SISWA BIOLOGI SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA 1.1 Tujuan Mengetahui alat-alat pernapasan penyusun sistem pernapasan pada manusia. 1.2 Alat dan Bahan 1. Charta atau gambar sistem pernapasan pada manusia. 2. Alat tulisan. 1.3 Cara Kerja 1. Melakukan pengamatan pada charta atau gambar sistem pernapasan pada manusia. 2. Menuliskan alat-alat pernapasan yang membentuk sistem pernapasan pada manusia secara urut. 1.4 Pertanyaan 1. Jelaskan urutan masuknya udara yang melewati saluran atau alat-alat pernapasan ? 2. Bagaimana proses pertukaran O2 dan CO2 terjadi ? 3. Gambarkan secara sederhana proses pertukaran O2 dan CO2 yang terjadi ? 4. Tuliskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap difusi O2 ! 5. Buatlah laporan hasil pengamatan ! 6. Diskusikan hasilnya dengan teman kelompok lain !
  4. 4. 1.5 Jawaban 1. Urutan masuknya udara yang melewati saluran atau alat-alat pernapasan pada manusia adalah : Rongga hidung  Faring (rongga tekak)  Laring  Trakea (batang tenggorok)  Bronkus  Alveolus  Sel-sel tubuh. Udara masuk melalui lubang hidung >> melewati nasofaring >> melewati oralfarink >> melewati glotis >> masuk ke trakea >> masuk ke percabangan trakea yang disebut bronchus >> masuk ke percabangan bronchus yang disebut bronchiolus >> udara berakhir pada ujung bronchus berupa gelembung yang disebut alveolus >> pertukaran udara yang sebenarnya hanya terjadi di alveoli. Dalam paru-paru orang dewasa terdapat sekitar 300 juta alveoli, dengan luas permukaan sekitar 160 m2 atau sekitar 1 kali luas lapangan tenis, atau luas 100 kali dari kulit kita. Penjelasan lebih lanjut : Proses pernapasan pada manusia dimulai dari hidung. Udara yang diisap pada waktu menarik nafas (inspirasi) biasanya masuk melalui lubang hidung (nares) kiri dan kanan selain melalui mulut. Pada saat masuk, udara disaring oleh bulu hidung yang terdapat di bagian dalam lubang hidung. Pada waktu menarik napas, otot diafragma berkontraksi. Semula kedudukan diafragma melengkung keatas sekarang menjadi lurus sehingga rongga dada menjadi mengembang. Hal ini disebut pernapasan perut. Bersamaan dengan kontraksi otot diafragma, otototot tulang rusuk juga berkontraksi sehingga rongga dada mengembang. Hal ini disebut pernapasan dada. Akibat mengembangnya rongga dada, maka tekanan dalam rongga dada menjadi berkurang, sehingga udara dari luar masuk melalui hidung selanjutnya melalui saluran pernapasan akhirnya udara masuk ke dalam paru-paru, sehingga paru-paru mengembang.
  5. 5. Setelah melewati rongga hidung, udara masuk ke kerongkongan bagian atas (naro-pharinx) lalu kebawah untuk selanjutnya masuk tenggorokan (larynx). Setelah melalui tenggorokan, udara masuk ke batang tenggorok atau trachea, dari sana diteruskan ke saluran yang bernama bronchus atau bronkus. Saluran bronkus ini terdiri dari beberapa tingkat percabangan dan akhirnya berhubungan di alveolus di paru-paru. Udara yang diserap melalui alveoli akan masuk ke dalam kapiler yang selanjutnya dialirkan ke vena pulmonalis atau pembuluh balik paruparu. Gas oksigen diambil oleh darah. Dari sana darah akan dialirkan ke serambi kiri jantung dan seterusnya. Selanjutnya udara yang mengandung gas karbon dioksida akan dikeluarkan melalui hidung kembali. Pengeluaran napas disebabkan karena melemasnya otot diafragma dan otot-otot rusuk dan juga dibantu dengan berkontraksinya otot perut. Diafragma menjadi melengkung ke atas, tulang-tulang rusuk turun ke bawah dan bergerak ke arah dalam, akibatnya rongga dada mengecil sehingga tekanan dalam rongga dada naik. Dengan naiknya tekanan dalam rongga dada, maka udara dari dalam paru-paru keluar melewati saluran pernapasan. 2. Proses pertukaran O2 dan CO2 terjadi melalui dua tahap, yaitu pernapasan luar (eksternal) dan pernapasan dalam (internal). a. Pernapasan dalam (esternal) Merupakan pertukaran gas di dalam paru-paru. Sehingga berlangsung difusi gas dari luar masuk ke dalam aliran darah. Secara sederhana pernapasan luar merupakan pertukaran gas (O 2 dan CO2) antara udara dan darah. Darah akan masuk ke dalam kapiler paru-paru yang mengangkat sebagian besar karbon dioksida sebagai ion bikarbonat (HCO 3-) dengan persamaan reaksi seperti berikut. H+ + HCO3-  H2CO3
  6. 6. Ketika karbon dioksida yang tinggal sedikit berdifusi keluar dari dalam darah, sehingga terjadi reaksi berikut. Enzim karbonat anhydrase yang terdapat dalam sel-sel darah merah dapat mempercepat reaksi. Ketika reaksi berlangsung hemoglobin melepaskan ion-ion hydrogen yang telah diangkut; H Hb menjadi Hb. Selanjutnya hemoglobin siap untuk mengikat oksigen dan menjadi oksihemoglobin. Hb + O2  HbO2 Selama pernapasan luar, di dalam paru-paru akan terjadi pertukaran gas yaitu CO2 meninggalkan darah dan O2 masuk ke dalam darah secara difusi. Terjadinya difusi O2 dan CO2 ini dikarenakan adanya tekanan parsial. Tekanan udara luar sebesar 1 atm (760 mmHg), sedangkan tekanan parsial O2 di paru-paru sebesar ±160 mmHg. Tekanan parsial pada kapiler darah arteri ±100 mmHg, dan di vena ±40 mmHg. Hal ini menyebabkan O 2 berdifusi dari udara ke dalam darah. Sementara itu, tekanan parsial CO2 dalam vena ±47 mmHg, tekanan parsial CO2 ±41 mmHg, dan tekanan parsial CO2 dalam alveolus ±40 mmHg. Oleh karena itu, CO2 akan berdifusi dari darah ke alveolus. b. Pernapasan dalam (Internal) Proses terjadinya pertukaran gas pada pernapasan internal berlangsung (pertukaran gas di dalam jaringan tubuh) darah masuk ke dalam jaringan tubuh, oksigen meninggalkan hemoglobin dan berdifusi masuk ke dalam cairan jaringan tubuh. Reaksiya sebagai berikut: HbO2  Hb + O2 Proses pertukaran oksigen dalam darah dan karbondioksida tersebut berlangsung dalam respirasi seluler. Difusi oksigen keluar dari darah dan masuk ke dalam cairan jaringan dapat terjadi,
  7. 7. karena tekanan oksigen di dalam cairan jaringan lebih rendah dibandingkan di dalam darah. Hal ini disebabkan karena sl-sel secara terus-menerus menggunakannya dalam respirasi sel. Perlu diketahui bahwa tekanan parsial O2 pada kapiler darah nadi ±100 mmHg dan tekanan parsial dalam jaringan tubuh ±40 mmHg. Sebaliknya tekanan Karbondioksida adalah tinggi, karena Karbondioksida secara terus menerus dihasilkan oleh sel-sel tubuh. Tekanan parsial CO2 dalam jaringan lebih ±60 mmHg dan dalam kapiler darah ±41 mmHg. Peristiwa inilah yang menyebabkan O 2 dapat berdifusi kedalam jaringan dan CO2 berdifusi keluar jaringan. Dalam keadaan biasa, tubuh kita menghasilkan 200ml karbondioksida per hari. Pengangkutan CO2 di dalam darah dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu sebagai berikut : 1. Sekitar 60-70% CO2 diangkut dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-) oleh plasma darah, setelah asam karbonat yang terbentuk dalam darah terurai menjadi ion hydrogen (H+) dan ion bikarbonat (HCO3-). Ion H+ bersifat racun, oleh sebab itu, ion ini segera diikat Hb, sedangkan ion HCO3- meninggalkan eritrosit masuk ke plasma darah. Kedudukan ion HCO3- dalam eritrosit diganti oleh ion klorit. Persamaan reaksinya sebagai berikut : H2O + CO2  H2CO3  H+ + HCO32. Lebih kurang 25% CO2 diikat oleh hemoglobin membentuk karboksihemoglobin. Secara sederhana reaksi CO2 dengan Hb ditulis sebagai berikut : CO2 + Hb  HbCO2 Karboksihemoglobin disebut juga karbominohemoglobin karena bagian dari hemoglobin yang mengikat CO2 adalah gugus asam amino.
  8. 8. Reaksinya sebagai berikut : CO2 + RNH2  RNHCOOH 3. Sekitar 6-10% CO2 diangkut plasma darah dalam bentuk senyawa asam karbonat (H2CO3). 3. Pertukaran gas antara oksigen dan karbon dioksida terjadi melalui proses difusi. Proses tersebut terjadi di alveolus dan di sel jaringan tubuh. Secara sederhana, proses difusi dapat berlangsung dengan gerakan molekul-molekul melalui membran sel dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Oksigen masuk melalui inspirasi dari rongga hidung sampai alveolus. Karena tekanan parsial oksigen pada alveolus lebih tinggi daripada tekanan parsial oksigen pada kapiler arteri, maka terjadilah difusi. Lalu oksigen di kapiler paru-paru diikat oleh eritrosit yang mengandung hemoglobin hingga menjadi jenuh Hemoglobin terbagi menjadi 4 subunit yang masing-masing memiliki bagian yang bernama heme. Di setiap pusat heme terdapat unsur besi yang dapat berikatan dengan oksigen. Sehingga setiap molekul hemoglobin dapat oksihemoglobin. mengikat Secara 4 molekul sederhana, oksigen pengikatan berbentuk oksigen oleh hemoglobin dapat diperlihatkan menurut persamaan reaksi bolak-balik berikut ini : Hb + 4 O2  Hb(O2)4. Hemoglobin akan mengangkut oksigen ke jaringan tubuh yang kemudian akan berdifusi dengan sel-sel tubuh yang akan digunakan untuk proses respirasi. Di dalam sel-sel tubuh atau jaringan tubuh, oksigen digunakan untuk proses respirasi yang terjadi pada mitokondria sel. Semakin banyak oksigen yang digunakan oleh sel-sel tubuh, semakin banyak pula karbon dioksida yang dibentuk dari proses respirasi. Maka dari itu, tekanan parsial karbon dioksida (PCO2) didalam kapiler vena lebih rendah daripada di dalam sel-sel tubuh. Sehingga terjadi proses
  9. 9. difusi karbon dioksida dari dalam sel-sel tubuh menuju kapiler vena yang akan kembali ke paru-paru. Setelah sampai dalam paru-paru, terjadi difusi CO2 dari kapiler vena menuju alveolus. Setelah itu, karbon dioksida akhirnya akan dikeluarkan dari tubuh melalui ekspirasi. Sebagian besar CO 2 yang dibawa oleh darah adalah berupa ion bikarbonat sedangkan sisanya adalah CO2 bebas yang segera dikeluarkan dari tubuh. Setelah mendapatkan ion H+ dari HHb, ion bikarbonat tersebut menjadi asam bikarbonat. Lalu terurai menjadi air dan karbon dioksida.
  10. 10. Berikut adalah karbondioksida: skema mekanisme pertukaran oksigen dan
  11. 11. 4. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap difusi O2, antara lain: 1. Perbedaan tekanan parsial oksigen antara alveoli dan kapiler paru. Tekanan udara luar sebesar 1 atm (760 mmHg), sedangkan tekanan parsial O2 di paru-paru sebesar ± 160 mmHg. Tekanan parsial pada kapiler darah arteri ± 100 mmHg, dan di vena ± 40 mmHg. Hal ini menyebabkan O2 berdifusi dari udara ke dalam darah. 2. Ketebalan membran respirasi. Peningkatan ketebalan membrane merintangi proses kecepatan difusi karena hal tersebut membuat gas memerlukan waktu lebih lama untuk melewati membrane tersebut. Klien yang mengalami edema pulmonar, atau efusi pulmonar membrane memiliki ketebalan membrane alveolar kapiler yang meningkat akan mengakibatkan proses difusi yang lambat, pertukaran gas pernapasan yang lambat dan mengganggu proses pengiriman oksigen ke jaringan. 3. Koefisien difusi O2 dan CO2. 4. Luas permukaan dan komposisi membran respirasi. Semakin besar luas permukaan membran, semakin cepat kecepatan difusi Oksigennya. Ini karena oksigen lebih mudah dalam melewati membrane, sehingga lebih banyak Oksigen yang berdifusi. 5. Jumlah eritrosit / kadar Hb. Semakin banyak jumlah/kadar Hemoglobin dalam darah akan mempercepat proses difusi. Hal ini karena jumlah darah yang mengikat O 2 lebih banyak sehingga difusi lebih cepat terjadi.

×