Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Modul 6 Praktik Kebid III

Modul 6 Praktik Kebid III smt7

  • Be the first to comment

Modul 6 Praktik Kebid III

  1. 1. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 1 ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN DENGAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI MODUL Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Jakarta 2015 Seni Rahayu Sunarya,Diyan Indrayani Australia Indonesia Partnership for Health System Strengthening (AIPHSS) SEMESTER 7 Praktik Kebidanan III
  2. 2. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan i Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia- Nya sehingga dapat menyelesaikan Modul Asuhan Kebidanan kehamilan dengan penyulit dan komplikasi sebagai Pedoman Praktik Kebidanan III bagi mahasiswa semester V Program Pendidikan Jarak Jauh DIII Kebidanan . Penyusunan modul ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam melaksanakanPraktikKebidananIIIsehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dan kompetensi Asuhan Kebidanan kehamilan dengan penyulit dan komplikasi secara efektif dan efisien. Diharapkan setelah menyelesaikan Praktik Kebidanan III ini mahasiswa dapat memberikan pelayanan asuhan kebidanan tidak hanya bagi ibu dengan kondisi normal maupun ibusecara mandiri dan memuaskan bagi ibu maupun bayinya beserta keluarga dan masyarakat. Penyusun menyadari bahwa pedoman Praktik Kebidanan III bagi mahasiswa program jarak jauh DIII kebidanan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, sehingga bisa memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam proses belajar di klinik. Kata Pengantar Tim Penyusun Gambar : Praktek Keperawatan Kejiwaan
  3. 3. ii Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Daftar Isi i Daftar Istilah ii Kegiatan Belajar 1 Asuhan kebidanan pada perdarahan hamil muda 5 Kegiatan Belajar 2 Asuhan kebidanan ibu hamil dengan anemia 26 Kegiatan Belajar 3 Asuhan Kebidanan pada Perdarahan Kehamilan Lanjutan 45 Kegiatan Belajar 4 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Preeklamsi/Eklamsi 58 Kegiatan Belajar 5 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Infeksi Malaria 75 Kegiatan Belajar 6 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan HIV/AIDS 90 Evaluasi Akhir 108 Lampiran 110 Daftar Gambar 134
  4. 4. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan iii Daftar Istilah ISTILAH KETERANGAN Antenatal Masa kehamilan BPM Bidan Praktik Mandiri DJJ Denyut Jantung Janin Hb Haemoglobin Abortus Pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram Kehamilan Ektopik Kehamilan di luar rahim Mola Hydatidosa Kehamilan anggur Abortus Imminens Abortus terancam Dapat dipertahankan Abortus Komplit Abortus dengan pengeluaran seluruh hasil konsepsi Abortus Insipiens Abostur sedang berlangsung Abortus Inkomplit Abostur dengan pengeluaran sebagian hasil konsepsi Anemia Kurangnya haemoglobin darah PAP Pintu Atas Panggul Plasenta Previa plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium internum) Solusio Plasenta terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir Preeklamsia Penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria yang timbul karena kehamilan HIV/AIDS Kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga memberi kesempatan berkembangnya berbagai bentuk infeksi dan keganasan BPM Bidan Praktik mandiri VCT Voluntary Counseling and Testing ARV Anti Retro Viral (obat-obatan anti virus HIV)
  5. 5. iv Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan ODHA Orang dengan HIV/AIDS PITC Provider Initiatif Test and Counseling PMTCT Prevention Mother To Child Transmition
  6. 6. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 1 Rekan mahasiswa, Selamat berjumpa pada mata kuliah Praktik Kebidanan III. Modul ini merupakan modul 3 dari 16 modul yang harus Saudara selesaikan. Modul yang Saudara baca saat ini membahas tentang asuhan kebidanan pada kehamilan dengan penyulit dan komplikasi. Setelah mempelajari modul ini, Saudara diharapkan mampu memberikan asuhan berupa deteksi dini, melakukan penatalaksanaan awal dan melakukan kolaborasi serta rujukan pada ibu hamil yang mengalami komplikasi atau kegawatdaruratan. Untuk mencapai tujuan tersebut secara khusus saudara diharapkan dapat: (1) melakukan asuhan pada ibu perdarahan hamil muda, (2) melakukan asuhan antenatal pada ibu hamil dengan anemia,(3) melakukan asuhan pada ibu hamil dengan preeklamsi/ eklamsi, (4) melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil lanjut, (5) melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria, (6) melakukan asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS Kasus-kasus tersebut diatas merupakan kasus yang paling sering dialami oleh ibu hamil, oleh karena itu materi ini penting untuk saudara kuasai agar mampu mengelola kasus dengan tepat sehingga angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi dapat dicegah sejak dini. Modul ini dibagi menjadi 6 kegiatan belajar (KB), yaitu: KB 1 Asuhan pada ibu perdarahan hamil muda KB 2 Asuhan antenatal pada ibu hamil dengan anemia KB 3 Asuhan pada ibu hamil dengan preeklamsi/ eklamsi KB 4 Asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil lanjut Pendahuluan Gambar : Memeriksa tensi
  7. 7. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 2 KB 5 Asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria KB 6 Asuhan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS Untuk mempelajari modul ini, ada beberapa prasyarat yang perlu saudara penuhi yaitu telah lulus Praktik Kebidanan I dan Praktik Kebidanan II. Sebelum saudara melakukan praktik kebidanan III pelajari kembali materi – materi pada mata kuliah askeb I,askeb IV, PK I dan II. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung pada kesungguhan saudara dalam mengerjakan praktikum. Seringlah Berlatih secara mandiri atau berkelompok dengan teman sejawat. Jika menemukan kesulitan silakan menghubungi tutor atau instruktur saudara. Tempat Praktik : Rumah Bersalin, Puskesmas dengan rawat inap dan Rumah Sakit Pada praktik klinik ini jumlah SKS yang ditempuh adalah 8 SKS, dimana 1 SKS setara dengan 64 jam, jadi 8 SKS menjadi 512 jam. Jika saudara praktik di lapangan 7 jam per hari, maka waktu yang dibutuhkan untuk praktik PK III adalah : 74 hari (2,5 bulan). Jadwal pelaksanaan praktik klinik ini dilakukan bersamaan dengan pencapaian target PKK III yang lain, diantaranya asuhan antenatal, Asuhan intranatal, asuhan nifas, asuhan neonatus, asuhan kebidanan Keluarga berencana, dan kegawatan maternal neonatal. Pembimbing Praktik: Saudara selama di lahan praktik akan dibimbing oleh pembimbing klinik (Clinical Instructur) dan pembimbing institusi saudara. Pembimbing klinik ditunjuk dan ditetapkan oleh atasan tempat saudara melakukan praktik, dengan latar belakang pendidikan minimal DIII Kebidanan dan berpengalaman di klinik minimal 2 tahun sedangkan pembimbing institusi adalah pembimbing yang mendapatkan tugas dari pimpinan institusi tersebut. Petunjuk Belajar
  8. 8. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 3 Teknis Bimbingan: Pada awal praktik yang saudara akan melakukan pertemuan dengan pembimbing klinik (preconference) pada pertemuan tersebut akan membahas kontrak belajar, persamaan persepsi mengenai kontrak belajar. Dan selanjutnya saudara akan mendapatkan bimbingan klinik. Setelah saudara melakukan praktik akan dilakukan pertemuan kembali (postconference) yang akan membahas mengenai praktik yang telah saudara lakukan, pemberian umpan balik untuk perbaikan praktik klinik berikutnya. Pada praktik Kebidanan III ini saudara diharapkan sudah mampu melakukan asuhan antenatal dengan penyulit dan komplikasi secara mandiri, bila Saudara menemukan kesulitan saat memberikan asuhan kepada klien saudara dapat berkonsultasi dengan Pembimbing praktik. Pembimbing institusi akan memantau pencapaian kompetensi saudara, melalui supervisi secara berkala ataupun saudara mengirimkan laporan portofolio dalam bentuk laporan asuhan kebidanan melalui media elektronik maupun dikirim melalui post surat, sehingga pembimbing institusi dapat memonitor pencapaian target kompetensi praktik klinik yang saudara buat. Penilaian: Penilaian mata kuliah Praktek Kebidanan III meliputi: Ujian Praktik : 50% Nilai praktik Harian : 30% Laporan/Dokumentasi : 20% Jumlah kompetensi yang harus dicapai pada saat PK III adalah 40% dari keseluruhan praktik (PK I,II dan III) jumlah ini dapat bertambah apabila jumlah target PKK II belum tercapai. Tata Tertib. Selama saudara menjalankan praktik klinik kebidanan ini, wajib mentaati tata tertib yang ada, antara lain: 1. Saudara wajib mentaati peraturan yang berlaku di lahan praktik. 2. Kehadiran saudara harus sesuai jadwal yang ditetapkan pembimbing klinik 3. Kehadiran praktik 100%, bila tidak hadir wajib mengganti praktik pada kesempatan lain
  9. 9. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 4 selama periode praktik di tempat yang sama dengan persetujuan pembimbing prodi dan lahan praktik. Penggantian praktik dibuktikan dengan Surat Pernyataan 4. Setiap saudara datang ke tempat praktik wajib menandatangani daftar hadir. 5. Bila saudara ada halangan tidak bisa hadir pada praktik klinik ini, maka saudara harus meminta ijin kepada pembimbing klinik saudara. Bila sakit harus ada surat keterangan dokter, bila ijin kepentingan lain harus melapor terlebih dulu pada penanggung jawab praktik. 6. Saudara wajib mengganti waktu praktik sepanjang yang ditinggalkan, apabila meninggalkan praktik tanpa keterangan maka harus mengganti dua kali lipat dari waktu yangn ditinggalkan 7. Bila saudara, ditengah-tengah praktik meninggalkan tempat tanpa ijin, maka dianggap tidak hadir.Baiklah rekan mahasiswa, selamat belajar, semoga Saudara sukses memahami dan mempraktikkan modul ini sebagai bekal bertugas sebagai bidan di daerah.
  10. 10. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 5 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu untuk melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda. Secara khusus saudara diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan jenis perdarahan hamil muda, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari perdarahan hamil muda, 5. Membuat rencana asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda, 6. Melaksanakan asuhan dan melakukan evaluasi terhadap asuhan yang telah diberikan. Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar ini adalah: 1. Pengertian perdarahan hamil muda 2. Diagnosis perdarahan hamil muda 3. Penanganan perdarahan hamil muda 4. Prosedur melakukan digital 5. Prosedur penanganan syok 6. Prosedur persiapan kuretase Kegiatan Belajar 1 Asuhan pada Ibu dengan Perdarahan Hamil Muda Tujuan Umum Tujuan Khusus Pokok Materi
  11. 11. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 6 Pada waktu yang lalu, saudara telah mempelajari modul teori tentang asuhan kehamilan dengan penyulit/komplikasi dan mempraktikannya dalam praktik PK II. Kini saudara dapat mempraktikkannya kembali dalam PK III. Pada PK III ini, Saudara diharapkan dapat mempraktikkan dengan lebih baik dan kompeten tentang bagaimana melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, membuat diagnosa, memberikan asuhan sesuai dengan kebutuhan ibu dan mendokumentasikannya. NGBaiklah, sebelum saudara mulai melakukan asuhan pada ibu dengan perdarahan hamil muda mari kita tinjau kembali kajian teori, hal ini akan mengingatkan saudara apa saja yang harus dipahami bidan saat memberikan asuhan pada kehamilan trimester I yang mengalami perdarahan. Apakah saudara masih ingat apakah yang dimaksud dengan perdarahan pada kehamilan muda? Apa saja yang termasuk perdarahan pada kehamilan muda perdarahan pada kehamilan muda dan Kapan itu terjadi? Tuliskan pada kotak di bawah ini: Uraian Materi
  12. 12. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 7 Bagaimana apakah sudah selesai, jika sudah, coba sekarang cocokkan jawaban Saudara dengan uraian berikut: 1. Pengertian Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 22 minggu. Ketika terjadi hal tersebut saudara harus memikirkan kemungkinan diagnosis apakah perdarahan terjadi karena abortus, kehamilan ektopik atau mola hydatidosa. Coba saudara bandingkan perbedaan pengertian antara abortus, kehamilan ektopik dan mola hydatidosa berikut ini : • Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. • Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri. • Mola hydatidosa merupakan suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar, tidak ditemukan janin dan hampir seluruh villi korialis mengalami degenerasi hidropik. Rekan mahasiswa, seorang bidan harus bisa mendeteksi secara dini kemungkinan kejadian kasus-kasus tersebut. Bidan harus bisa mengenali tanda gejala perdarahan hamil muda serta mampu melakukan pemeriksaan fisik yang tepat sehingga diagnosis perdarahan hamil muda dapat ditegakan secara tepat. Berikut adalah dasar bagaimana kita melakukan diagnosis pada perdarahan hamil muda. Gambar : Mempelajari dengan seksama
  13. 13. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 8 2. Diagnosis Untuk memudahkan saudara membedakan jenis-jenis perdarahan pada kehamilan muda maka pelajarilah tabel berikut ini: Diagnosis perdarahan pada kehamilan muda Perdarahan Keadaan serviks Uterus Gejala/tsaudara Diagnosis Bercak hingga sedang Tertutup Sesuai dengan usia kehamilan • Kram perut bawah Uterus lunak Abortus imminens Sedikit membesar dari normal • Pingsan • Nyeri perut bawah • Nyeri goyang porsio • Ada massa adneksa • Terdapat cairan bebas intraabdomen Kehamilan ektopik terganggu Tertutup atau terbuka Lebih kecil dari usia gestasi • Sedikit nyeri atau tanpa nyeri perut bawah • Riwayat ada pengeluaran hasil konsepsi Abortus komplit Sedang hingga banyak Terbuka Sesuai usia kehamilan • Kram/nyeri perut bawah • Belum ada pengeluaran hasil konsepsi Abortus insipiens • Kram/nyeri perut bawah • ada pengeluaran sebagian hasil konsepsi Abortus inkomplit Terbuka Lunak dan lebih besar dari usia kehamilan • mual muntah • kram perut bawah • keluar jaringan seperti anggur Abortus Mola hydatidosa Diagnosis yang tepat akan mempengaruhi terhadap penanganan yang tepat pula. Bidan harus memikirkan kemungkinan diagnosis potensial dan antisipasinya. Perdarahan hamil muda jika tidak ditangani secara cepat dan tepat potensial terjadi syok
  14. 14. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 9 hipovolemik bahkan syok septik jika sisa hasil konsepsi lama tidak dikeluarkan. Bidan harus mampu melakukan penanganan segera pada kasus tersebut yaitu: 1. lakukan penilaian cepat mengenai keadaan umum ibu, termasuk tanda-tanda vital (Nadi, Tekanan Darah, Respirasi, suhu) dan jumlah perdarahan 2. Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, nadi > 112 x/menit, tekanan sistolik < 90 mmHg) 3. Jika syok, segera mulai penanganan syok 3. Penanganan Berikut adalah tabel penangan perdarahan pada hamil muda sesuai dengan dignosisnya: Diagnosis Penanganan Abortus imminens • Tidak perlu bed rest • Hindari aktivitas fisik yang berlebihan • Hindari hubungan seksual • Jika perdarahan berhenti, ANC seperti biasa • Jika perdarahan terus berlangsung: nilai kondisi janin/ USG lakukan konfirmasi kemungkinan penyebab Kehamilan ektopik terganggu • Jika fasilitas memungkinkan segera lakukan uji silang darah dan laparatomi • Jika tidak memungkinkan segera rujuk ke RS yang lebih lengkap • Konseling mengenai prognosis kesuburan • Perbaiki anemia dengan dengan sulfas ferrosus 600 mg/ hari per oral selama 2 minggu Abortus komplit • Tidak perlu evakuasi lagi • Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak • Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan • Apabila terdapat anemia sedang berikan tablet sulfas ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu, jika anemia berat berikan tranfusi darah • Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan lanjut Abortus insipiens • Jika usia kehamilan < 16 minggu, lakukan evakuasi uterus dengan aspirasi vakum manual (AVM). Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: • Berikan ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral
  15. 15. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 10 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam ) jika perlu: • Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasilkonsepsi dari uterus • Jika usia kehamilan > 16 minggu • Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan Abortus inkomplit • Jika perdarahan tidak banyak, usia kehamilan < 16 minggu maka evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti beri ergometrin 0,2 mg IM/ misoprostol 400 mcg per oral • Jika perdarahan banyak/terus berlangsung, usia < 16 minggu,maka evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: • Aspirasi vakum manual (AVM) merupakan metode evakuasi yang terpilih.evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya • dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia • Jika evakuasi belum dapat segera, dilakukan, beri ergometrin 0,2 mg IM (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) • Jika kehamilan > 16 minggu: • Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan RL/NaCl dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi • Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekpulsi hasil konsepsi • Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus • Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan Abortus Mola hydatidosa Penanganan Awal: • Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan, lakukan evakuasi uterus: • Jika dibutuhkan dilatasi serviks, gunakan blok para servikal • Pengosongan dengan aspirasi vakum manual lebih aman dari kuretase tajam. Risiko perforasi dengan menggunakan kuret tajam cukup tinggi • Isi uterus harus secara cepat dikosongkan • Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml cairan IV RL/NaCl dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagian tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektivitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat)
  16. 16. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 11 Penanganan selanjutnya: • Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal jika berencana hamil kembali atau tubektomi jika ingin menghentikan fertilitas. • Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pascaevakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena danya risiko timbulnya penyakit trofoblast yang menetap atau khoriokarsinoma. Jika tes kehamilan dengan urine tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam satu tahun pertama rujuk ke RS untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut. Kini saudara telah mengingat kembali perdarahan hamil muda dan bagaimana penanganannya. Bidan berwenang dalam menangani kegawatdaruratan karena perdarahan hamil muda, pada kasus abortus incomplet dengan perdarahan banyak bidan dapat segera melakukan pengeluaran hasil konsepsi dengan cara digital, tentunya harus memenuhi persyaratan digital (ostium uteri internum dapat dilalui minimal satu jari). Pada kasus syok, bidan harus segera melakukan pertolongan pertama pasien syok. Kini kita melangkah pada kegiatan berikutnya yaitu praktik pengeluaran sisa hasil konsepsi dengan digital.
  17. 17. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 12 DAFTAR TILIK PENGELUARAN SISA HASIL KONSEPSI DENGAN DIGITAL Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 : Bila asuhan dilakukan 0 : Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI KASUS 1 2 3 4 5 6 1 Memastikan diagnosa klien dengan abortus inkomplit (pada usia kehamilan antara 8-12 minggu) 2 Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 3 Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 4 Menjelaskan kemungkinan komplikasi/risiko tindakan pada pasien dan keluarga. 5 Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau keluarga 6 • Mempersiapkan alat-alat dan obat secara ergonomis • Bak instrument berisi: • Handschoon steril 1 pasang • Kassa steril • Kom berisi betadin • Spuit 3 cc + nald 1 buah • Oksitosin 10 IU 1 ampul • Bengkok 1 buah • Perlak dan alasnya 1 buah • APD: schort, sepatu boot, masker, dan kaca mata • Waskom berisi larutan klorin 0,5% • Wadah sampah tajam 1 buah • Wadah sampah basah 1 buah • Wadah sampah kering 1 buah 7 Meminta pasien untuk BAK/mengosongkan kandung kemih
  18. 18. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 13 8 Memposisikan pasien dalam posisi dorsal recumbent atau litotomi pada meja ginekologi 9 Memasang alas bokong 10 Memakai alat perlindungan diri: schort, sepatu boot, masker dan kaca mata 11 Mencuci tangan sesuai prosedur 12 Memakai sarung tangan steril/DTT 13 Memasukkan tangan kanan secara obstetrik ke dalam vagina 14 Memfiksasi uterus dari luar dengan tangan kiri 15 Memasukkan jari tengah ke kavum uteri (apabila pembukaan cukup besar, masukkan dua jari) 16 Mengikis sisa hasil konsepsi secara hati-hati sampai dinding uterus terasa licin 17 Mengeluarkan sisa hasil konsepsi dari dalam rahim secara perlahan 18 Memastikan perdarahan berhenti dan kontraksi uterus baik 19 Membersihkan vagina dan vulva dari sisa darah dengan kassa DTT 20 Membersihkan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% 21 Memberikan suntikan oksitosin 10 IU secara IM 22 Membersihkan tempat tidur 23 Merapikan pasien 24 Melepaskan sarung tangan secara terbalik dalam larutan klorin 0,5% 25 Mencuci tangan sesuai prosedur 26 Menjelaskan hasil tindakan pada pasien dan keluarga 27 Mendokumentasikan hasil asuhan Perdarahan hamil muda jika tidak ditangani secara cepat dan tepat potensial terjadi syok hipovolemik bahkan syok septik jika sisa hasil konsepsi lama tidak dikeluarkan. Bidan harus mampu melakukan penanganan segera pada kasus tersebut. Berikut adalah daftar tilik penanganan syok, pelajari dengan seksama.
  19. 19. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 14 DAFTAR TILIK PENANGANAN SYOK Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI KASUS 1 2 3 4 5 6 Persiapan alat 1 Selimut 2 Oksigen dan regulator 3 Ambu bag 4 Bantal minimal 3 buah untuk meninggikan posisi kaki 5 Jam tangan 6 Infus set atau treansfusion set 7 Abocath no 16 – 18 8 Cairan RL atau NaCL minimal 6 labu 9 Polycatheter beserta urin bag 10 Memberikan penjelasan kepada keluarga bahwa kondisi pasien dalam keadaan gawat dan harus dilakukan tindakan medis segera 11 Meminta persetujuan tindakan dan kerja sama dari keluarga pasien 12 Memberikan dukungan emosional dan ketenangan hati pada pasien dan keluarga Tindakan Umum 13 Memobilisasi personil/petugas yang ada untuk segera menolong pasien 14 Memeriksa tsaudara vital segera : nadi ibu 15 Menjaga kondisi badan pasien tetap hangat dengan menyelimuti dan memperhatikan suhu ruangan 16 Memiringkan kepala pasien dan badannya ke samping 17 Membebaskan jalan napas dengan cara memastikan jalan napas tidak tersumbat dan tidak memberikam minuman per oral 18 Menaikkan kaki pasien lebih tinggi dari pada kepala, kecuali pada kondisi pasien sesak napas.
  20. 20. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 15 Tindakan Khusus 20 Memberikan oksigen dalam kecepatan 6-8 liter/ menit 21 Melakukan pemasangan infus cairan RL/Na Cl 0,9% sesuai prosedur* Apabila memungkinkan pasang infus 2 jalur (kiri dan kanan) 22 Mengambil darah setelah abocath terpasang untuk pemeriksaan laboratorium apabila memungkinkan 23 Memberikan cairan infus secara cepat sebanyak 1 liter dalam waktu 15 – 20 menit (infus diguyur). Pada syok hipovolemik pada umumnya dibutuhkan 3 liter cairan untuk menstabilkan kondisi pasien. 24 Memantau kembali kondisi pasien dalam waktu 20-30 menit setelah pemberian cairan apakah stabil, meliputi: 25 Memeriksa tekanan darah, mulai naik, sistolik 100 mmHg 26 Memeriksa denyut nadi, stabil ((90x/menit atau kurang) 27 Memperhatikan kondisi mental, membaik (ketakutan/kebingungan berkurang) 28 Memeriksa produksi urin, urin bertambah (minimal 30 ml/jam atau 100 ml/4 jam) dengan melakukan kateterisasi* atau apabila tidak memungkinkan urin ditampung. 29 Mempersiapkan donor darah untuk transfusi darah apabila diketahui Hb pasien < 8 gr %. Apabila kondisi pasien stabil/membaik: 30 Mempertahankan pemberian cairan infus dalam kecepatan 1 liter per 6-8 jam (40-50 tts/menit) 31 Melakukan penanganan penyebab syok 32 Melakukan rujukan ke RS dengan fasilitas yang memadai apabila penyebab syok tidak dapat ditangani di tempat. Apabila kondisi pasien belum stabil dalam 20-30 menit: 33 Mempertahankan oksigen 6-8 liter/menit 34 Meneruskan pemberian cairan infus dengan kecepatan 1 liter dalam 15-20 menit 35 Memantau terus menerus kondisi pasien: terutama produksi urin dan tanda-tanda vital) 36 Merujuk pasien ke RS dengan fasilitas yang memadai
  21. 21. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 16 Pada penanganan perdarahan hamil muda di beberapa kasus memerlukan tindakan kuretase. Sebagai seorang bidan yang bekerja di pelayanan sekunder (Rumah Sakit) tentu harus mampu menyiapkan persiapan kuretasi. Berikut adalah daftar tilik persiapan kuretase. DAFTAR TILIK PERSIAPAN KURETASE Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI KASUS 1 2 3 4 5 6 Persiapan alat-alat (instrumen kuretase) dan bahan (dipersiapkan secara ergonomis sesuai dengan urutan pemakaian) 1 Memakai sarung tangan steril/DTT atau korentang untuk menyusun alat/bahan steril/DTT 2 Baki atau troly yang bersih dan kering dipersiapkan 3 Membentangkan alas/duk steril/DTT di atas baki/ troly 4 Meletakkan alat dan bahan steril/DTT di atas baki/ troly yang diberi alas steril secara ergonomis, meliputi: 5 1 pasang sarung spekulum sim dan L 6 1 buah cunam tampon/tampon tang 7 1 buah sonde uterus 8 1 buah tenakulum 9 1 buah fenster klem atau klem ovum 10 1 set busi/dilatator (berbagai ukuran) 11 1 set sendok kuret (berbagai usuran) 12 1 buah cunam abortus/abortus tang 13 1 buah kateter nelaton/karet 14 1 buah kom kecil 15 Kasa steril/DTT secukupnya 16 Deepers secukupnya 17 Sarung tangan 2 pasang 18 Menutup alat-alat dengan duk steril 19 Membuka sarung tangan/menyimpan korentang pada tempatnya
  22. 22. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 17 20 Persiapan obat, cairan dan perlengkapan lain 21 Menyiapkan obat/cairan dan perlengkapan lain, meliputi: 22 1 buah infus set 23 Cairan infus RL atau NaCl 0,9% 24 Spuit 5 cc 2 buah 25 Spuit 3 cc 1 buah 26 Kapas suntik DTT dalam tempatnya 27 Larutan antiseptik (Povidon iodin 10%) 28 Analgetik (Petidin atau tramadol 1-2 mg/kg BB atau ketamin HCl 0,5 mg/kg BB) 29 Sedativa (diazepam 10 mg) 30 Sulfas atropin 0,25 – 0,5 mg/ml 31 Uterotonika (oksitosin 10 IU/ml, ergometrin 0,2 mg/ml) 32 1 buah Oksigen dan regulator 33 1 buah tensimeter 34 1 buah stetoskop 35 1 buah bengkok 36 1 buah mangkok logam/botol penampung jaringan 37 2 set APD: schort, sarung kaki, masker, kaca mata 38 1 buah waskom berisi larutan klorin 0,5% 39 1 buah waskom berisi air DTT 40 1 buah wadah sampah tajam 41 1 buah wadah sampah basah 42 1 buah wadah sampah kering 43 1 buah tiang infuse 44 2 buah waslap 45 Perlengkapan pasien (pakaian ganti) Persiapan Lingkungan 46 Memasang tirai penutup/skrem 47 Menyiapkan lampu sorot Persiapan Pasien 48 Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 49 Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga.
  23. 23. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 18 50 Menjelaskan kemungkinan komplikasi/risiko tindakan pada pasien dan keluarga. 51 Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau keluarga 52 Melakukan pemeriksaan umum : tanda-tanda vital 53 Menganjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih 54 Memasang infus sebagai upaya profilaktif 55 Mempersiapkan pasien dalam posisi litotomi di meja ginekologi 56 Memasang alas bokong 57 Membersihkan daerah perut bawah dan lipat paha 58 Memasasang oksigen 4-6 liter/menit Persiapan penolong dan asisten 59 Memakai APD 60 Cuci tangan 61 Memakai sarung tangan
  24. 24. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 19 Nah, sekarang saudara sudah paham betul bagaimana asuhan pada klien dengan perdarahan hamil muda bukan? Kami harap saudara sering berlatih dalam menangani kasus perdarahan hamil muda terutama saat melakukan praktek di Rumah sakit. Namun bila masih terdapat asuhan yang belum dilakukan coba mencari kasus kembali dan berlatihlah lagi dengan menggunakan learning guide di atas Untuk lebih memperdalam materi mengenai asuhan pada perdarahan hamil muda, saat PKK III ini saudara juga harus membaca kembali modul tentang asuhan kebidanan IV (kegawatdaruratan maternal dan neonatal). Setelah melakukan asuhan, segeralah buat dokumentasinya dan jangan di tunda – tunda. Hal ini agar proses Praktik Kebidanan III berjalan lancar Lakukan hingga semua asuhan sudah dapat dilakukan dengan baik. Perdarahan pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 22 minggu, kemungkinan diagnosis pada perdarahan hamil muda yaitu terjadi karena abortus, kehamilan ektopik atau mola hydatidosa. Bidan harus bisa mendeteksi secara dini serta mampu melakukan pemeriksaan fisik yang tepat sehingga diagnosis perdarahan hamil muda dapat ditegakan secara tepat. Rangkuman
  25. 25. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 20 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/ kram, keluar darah dan gumpalan seperti daging dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Abortus imminen b. Abortus inkomplit c. Abortus komplit d. Mola hidatidosa e. KET 2 Seorang perempuan hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah dan keluar gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat. Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Abortus imminen b. Abortus inkomplit c. Abortus komplit d. Mola hidatidosa e. KET 3 Seorang perempuan hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah dan keluar gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat. Apa diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Syok Evaluasi Formatif
  26. 26. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 21 b. IUFD c. Abortus d. Dehidrasi e. Perdarahan 4 Seorang perempuan G1P0A0 hamil 3 bulan, datang ke Bidan dengan keluhan keluar darah banyak dan keluar gelembung berisi air dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU pertengahan simfisis pusat. Bidan merujuk ke RS untuk penanganan selanjutnya. Apa konseling yang diperlukan setelah penanganan kasus tersebut? a. Perlunya pengawasan kadar βHCG selama 1 tahun b. Ibu dianjurkan untuk melakukan perawatan luka c. Ibu harus menggunakan KB tubektomi d. Ajarkan ibu untuk tes kehamilan sendiri e. Perlu kuretase ulangan 5 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/ kram, keluar darah banyak disertai gumpalan seperti daging dari jalan lahir sejak 6 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Infeksi b. Dehidrasi c. Missed abortion d. Syok hipovolemik e. Abortus habitualis 6 Seorang perempuan berusia 32 tahun hamil 3 bulan datang ke Bidan dengan keluhan nyeri perut/ kram, keluar darah banyak disertai gumpalan seperti daging dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV normal, TFU 2 jari diatas simfisis, terdapat pembukaan serviks 1 jari dan teraba jaringan. Apa tindakan awal bidan pada kasus tersebut? a. Merujuk ke RS b. Melakukan digital
  27. 27. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 22 c. Persiapan kuretase d. Memberikan oksitosin drip 10 IU e. Memberikan suntikan metergin 0,25 mg IM 7 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Apa kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Missed abortion b. Mola hydatidosa c. Kehamilan ektopik d. Abortus incomplet e. KET 8 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Apa tindakan awal pada kasus tersebut? a. Melakukan pengambilan darah b. Pastikan jalan nafas bebas c. Pantau produksi urine d. Rujuk pasien ke RS e. Pasang infus 9 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Di RS ibu dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang. Apa data dasar yang menunjang diagnosis pasti pada kasus tersebut? a. Hasil pemeriksaan HCG urine (+) b. Tsaudara spalding pada USG c. Nyeri lepas abdomen (+) d. Nyeri goyang portio (+)
  28. 28. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 23 e. Douglas pungsi (+) 10 Seorang perempuan berusia 35 tahun, G2P1A0 merasa hamil 2 bulan mengeluh pusing dan nyeri perut bawah. Hasil pemeriksaan hasil pemeriksaan Nadi 100x/menit lemah, konjungtiva pucat, TFU tidak teraba,nyeri perut (+), perdarahan sedikit. Di RS ibu dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang. Apa konseling yang penting untuk kasus tersebut? a. Konseling mengenai kemungkinan kesuburan b. Kontrol teratur dalam 1 tahun pertama c. Anjurkan ibu senam secara teratur d. Anjurkan menggunakan IUD e. Bed rest
  29. 29. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 24 Tugas Mandiri 1. Lakukan asuhan pada ibu hamil dengan perdarahan hamil muda secara mandiri (penilaian dengan menggunakan daftar tilik oleh pembimbing PK III). 2. Buatlah reflective practice sesuai dengan kasus yang saudara temukan. 3. Buatlah dokumentasi asuhan kebidanan sesuai kasus yang saudara temukan
  30. 30. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 25 Saifudin, Rachimhadhi, Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan, Edisi 4, YBP-SP, Jakarta, 2008 Midwifery Community Based Care during The Childbearing, Linda V walsh, Sander Company, 2001 Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, YBP-SP dan JNPKKR, Jakarta, 2002 Varneys, varneys midwivery, fourth edition. 2004. Boston. Jones and Bartlett . Cunningham, Mac. Donald, Gant. 2002. Obstetri Williams. Jakarta. EGC Pengurus Pusat IBI. Modul Kebidanan (Standar Pelayanan Kebidanan). 2003.Jakarta. Pusdiknakes, WHO-JHPIEGO, Asuhan Antenatal Buku 2, Jakarta : Pusdiknakes, 200 GLOSSARIUM Abortus Pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram Kehamilan Ektopik Kehamilan di luar rahim Mola Hydatidosa Kehamilan anggur AVM Aspirasi vakum manual HCG Human chorionic gonadotropin TTV Tanda-tanda vital TFU Tinggi Fundus Uteri Daftar Pustaka
  31. 31. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 26 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu melakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia Secara khusus saudara diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan jenis anemia, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan anemia, dan 5. Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia 1. Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 2. Pengertian Anemia 3. Tanda - tanda Anemia 4. Penyebab Anemia 5. Komplikasi akibat anemia pada ibu Hamil, Bersalin dan Nifas 6. Penanganan Anemia 7. Prosedur pemeriksaan Hb metode Sahli Kegiatan Belajar 2 Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Anemia Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  32. 32. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 27 Anemia? Bukankah saudara tidak asing lagi dengan kata ini? Kondisi ibu dengan anemia masih banyak ditemukan pada ibu hamil. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya anemia pada ibu hamil. Padahal kita semua mengetahui efek yang ditimbulkan pada ibu dan janin amat berat. Apa yang Anda ketahui tentang Anemia? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berkut. Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini: Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh tubuh. Uraian Materi
  33. 33. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 28 A. Diagnosis Diagnosa anemia dapat ditentukan melalui pengkajian data subjektif dan data objektif serta pemeriksaan laboratorium. 1. Tanda Pucat pada kulit dan membran mukosa dapat dilihat, dan mungkin tampak pada telapak tangan dan konjungtiva, meskipun tanda ini bersifat subjektif. Pada anemia berat, tanda dan gejala klinis yang tampak secara langsung dihubungkan dengan ketidak adekuatan suplai oksigen dan mencakup takikardia dan palpitasi, angina dan klaudikasi intermiten. 2. Gejala a. Subjektif Kelelahan, keletihan, iritabilitas, dan sesak napas saat melakukan aktivitas merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Stomatitis angular juga dapat terjadi, yaitu robekan yang terasa nyeri pada sudut mulut yang menyebabkan kehilangan nafsu makan. Gejala anemia pada kehamilan yaitu : • Letih. • Sering mengantuk, malaise • Pusing, lemah • Nyeri kepala • Luka pada lidah Gambar : Kulit pucat salah satu tanda anemia
  34. 34. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 29 • Kulit pucat • Membran mukosa pucat • Tidak ada nafsu makan, mual, dan muntah Riwayat yang berhubungan dengan potensi kelainan hematologi meliputi: • Riwayat anemia karena kekurangan zat besi • Riwayat sel sabit • Menderita talasemia atau riwayat talasemia dalam keluarga • ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura) • Gangguan perdarahan • Riwayat pengobatan • Kehamilan sebelumnya disertai peningkatan perdarahan (akibat episiotomy, insisi sesaria, atau untuk terapi darah sebelumnya, atau memar pada lokasi pemasangan infus) • Jika anak sebelumnya mengalami perdarahan, misalnya setelah sirkumsisi • Riwayat sindrom HELLP • Infeksi HIV • Riwayat diet • Sumber makanan yang kaya zat besi • Pica yaitu mengidam berlebihan dan ingin memakan bahan makanan atau sesuatu seperti tanah liat b. Objektif Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda dan gejala anemia yaitu: 1. Konjungtiva berwarna pucat 2. Bibir dan mukosa mulut pucat 3. Ujung-ujung ekstremitas pucat
  35. 35. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 30 Manifestasi Klinis pada Anemia Berat Pemeriksaan Manifestasi Klinik Keadaan Umum Pucat, nyeri kepala, vértigo, berat badan menurun Kulit Pucat, kulit kering, jaundice (pada anemia hemolitik) Mata Penglihatan kabur, konjungtiva pucat, dan perdarahan retina Telinga Vertigo tinnitus Mulut Mukosalicindanmengkilap,danstomatitis Kardiovaskuler Takikardi, palpitasi, murmur, hipotensi. Gastrointestinal Nyeri abdomen, anoreksia, disfagia Muskuloskeletal Nyeri pinggang, nyeri sendi Sistem persarafan Nyeri Kepala, bingung, neuropati perifer, cemas c. Pemeriksaan Hemoglobin Hemoglobin merupakan protein sel darah merah yang fungsinya antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan CO2 dan jaringan ke paru-paru, memberi warna merah pada darah, dan mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh Hemoglobin mengandung protein globin yang berkaitan dengan hem (senyawa besi protein). Derajat anemia berdasarkan kadar Hemoglobin: Normal > 11 g/dl Sedang Hb > 8 g/dl – 11 g/dl Berat b < 8 g/dl Umumnya ibu hamil dianggap anemia jika kadar Hb < 11 gr/dl atau hematokrit < 33 %.
  36. 36. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 31 d. Penyebab Penyebab anemia tersering adalah defisiensi zat-zat nutrisi, yang paling mendasar adalah kurangnya asupan, absorpsi yang tidak adekuat bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebihan dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoetik. Namun, sekitar 75 % anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi, penyebab yang tersering kedua adalah anemia megaloblastik yang disebabkan kekurangan asam folat dan vitamain B12. Penyebab anemia lainnya yang jarang ditemui adalah hemoglobinopati, proses inflamasi, toksisitas zat kimia dan keganasan. Defisiensi Besi Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan baik dinegara maju maupun berkembang. Risikonya meningkat pada kehamilan karena asupan besi yang tidak adekuat dibandingkan dengan kebutuhan pertumbuhan janin yang cepat. Pada kehamilan, kehilangan zat besi terjadi akibat pengalihan besi maternal ke janin untuk eritropoesis, kehilangan darah saat persalinan dan laktasi yang jumlah keseluruhan dapat mencapai 900 mg atau setara dengan dua liter darah. Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan suplementasi besi dan asam folat. WHO menganjurkan untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan normal selama kehamilan. Di wilayah dengan prevalensi anemia tinggi dianjurkan untuk memberikan suplementasi sampai tiga bulan postpartum. B. Komplikasi Anemia pada Ibu Hamil, Bersalin dan Nifas Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai. Sebagai bidan, saudara harus mengetahui komplikasi apa yang dapat terjadi pada ibu hamil, bersalin dan nifas dengan anemia 1. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: • Abortus • Missed Abortus • Kelainan kongenital.
  37. 37. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 32 2. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: a. Persalinan prematur b. Perdarahan antepartum c. Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim d. Asfiksia intrauterin sampai kematian e. BBLR f. Gestosis dan mudah terkena infeksi g. IQ rendah h. Bahkan bisa mengakibatkan kematian. 3. Anemia pada saat inpartu dapat menyebabkan: a. Gangguan his baik primer maupun sekunder b. Janin akan lahir dengan anemia c. Persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. 4. Anemia pada saat post partum anemia dapat menyebabkan a. Atonia uteri b. Retensio placenta c. Pelukaan sukar sembuh d. Mudah terjadi febris puerpuralis e. Gangguan involusio uteri. 5. Penanganan Penanganan anemia defisiensi zat besi yaitu, dengan memenuhi kebutuhan zat besi. Keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah dengan pemberian tablet besi. a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia. b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa
  38. 38. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 33 kehamilannya tua Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 100 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relative lebih cepat yaitu 2 g%. pemberian parenteral ini mempunyai indikasi: intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek saping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinyadapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis. 3. Pendidikan Kesehatan a. Memberikan pendidikan kesehatan pada ibu merupakan salah satu tugas bidan. Mengajarkan ibu bagaimana menkonsumsi vitamin berupa zat besi sangat penting. Zat besi punya peran penting bagi tubuh kita. salah satu fungsi utamanya adalah transportasi utama dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Selain itu zat besi berperan dalam produksi hemoglobin dan menyokong sistem kekebalan tubuh. Ajarkan ibu-ibu hamil untuk meminun zat besi secara benar, diantaranya adalah sebagai berikut: b. Minumlah tablet besi di antara waktu makan atau 30 menit sebelum makan. Atau untuk menghindari rasa mual yang diakibatkan oleh tablet besi, dapat diminum sebelum tidur. c. Hindari mengkonsumsi kalsium bersama zat besi (susu, antasida, termasuk tablet kalsium) d. Minumlah vitamin C (jus jeruk, tambahan vitamin C) e. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung Fe. Besi dalam makanan ada 2 jenis, yaitu besi hem dan non hem. Besi hem, terdapat di dalam daging hewan, dapat diserap 2 kali lipat daripada besi non hem. Besi non hem terdapat di dalam telur, serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah-buahan. f. Masaklah makanan dengan jumlah air minimal supaya waktu masak sesingkat mungkin. g. Makanlah daging, unggas, dan ikan-zat besi yang terkandung dalam bahan makanan ini lebih mudah diserap dan digunakan dibanding zat besi dalam bahan makanan lain. h. Nah, setelah saudara membaca uraian materi diatas, kini kita melangkah ke tahap berikutnya yaitu praktik asuhan pada ibu hamil dengan anemia. Pelajari dengan seksama kemudian praktikkan pada saat praktik di lapangan.
  39. 39. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 34 PENUNTUN BELAJAR ASUHAN PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI kasus 1 2 3 4 5 6 A. Lakukan pengkajian data subjektif 1 Tanyakan Biodata: • Nama • Umur • Pekerjaan • Pekerjaan suami 2 • Apa keluhan yang dirasakan ibu (Apakah ibu mengeluh pusing, lemah,lesu) 3 Tanyakan Riwayat kehamilan sekarang: • Hari pertama haid terakhir • Siklus haid • Gerakan janin • Masalah selama hamil ini • BB sebelum hamil • Riwayat periksa hamil • Obat/jamu yang dikonsumsi ibu selama hamil • Kebiasaan merokok/minum alkohol: tidak ada 4 Tanyakan Riwayat obstetri: • Gravida, paritas, riwayat abortus • Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu • Riwayat penyulit saat kehamilan peralinan dan nifas
  40. 40. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 35 • Riwayat KB 5 • Riwayat penyakit infeksi: TB, malaria, infeksi cacing, anemia. • Riwayat penyakit DM, jantung dan ginjal: tidak ada • Riwayat penyakit infeksi dalam keluarga serumah: tidak ada yangmenderita penyakit. 6 • Pola makan dan minum Ibu • Aktivitas sehari-hari/ pekerjaan • Istirahat dan tidur • Bagaimana respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan • Bagaimana dukungan keluarga B. Lakukan pengkajian data objektif 1 Identifikasi status gizi • Berat badan: • Tinggi badan: 2 Identifikasi kondisi kardiovaskuler/ tsaudara anemia berat • Tekanan darah • Frekuensi nadi • Frekuensi nafas • Suhu 3 Identifikasi tsaudara anemia • Rambut • Muka • Konjungtiva • Mulut, bibir • Ekstremitas atas dan bawah 4 Identifikasi pertumbuhan dan kondisi janin • Palpasi abdomen: TFU, Presentasi dan posisi janin • Dengarkan DJJ 5 Lakukan pemeriksaan Penunjang: hemoglobin darah C. Tentukan diagnosis D. Penatalaksanaan Sekarang kita melangkah ke daftar tilik berikutnya yaitu pemeriksaan Hemoglobin dengan Metode Sahli. Pelajari dengan seksama!
  41. 41. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 36 DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE SAHLI Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sbb : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan LANGKAH/TUGAS KASUS Persiapan Alat 1. Stsaudarar hemoglobin 1 set 2. HCl 0,1 % 3. Aquades 4. Lanset steril 5. Lancing device 6. Pipet 7. Tissu 8. Kapas DTT dalam wadah DTT 9. Bengkok 10. Wadah berisi larutan klorin 0,5% 11. Sarung tangan 1 pasang Pelaksanaan 1. Isilah tabung sahli dengan ditetesi HCl 0.1% sampai batas angka 2 pada tb scula 2. Tusuk ujung jari dengan lanset steril, bersihkan darah yang pertama keluar dengan kapas/tisu kering, tekan dengan jari supaya darah yang keluar tidak sampai jatuh/terbuang. 3. Gunakan pipet untuk menghisap darah sampai darah mencapai garis warna biru pada tabung atau angka 20 mm, kemudian
  42. 42. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 37 usaplah ujung pipet dengan tisue kering untuk menghindari sisa darah di luar pipet. 4. Masukkan pipet ke dalam tabung alí kemudian keluarkan darah sambil menarik pipet keluar 5. Aduk HCl dengan darah sampai benar-benar tercampur dan diamkan selama 3-5 menit supaya hematin dalam darah berubah menjadi asam hematin. 6. Masukkan aguades tetes demi tetes ke dalam tabung sahli, aduk kembali setelah ditetesi sampai warnanya sama dengan warna estándar 7. Lihat terdapat pada angka berapa permukaan darah, angka itulah yang menunjukkan kadar Hb. (Dalam membaca hasil pemeriksaan, tepatnya adalah pada lengkungan di bagian tengah, bukan di bagian pinggir darah.
  43. 43. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 38 Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh tubuh. Diagnosa anemia dapat ditentukan melalui pengkajian data subjektif dan data objektif serta pemeriksaan laboratorium. Penanganan anemia defisiensi Fe yaitu, dengan memenuhi kebutuhan zat besi. Keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah dengan pemberian tablet besi. Rangkuman
  44. 44. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 39 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 umur kehamilan 31 minggu datang ke BPM untuk memeriksakan kehamilannya dengan keluhan pusing, lemas dan sering mengantuk. Apakah kemungkinan yang dialami ibu tersebut? a. Impending Eklamsi b. Kurang istirahat c. Hipogilkemi d. Hipertensi e. Anemia 2. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 hamil 31 minggu datang ke BPM dengan keluhan pusing, lemas dan sering mengantuk. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal, konjungtiva pucat, TFU 29 cm, Kepala belum masuk PAP, DJJ 145 x/menit Apa pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada kasus tersebut? a. Hemoglobin b. Protein urine c. Glukosa urin d. Darah lengkap e. Golongan darah 3. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk melakukan kunjungan ulang. Sebelumnya, pasien telah diberikan terapi untuk anemia. Saat ini usia kehamilan 37 minggu, bidan berencana untuk melakukan evaluasi penilaian Hb pada pasien ini. Berapa kadar minimal Hb normal pada usia kehamilan tersebut? Evaluasi Formatif
  45. 45. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 40 a. 10 gr/dl b. 10.5 gr/dl c. 11 gr/dl d. 11.5 gr/dl e. 12 gr/dl 4. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat sebagai persiapan kehamilan. Berapakah dosis zat besi yang diperlukan pada kasus tersebut? a. 50 mg b. 55 mg c. 60 mg d. 65 mg e. 70 mg 5. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat dan konseling cara meminumnya. Apakah yang dapat menghambat penyerapan obat tersebut? a. Susu b. Jus jeruk c. Buah-buahan d. Kacang-kacangan e. Sayuran berwarna hijau 6. Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke BPM untuk konsultasi. Ibu berencana hamil. Hasil pemeriksaan dalam batas normal. Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat dan konseling cara meminumnya. Apakah efek samping obat tersebut?
  46. 46. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 41 a. Mual b. Diare c. Pusing d. palpitasi e. Gatal-gatal 7. Pertumbuhan janin terhambat (PJT) merupakan salah satu komplikasi anemia pada kehamilan. Apakah penyebab kondisi tersebut? a. Kurangnya aktivitas ibu b. Kurangnya oksigen dan nutrisi dari ibu c. Kurangnya aliran darah dari ibu ke janin d. Kurangnya volume plasma darah dari ibu e. Kurangnya lancarnya peredaran darah ibu 8. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 hamil 34 minggu datang ke BPM dengan keluhan pusing dan lemas. Hasil pemeriksaan: TTV dalam batas normal, konjungtiva pucat, TFU 29 cm, Kepala belum masuk PAP, DJJ 145 x/menit, Hb 7 g/dl Apakah tindakan bidan pada kasus tersebut? a. Berikan tablet fe 3x1 tablet b. Berikan Fe dan vitamin B12 c. Berikan Fe dan asam folat d. Berikan fe intravena e. Merujuk ke RS 9. Seorang perempuan berusia 25 tahun G2P1A0 hamil 7 bulan datang ke BPM untuk periksa. Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pemeriksaan Hb: 10 g/dl Bidan memberikan tablet Fe dan asam folat dan konseling cara meminumnya. Apakah yang dapat meningkatnya penyerapan obat tersebut? a. Air teh b. Kopi
  47. 47. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 42 c. Susu d. Keju e. jeruk 10. Seorang perempuan berusia 32 tahun G3P1A1 telah diperiksa Hb saat usia kehamilan 12 minggu hasilnya normal. Kapankah Pemeriksaan hemoglobin ulang pada kasus tersebut? a. 16-18 mg b. 20-24 mg c. 24-26 mg d. 28-32 mg e. 36-40 mg
  48. 48. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 43 Tugas Mandiri Lakukan asuhan pada ibu hamil dengan anemia secara mandiri (penilaian dengan menggunakan daftar tilik oleh pembimbing PK III) 1. Buatlah reflective practice sesuai dengan kasus yang saudara temukan 2. Buatlah dokumentasi asuhan kebidanan sesuai kasus yang saudara temukaN
  49. 49. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 44 Linda. 2010. Manajemen Kebidanan. Jakarta: EGC Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC Mochtar, R. 1998 . Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC Notobroto. 2003. Insiden Anemia. http://adln.lib.unair.ac.id. diperoleh 23 April, 2012. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Saifudin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP Tarwoto.2007.Buku Saku pada Ibu Hamil.Jakarta:Trans Info Media Winkyosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP GLOSSARIUM Antenatal Masa kehamilan DJJ Denyut Jantung Janin Hb Haemoglobin ITP Idiopathic Thrombocytopenic Purpura Daftar Pustaka
  50. 50. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 45 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Saudara diharapkan mampu untuk melakukan asuhan kebidanan pada perdarahan kehamilan lanjut Secara khusus saudara diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan jenis perdarahan, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari perdarahan pada kehamilan lanjut, 5. Membuat rencana asuhan pada perdarahan kehamilan lanjut, 6. Melaksanakan asuhan dan melakuan evaluasi asuhan pada kehamilan dengan perdarahan hamil lanjut. Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 1. Pengertian perdarahan kehamilan lanjut 2. Diagnosis perdarahan kehamilan lanjut 3. Penanganan perdarahan kehamilan lanjut Kegiatan Belajar 3 Asuhan Kebidanan pada Perdarahan Kehamilan Lanjut Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  51. 51. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 46 Masih ingatkan saudara pengertian perdarahan antepartum? Coba saudara tuliskan pada kotak di bawah ini: Sekarang coba anda cocokkan dengan uraian materi berikut ini : Uraian Materi
  52. 52. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 47 A. Perdarahan antepartum 1. Pengertian Perdarahan pada kehamilan lanjut disebut juga perdarahan antepartum. Perdarahan antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu. Perdarahan setelah kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 22 minggu. Oleh karena itu, rekan – rekan mahasiswa, sebagai bidan perlu dapat mendeteksi dini dan memberikan penanganan yang tepat. Perdarahan antepartum, yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis tidak terlampau sukar menentukan diagnosanya, ialah 1) plasenta previa dan 2) Solusio plasenta. Plasenta Previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium internum). Solusio plasenta merupakan terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. 2. Diagnosa Dalam menentukan diagnosa perdarahan kehamilan lanjut, dapat dilihat berdasarkan gejala –gejala di bawah ini : Gejala dan tanda umum Penyulit Lain Diagnosa • Perdarahan tanpa nyeri, usia gestasi >22 minggu. • Darah segar atau kehitam dengan kebekuan. • Perdarahan dapat terjadi setelah miksi, defekasi, aktivitas fisik, dan coitus. • Bagian terendah janin, tidak dapat masuk pintu atas panggul. • Syok • Tidak ada kontraksi uterus. • Kondisi janin normal atau gawat janin. Plasenta  Previa.
  53. 53. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 48 • Perdarahan dengan nyeri intermitten atau menetap. • Warna darah kehitaman dan cair; mungkin ada bekuan bila solusio relatif  baru. • Jika ostium terbuka, terjadi perdarahan warna merah segar. • ·Syok tidak sesuai jumlah darah yang keluar (tipe tersembunyi ). • ·Anemia berat. Solusio Placenta • Perdarahan terjadi Intra abdominal atau vaginal. • Nyeri hebat sebelum perdarahan dan syok yang kemudian hilang setelah terjadi regangan hebat pada perut bawah (kondisi tidak khas ) • Uji pembekuan darah, tidak menunjukan adanya pmbekuan darah setelah tujuh menit • Gerak janin lemah atau hilang. • Gawat janin. • Uterus tegang dan nyeri. Sekarang saudara sudah mengetahui tanda dan gejala placenta previa dan solusio placenta. Selanjutnya kita membahas penanganannya. 3. Penanganan Penanganan perdarahan antepartum diberikan berdasarkan sumber perdarahan tersebut, yaitu: a. Plasenta Previa Penanganan awal Tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum sebelum tersedia persiapan untuk Seksio Sesarea. Pemeriksaan inspekulo secara hati-hati, dapat menentukan sumber perdarahan berasal dari kanalis servikalis atau sumber lain (servisitis, polip, keganasan, laserasi atau trauma). Meskipun demikian, adanya kelainan di atas tidak menyingkirkan diagnosis plasenta previa. • Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan memberikan cairan infus IV (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat). • Lakukan penilaian jumlah darah. • Jika perdarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio sesarea tanpa
  54. 54. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 49 memperhitungkan usia kehamilan/prematuritas. • Jikaperdarahansedikitdanberhenti,danfetushiduptetapipremature,pertimbangkan terapi ekspektatif sampai persalinan atau terjadi perdarahan banyak. b. Persiapan Rujukan Dengan prinsip “BAKSOKUDO” • Bidan, siap untuk mengantar ibu hingga tempat rujukan • Alat, partus set, oksigenasi, alat-alat TTV, dopton, dll • Keluarga, siap untuk menemani ibu dan memberikan dukungan • Surat, surat rujukan harus dibuat sesuai dengan persyaratan rujukan • Obat, oksitosin • Kendaraan, untuk mencapai tempat tujuan • Uang, mempersiapkan perkiraan biaya • Donor, mempersiapkan donor darah bila terjadi kegawatdaruratan B. Solusio Plasenta Sekarang kita lanjut pada pembahasan berikutnya yaitu solusio plasenta. Dibawah ini adalah tabel tentang klasifikasi, gejala dan penanganan solusio plasenta. Dengan tabel ini akan memudahkan saudara untuk mempelajari perbedaan dari tiap klasifikasinya. Pelajari dengan seksama! KLASIFIKASI GEJALA PENANGANAN Ringan • Perdarahan kurang 100-200 cc, • Uterus tidak tegang, • Belum ada tanda renjatan, • Janin hidup, • Pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, • Kadar fibrinogen plasma lebih 120 mg%. Istirahat dan pemberian sedatif lalu tentukan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. Bila proses berhenti secara berangsur, penderita dimobilisasi. Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb, fibrinogen, hematokrit dan trombosit.
  55. 55. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 50 Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120- 150 mg%. Penanganan pada klasifikasi sedang dan berat bertujuan untuk mengatasi renjatan, memperbaiki anemia, menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. Bila diagnosa solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan, berarti perdarahan yang terjadi minimal 1000 cc. Maka, penatalaksanaannya meliputi : • Pemberian transfusi darah (transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc) • Pemecahan ketuban (amniotomi) untuk mengurangi regangan dinding uterus • Pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan diberikan infus oksitosin 5 UI dalam 500 cc dekstrose 5 % • Jika perlu dilakukan seksio sesar. Seksio sesar dilakukan bila : 1. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. 2. Perdarahan banyak 3. Pembukaan tidak ada atau kurang 4 cm. 4. Panggul sempit. 5. Letak lintang. 6. Pre eklampsia berat. 7. Pelvik score kurang 5 Berat Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.
  56. 56. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 51 Perdarahan pada kehamilan lanjut adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu. Perdarahan antepartum, yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis tidak terlampau sukar menentukan diagnosanya, ialah 1) plasenta previa dan 2) Solusio plasenta. Penegakan diagnose perdarahan pada kehamilan lanjut perlu melihat tanda gejalanya. Penangananan perdarahan pada kehamilan lanjut yang dilakukan oleh bidan merupakan penanganan awal serta melakukan rujukan untuk penganganan lanjut di fasilitas yang lebih lengkap. Rangkuman
  57. 57. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 52 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-) Apakah pemeriksaan yang diperlukan pada kasus tersebut? a. Inspekulo b. Ultrasonografi c. Pemeriksaan CTG d. Pemeriksaan dalam e. Pemeriksaan darah lengkap 2. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Ancaman robekan rahim b. Perdarahan bercak c. Solusio plasenta d. Placenta previa e. Ruptur uteri 3. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 32 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 30 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan Evaluasi Formatif
  58. 58. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 53 dari jalan lahir. Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Syok kardiogenik b. Syok hipovolemik c. Syok neurogenik d. Syok anafilaktik e. Syok septik 4. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh perdarahan dari jalan lahir, tidak ada mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 33 cm, presentasi kepala belum masuk PAP,DJJ 145x/menit, his (-), tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah tindakan pada kasus tersebut? a. Anjurkan ibu untuk kontrol 1 minggu kemudian b. Observasi tanda-tanda persalinan c. Kolaborasi dengan dokter d. Observasi perdarahan e. Merujuk ke RS 5. Salah satu faktor predisposisi plasenta previa adalah kehamilan kembar. Apakah penyebab pada kasus tersebut? a. Meningkatnya kebutuhan oksigen pada janin sehingga adanya pembesaran plasenta b. Permukaan plasenta yang luas dapat mengganggu segmen bawah rahim c. Terdapatnya jaringan parut yang mempunyai vaskularisasi rendah sehingga mencari tempat yang vaskularisasinya tinggi d. Hipoksia pada janin karena adanya permukaan plasenta yang luas untuk mengganti persediaan oksigen e. gangguan pertumbuhan janin
  59. 59. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 54 6. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu periksa hamil di RS di diagnosis plasenta letak rendah Apakah kemungkinan jenis persalinan pada kasus tersebut? a. Sectio sesarea b. Ekstraksi vakum c. Ekstraksi forceps d. Induksi persalinan e. Persalinan spontan 7. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Ancaman robekan rahim b. Perdarahan bercak c. Solusio plasenta d. Placenta previa e. Ruptur uteri 8. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Apakah tindakan awal pada kasus tersebut? a. Berikan oksigen b. Berikan antibiotik c. Berikan analgetik d. Pasang tampon vagina e. Posisikan ibu trendelenberg
  60. 60. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 55 9. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Bidan merujuk ke RS. Apakah komplikasi terhadap janin pada kasus tersebut? a. Deformitas janin b. Oligohidramnion c. Polihidramnion d. IUGR e. IUFD 10. Seorang perempuan berusia 35 tahun, G5P4A0 hamil 36 minggu datang ke BPM mengeluh nyeri perut dan perdarahan dari jalan lahir. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, palpasi sulit,DJJ 180x/menit, perut keras, tampak perdarahan dari jalan lahir. Bidan merujuk ke RS. Apakah penyebab nyeri perut pada kasus tersebut? a. Perdarahan yang menyebabkan teregangnya uterus b. Kontraksi uterus yang berlebihan c. Kontraksi brakxton hicks d. Rupturnya uterus e. Palpasi sulit
  61. 61. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 56 Coba saudara praktikkan asuhan pada perdarahan kehamilan lanjut Lakukan beberapa kali dengan teman. Jika hasil assesment sudah dapat dinyatakan kompeten segera hubungi pembimbing atau tutor saudara untuk ujian praktik. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah saudara lakukan. Tugas Mandiri
  62. 62. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 57 Cuninngham. F.G. dkk. 2006. Obstetri Williams. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC Star, Winifred et al. 2001. Ambulatory ObstetricsThird Edition. UCSF Nursing Press School of Nursing University of California: San Fransisco Wiknjosastro Hanifa, 2006. Ilmu Kebidanan, EGC, Jakarta Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan . Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2005 Cooper Fraser. 2003. Myles Buku Ajar Bidan. EGC : Jakarta GLOSSARIUM Plasenta Previa plasenta yang implantasinya tidak normal yaitu rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir (ostium internum) Solusio Plasenta terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir BAKSOKUDO Singkatan dari Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang dan Donor Amniotomi Pemecahan ketuban Daftar Pustaka
  63. 63. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 58 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi Secara khusus anda diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengklasifikasikan derajat preeklampsi/eklamsi, 4. Mengantisipasi diagnosis potensial dari Preeklamsi/Eklamsi, 5. Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 1. Pengertian 2. Diagnosis 3. Penanganan 4. Prosedur pemberian MgSO4 Kegiatan Belajar 4 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Preeklamsi/Eklamsi Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  64. 64. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 59 Sebelum memulai materi kegiatan belajar 4 kali ini yang akan membahas tentang asuhan pada ibu hamil dengan preeklamsi/eklamsi ada baiknya saudara tulis terlebih dahulu pengertian preeklamsi Sudah? Nah jika sudah anda samakan dengan pengertian berikut: Uraian Materi
  65. 65. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 60 A. DEFINISI Preeklampsi ialah penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria yang timbul karena kehamilan. Sedangkan Eklamsi merupakan kejang yang tidak disebabkan sebab lain pada wanita dengan preeklamsi Setelah saudara mengetahui pengertiannya mari kita bahas cara menegakkan diagnose preeklamsi/eklamsi B. Diagnosa Terdapat kesepakatan bahwa tekanan darah mutlak sebesar 140/90 mmHg adalah abnormal karena tekanan darah arteri istirahat yang normal lebih rendah pada orang hamil daripada orang yang tidak hamil. Hipertensi dalam kehamilan pertama kali diketahui selama kehamilan dan telah kembali normal dalam 12 minggu post partum. Dalam klasifikasi ini diagnosis akhir bahwa wanita yang bersangkutan tidak mengidap preeklamsia hanya dapat dibuat setelah post partum . Adapun teori lain yang diungkapkan oleh Saifuddin (2002. M-34 s.d M-35), bahwa tekanan darah diastolik merupakan indikator untuk prognosis pada penanganan hipertensi dalam kehamilan. Tekanan darah diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak dipengaruhi oleh keadaan emosi pasien (seperti pada tekanan sistolik).Jika tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada dua pemeriksaan berjarak 4 jam atau lebih, diagnosisnya adalah hipertensi. Pada keadaan urgen, tekanan diastolik 110 mmHg dapat dipakai sebagai dasar diagnosis, dengan jarak pengukuran waktu +/-4 jam. Gambar : Mengukur tekanan darah
  66. 66. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 61 Terdapatnya protein urin mengubah diagnosis hipertensi dalam kehamilan menjadi preeklamsi. Beberapa keadaan lain yang dapat menyebabkan proteinuria adalah infeksi traktus urinaria, anemia berat, gagal jantung, partus lama, hematuria dan kontaminasi dengan darah dari vagina. Sekret vagina dan cairan ketuban dapat mengkontaminasi contoh urine. Dianjurkan menggunakan urine midstream untuk menghindari kontaminasi. Kateterisasi tidak dianjurkan karena beresiko infeksi traktus urinarus. Untuk memudahkan saudara dalam menegakkan diagnosa hipertensi pada kehamilan, maka dapat dilihat dalam tabel di bawah ini : Gejala dan tanda yang selalu ada Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada Diagnosis kemungkinan • Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada kehamilan ≥ 20 minggu Hipertensi kronik • Tekanan diastolik 90-110 mmHg • Proteinuria + + Hipertensi kronik dengan superimpossed preeklamsia ringan • Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 kali pengukuran dengan berjarak 4 jam) pada kehamilan ≥20 minggu atau 48 jam setelah kehamilan • Proteinuria – (negatif) Hiperrtensi dalam kehami Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 kali pengukuran dengan berjarak 4 jam) pada kehamilan ≥20 minggu Proteinuria sampai + + Preeklamsia ringan
  67. 67. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 62 Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada kehamilan ≥20 minggu Proteinuria ≥ + + + Hiperrefleksia Nyeri kepala (tidak hilang dengan analgetik biasa) Penglihatan kabur Oliguria (<400 ml / 24 jam) Nyeri abdomen atas (epigastrium) Edema paru Preeklamsia berat Kejang Tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada kehamilan >20 minggu Proteinuria ≥ + + Koma Sama seperti preeklamsia berat Eklamsi Selanjutnya kita bahas bagaimana penanganan berdasarkan preeklamsi/eklamsi. Pelajari dengan seksama bagan berikut ini. C. Penanganan Klasifikasi Penanganan Preeklamsi Ringan • Ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring/ tidur miring) • Konseling pengaturan asupan nutrisi: cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam. • Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kehamilan pada ibu dengan preeklampsi ringan Preeklamsi Berat Bila terdapat kasus tersebut di pelayanan primer, maka persiapkan rujukan dan lakukan penanganan awal. Penanganan awal preeklampsi berat yaitu: • Infuse larutan ringer laktat • Pemberian MgSO4 Cara pemberian MgSO4 • Pemberian melalui intravena secara kontinyu (dengan menggunakan infusion pump): • Dosis awal 4 gram (20 cc MgSO4 20 %) dilarutkan ke dalam 100 cc ringer laktat, diberikan selama 15 – 20 menit. • Dosis pemeliharaan 10 gram (50 cc MgSO4 20 %) dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1 – 2 gram/ jam (20 – 30 tetes per menit)
  68. 68. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 63 Syarat – syarat pemberian MgSO • Harus tersedia antidotum MgSO4 yaitu kalsium glukonas 10 % (1 gram dalam 10 cc) diberikan i.v. dalam waktu 3 – 5 menit • Refleks patella (+) kuat • Frekuensi pernafasan > 16 kali per menit • Produksi urin > 30 cc dalam 1 jam sebelumnya (0,5 cc/kg BB/jam) MgSO4 dihentikan bila : • Ada tanda – tanda intosikasi • Setelah 24 jam pasca salin • Dalam 6 jam pasca salin sudah terjadi perbaikan tekanan darah (normotensif) • Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada: • Edem paru • Payah jantung kongestif • Edem anasarka Antihipertensi diberikan bila: Tekanan darah • Sistolik > 180 mmHg • Diastolic > 110 mmHg Obat – obatan antihipertensi yang diberikan : • Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg i.v. pelan – pelan selama 5 menit. • Dosis dapat diulang dalam waktu 15 – 20 menit sampai tercapai tekanan darah yang diinginkan. Apabila hidralizin tidak tersedia, dapat diberikan : • Nifedipin : 10 mg, dan dapat diulangi setiap 30 menit (maksimal 120mg/24 jam) sampai terjadi penurunan tekanan darah. • Labelatol 10 mg i.v. apabila belum terjadi penurunan tekanan darah, maka dapat diulangi pemberian 20 mg setelah 10 menit, 40 mg pada 10 menit berikutnya, diulangi 40 mg pada 10 menit kemudian, dan sampai 80 mg pada 10 menit berikutnya. Bila tidak tersedia, maka dapat diberikan : • klonidin 1 ampul dilarutkan dalam 10 cc larutan garam faal atau air untuk suntikan. • Disuntikan mula – mula 5 cc i.v. perlahan – lahan selama 5 menit. Kemudian diikuti dengan pemberian secara tetes sebanyak 7 ampul dalam 500 cc dextrose 5 % atau martos 10 • Jumlah tetesan ditirasi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan, yaitu penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) sebanyak 20 % dari awal.
  69. 69. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 64 • Pemeriksaan tekanan darah dilakukan setiap 10 menit sampaitercapaitekanandarahyangdiinginkan,kemudian setiap jam sampai dengan darah stabil. Kardiotonika • Indikasi pemberian kardiotonika ialah, bila ada : tanda– tanda payah jantung. Jenis kardiotonika yang diberikan : Cedilanid – D Perawatan diberikan bersama dengan Sub Bagian Penyakit Jantung. Lain – lain • Obat – obatan antipiretik Diberikan bila suhu rectal di atas 38,5 0C Dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol • Antibiotika Diberikan atas indikasi • Antinyeri Bila pasien gelisah karena kontraindikasi rahim dapat diberikan petidin HCl 50 – 75 mg sekali saja. Eklamsi Tujuan utama penanganan eklamsi menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah keadaan ibu stabil. Penanganan yang dilakukan : • Beri obat anti konvulsan • Perlengkapan untuk penanganan kejang (spatula, oksigen) • Lindungi pasien dari kemungkinan trauma • Aspirasi mulut dan tenggorokan • Baringkan pasien pada sisi kiri • Posisi trendelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi • Beri oksigen 4 – 6 liter/menit
  70. 70. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 65 Baiklah, sekarang saudara telah mengingat kembali asuhan kehamilan dengan preeklamsi/ eklamsi. Untuk menangani ibu hamil yang mengalami kondisi demikian bidan harus merujuknya ke Rumah Sakit tentunya dengan melakukan penangan awal terlebih dahulu salah satunya adalah memberikan pemberian MgSO4 . Berikut ini adalah penuntun belajar pemberian MgSO4 . Bacalah dengan seksama! PENUNTUN BELAJAR PEMBERIAN MgSO4 Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1 Bila asuhan dilakukan 0 Bila asuhan tidak dilakukan SKILL ASPEK YANG DINILAI MAHASISWA 1 2 3 4 5 6 1 Memberikan penjelasan tentang tujuan tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 2 Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klien dan atau keluarga. 3 Menjelaskan kemungkinan efek samping pemberian magnesium sulfat 4 Meminta persetujuan tindakan pada pasien atau keluarga 5 Memeriksa syarat pemberian MgSO4 , yaitu: • Harus tersedia antidotum kalsium glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc) • Refleks patella + kuat • Frekuensi napas ≥ 16x/menit • Produksi urin > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya atau > 30 ml/jam • Tidak ada hematuria 6 Mempersiapkan alat-alat dan obat secara ergonomis • Preparat MgSO4 20% (5 gram dalam 25 ml) dan 40% (10 gram dalam 25ml) @2 buah, • Kalsium glukonas 10 % (1 gram dalam 10 ml)
  71. 71. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 66 • Spuit 10 dan 20 cc @ 2 buah • Infus set 1 buah • Cairan infus RL 2 kolf • Abocath no 16 atau 18 1 buah • Handschoon 1 pasang • Plester 1 buah • Gunting plester 1 buah • Kapas DTT dalam tempatnya • Bengkok 1 buah • Perlak dan alasnya 1 buah • Jam tangan 1 buah • Waskom berisi larutan klorin 0,5% • Wadah sampah tajam 1 buah • Wadah sampah basah 1 buah • Wadah sampah kering 1 buah 7 Mencuci tangan 8 Melakukan pemasangan infus sesuai prosedur * 9 Memasang douwer kateter sesuai prosedur* 10 Memberikan dosis awal (Loading Dose): • Pilihan I Berikan MgSO4 20% 4 gr (20 cc) diberikan secara IV selama 5 menit atau MgSO4 40% 4 gr (10 cc) secara IV selama 15 menit. • Pilihan II 4 gram (20 cc MgSO4 20 %) dilarutkan ke dalam 100 cc ringer laktat, diberikan selama 15 – 20 menit. 11 Memberikan dosis pemeliharaan (Maintenance Dose) (dilakukan di rumah sakit, tetapi dalam persiapan merujuk kasus dosis ini dapat diterapkan): • 10 gram (50 cc MgSO4 20 %) dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1 – 2 gram/jam (20 – 30 tetes per menit) • Maksimal dalam 24 jam cairan infus yang masuk sebanyak 4 kolf (2000 cc) dan MgSO4 24 gr .
  72. 72. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 67 12 Memantau keadaan ibu setiap 15-30 menit • Tekanan darah • Nadi • Pernapasan • Reflek patella • Volume urin Jika terdapat tanda intoksikasi MgSO4 berikan Kalsium glukonas 10 % = 1 gram (10% dalam 10 ml) secara IV selama 3 menit 13 Memantau kondisi janin (DJJ) setiap 15-30 menit 14 Mencuci tangan sesuai prosedur 15 Mendokumentasikan hasil tindakan dalam catatan pasien NILAI TOTAL = Jumlah skor x 100% = .................. Skor total(45)
  73. 73. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 68 Hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan kardiovaskular berupa kenaikan tekanan darah tinggi sebesar 140/90 mmHg atau lebih yang diketahui pertama kali selama kehamilan dan kembali normal dalam 12 minggu post partum. Penegakan diagnose dapat melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Penanganganan hipertensi dalam kehamilan diberikan berdasarkan diagnose pasien, terdiri dari penanganan konservatif dan penanganan aktif. Pemberian MgSO4 pada preeklampsi/ eklampsi terbagi menjadi pemberian loading dose dan maintenance dose, dan perlu memenuhi syarat pemberian MgSO4. Rangkuman
  74. 74. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 69 Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang Saudara anggap paling benar pada kertas tersendiri. 1. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Superimposed preeklampsia b. Hipertensi gestasional c. Preeklampsia ringan d. Preeklampsia berat e. Eklamsi 2. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah diagnosis potensial pada kasus tersebut? a. Pertumbuhan janin terhambat b. Deformitas janin c. Olihidramnion d. Janin mati e. Abortus 3. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah tindakan awal pada kasus tersebut? Evaluasi Formatif
  75. 75. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 70 a. Beri MgSO4 20 % 4 gr IV b. Beri MgSO4 40 % 4 gr IV c. Beri MgSO4 40 % 2 gr IV d. Beri MgSO4 20 % 2 gr IV e. Beri MgSO4 20 % 5 gr IV 4. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah penyebab keluhan pada kasus tersebut? a. Spasme kortek serebri b. Kerusakan glomerolus c. Kerusakan endotel d. Edema pulmonal e. Proteinuria 5. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 gravida 32 minggu, mendapat perawatan di RS dengan diagnosis PEB dan telah mendapatkan terapi MgSO4 selama lebih kurang 16 jam. Hasil observasi : frekuensi nafas 12 x/menit, TD 90/70 mmHg, DJJ 100x/menit, reflek patela (-), urin 80 cc / 4 jam terakhir. Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Intoksikasi MgSO4 b. Syok kardiogenik c. Hellp syndrom d. Perdarahan e. Eklampsia 6. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 gravida 32 minggu, mendapat perawatan di RS dengan diagnosis PEB dan telah mendapatkan terapi MgSO4 selama lebih kurang 16 jam. Hasil observasi : frekuensi nafas 12 x/menit, TD 90/70 mmHg, DJJ 100x/menit, reflek patela (-), urin 80 cc / 4 jam terakhir Apakah tindakan awal pada kasus tersebut?
  76. 76. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 71 a. Beri kalsium glukonas 2 gram (15 %) IM b. Beri kalsium glukonas 1 gram (10%) IV c. Beri natrium glukonas 1 gram (10%) IV d. Beri kalsium glukonas 2 gram (10%) IM e. Beri natrium klorida 1 gram (10%) IV 7. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, protein urine +3. Bidan memberikan MgSO4. Apakah syarat pemberian obat tersebut? a. Protien urine (+) b. Refleks patela (+) c. Volume urine 30 ml /24 jam d. Frekuensi nafas < 20 x/menit e. Tekanan darah sistol > 140 mmHg 8. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS dengan kejang eklamsi. Apakah tindakan awal yang dilakukan bidan? a. Berikan infus RL b. Berikan Oksigen c. Beri antikonvulsan d. Posisikan ibu setengah duduk e. Aspirasi mulut dan tenggorokan 9. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu tidak mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine (-) Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Superimposed preeklampsia b. Hipertensi gestasional
  77. 77. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 72 c. Preeklampsia ringan d. Preeklampsia berat e. Eklamsi 10. Seorang perempuan berusia 19 tahun G1P0A0 hamil 32 minggu, datang ke RS mengeluh pusing yang sangat hebat. Ibu mempunyai riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan TD: 170/110 mmHg, DJJ 145x/menit reguler, his tidak ada, reflek patela (+) dan protein urine +3 Apakah kemungkinan diagnosis pada kasus tersebut? a. Superimposed preeklampsia b. Hipertensi gestasional c. Preeklampsia ringan d. Preeklampsia berat e. Eklamsi
  78. 78. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 73 Coba anda praktikkan asuhan pada ibu hamil dengan Preeklamsi/Eklamsi dengan menggunakan daftar tilik diatas. Buatlah dokumentasi dengan pendekatan SOAP hasil asuhan yang telah anda lakukan. Tugas Mandiri
  79. 79. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 74 Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002 Cunningham F G., et al. 2010. Williams Obstetrics 23rd Ed. McGraw-Hill, Medical Publishing Division Cunningham. F.G, et al, Obstetri Williams, ed.18, EGC, Jakarta,1995 Goodwin, T. Murphy, et al. 2010. Management of Common Problems in Obstetrics and Gynecology. Blackwell Publishing Ltd Jordan, Sue. 2004. Farmakologi Kebidanan. EGC, Jakarta Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Saifudin A B., 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. T.W. Kusuma. 2009. Manajemen Risiko Dalam Pelayanan Pasien Preeklampsia Berat/Eklampsia Di Instalasi Gawat Darurat Rsupncm. www.isjd.pdii.lipi.go.id. 19.36 GLOSSARIUM Preeklamsia Penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan protein uria yang timbul karena kehamilan Hematuria Setiap kondisi di mana urin mengandung darah atau sel-sel darah merah. urine midstream Urine pancaran tengah (midstream), di mana aliran pertama urin dibuang dan aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah disediakan. Maintenance Dose Dosis pemeliharaan Daftar Pustaka
  80. 80. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 75 Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, Anda diharapkan mampu untuk melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria Secara khusus anda diharapkan dapat: 1. Melakukan penilaian secara sistematis dan lengkap, 2. Melakukan penegakan diagnosis, 3. Mengantisipasi diagnosis potensial dari kehamian dengan infeksi malaria, 4. Melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria Pokok materi yang akan dibahas pada kegiatan belajar kali ini adalah: 1. Pengertian 2. Diagnosis 3. Pengaruh malaria selama kehamilan 4. Penanganan Kegiatan Belajar 5 Asuhan pada Ibu Hamil Dengan Infeksi Malaria Tujuan Pembelajaran Umum Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok - Pokok Materi
  81. 81. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 76 Sampai saat ini malaria masih mejadi salah satu masalah bagi kesehatan masyarakat di negara-negara seluruh dunia, baik didaerah tropis maupun sub tropis, terutama. Dinegara berkembang termasuk Indonesia. Malaria menyerang individu tanpa membedakan umur dan jenis kelamin, tidak terkecuali wanita hamil merupakan golongan yang rentan terhadap malaria. Di daerah endemi malaria wanita hamil lebih mudah terinfeksi parasit malaria dibandingkan wanita tidak hamil. Baiklah, sebelum anda mulai melakukan asuhan pada ibu hamil dengan infeksi malaria mari kita tinjau kembali kajian teori , hal ini akan mengingatkan anda apa saja yang harus dipahami bidan saat memberikan asuhan pada kehamilan dengan infeksi malaria. Uraian Materi Gambar : Nyamuk Pembawa VIrus Malaria
  82. 82. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 77 Apa yang Anda ketahui tentang penyakit malaria? Tuliskan jawaban Anda pada kotak berikut. Sekarang cocokkan jawaban Anda dengan uraian berikut ini: A. MALARIA 1. Pengertian Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus plasmodium. Empat spesies yang ditemukan pada manusia adalah Plasmodium Vivax, P. ovale, P. malariae dan P. Falciparum. Malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh keempat spesies plasmodium, tetapi plasmodium Falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak paling berat terhadap morbiditas dam mortalitas ibu dan janinnya.
  83. 83. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 78 2. Gejala Coba saudara tuliskan gejala- gejala awal malaria pada kotak berikut ini: Sekarang anda bandingkan jawaban Anda dengan uraian materi berikut ini: Gejala awal yang sering – demam, sakit kepala, mual dan muntah biasanya muncul 10 sampai 15 hari setelah terinfeksi. Bila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, malaria dapat menyebabkan keseriusan dan sering berakhir dengan kematian. 3. Risiko Sebagian besar kasus dan kematian terjadi di sub sahara Afrika. Selain itu, Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan sebagian wilayah Eropa juga terinfeksi. Tahun 2006, malaria menyerang 109 negara dan kepulauan. a. Resiko khusus • Orang dengan sedikit atau tanpa kekebalan tubuh yang pindah dari wilayah bebas malaria menuju wilayah dengan tingkat penyakit malaria tinggi rentan terhadap penyakit tersebut. • Wanita hamil tanpa kekebalan sangat beresiko terhadap malaria. Kesakitannya dapat berakibat pada tingginya tingkat kelahiran premature dan menyebabkan 10%
  84. 84. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 79 kematian ibu maternal (meningkat 50% pada kasus penyakit parah) setiap tahun. • Wanita hamil dengan kekebalan tubuh kurang akan beresiko terhadap anemia dan pertumbuhan janin yang tidak sempurna, walaupun mereka tidak menampakkan tanda-tanda penyakit akut. Tiap tahun diperkirakan 200.000 bayi meninggal akibat malaria selama kehamilan. • Wanita hamil yang menderita HIV juga memiliki resiko tinggi 4. Gejala klinis Pada ibu hamil dengan malaria, gejala klinis yang penting diperhatikan ialah: 1. Demam Demam merupakan gejala akut malaria yang lebih sering dilaporkan pada ibu hamil dengan kekebalan rendah atau tanpa kekebalan, terutama pada Primigravida. Pada ibu hamil yang multigravida dari daerah endemisitas tinggi jarang timbul gejala malaria termasuk demam, meskipun terdapat parasitemia yang tinggi. 2. Anemia Anemia pada malaria terjadi karena lisis sel darah merah yang mengandung parasit. Hubungan antara anemia dan splenomegali dilaporkan oleh Brabin (1990) yang melakukan penelitian pada wanita hamil di Papua Neu Geuinea, dan menyatakan bahwa makin besar ukuran limpa makin rendah nilai Hb-nya 3.Hipoglikemia Sel darah merah yang terinfeksi parasit malaria memerlukan glukosa 75 kali lebih banyak daripada sel darah merah yang tidak terinfeksi, sehingga pada penderita dengan hiperparasitemia dapat terjadi hipoglikemia. Gejala hipoglikemia dapat berupa gangguan kesadaran sampai koma. Bila sebelumnya penderita sudah dalam keadaan koma karena ‘ malaria serebral’, maka komanya akan lebih dalam lagi. Penderita ini bila diinjeksikan glukosa atau diinfus dengan dekstrosa maka kesadarannya akan pulih kembali, tetapi karena ada hiperinsulinemia, keadaan hipoglikemia dapat kambuh dalam beberapa hari
  85. 85. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 80 4. Edema paru akut Biasanya kelainan ini terjadi setelah persalinan bagaimana cara terjadinya edema paru ini masih belum jelas kemungkinan terjadi karena autotransfusi darah post-partum yang penuh dengan sel darah merah yang terinfeksi. Gejalanya, mula mula frekuensi pernafasan meningkat, kemudian terjadi dispenia (sesak nafas) dan penderita dapat meninggal dalam waktu beberapa jam 5.Malaria Berat Lainnya Gejala klinik dan tanda malaria berat antara lain hiperparasitemia (> 5% sdm terinfeksi), malaria otak, anemia berat (Hb < 7,1 g/ dl), hiperpereksia (suhu > 400 C), edema paru, gagal ginjal, hipoglikemia, syok. Gejala dan tanda-tanda malaria tersebut diatas perlu diperhatikan, karena kasus ini memerlukan penanganan khusus baik untuk keselamatan ibu maupun untuk kelangsungan hidup janinnya. B. PENGARUH MALARIA SELAMA KEHAMILAN Tentu saudara mengetahui pengaruh malaria terhadap ibu hamil. Pada ibu hamil selain berpengaruh pada ibu, malaria juga memiliki pengaruh yang tidak baik untuk janin. Nah, coba saudara tuliskan pengaruh malaria bagi ibu dan janin
  86. 86. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 81 Sekarang , coba bandingkan dengan uraian berikut: 1. PENGARUH MALARIA PADA IBU Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada tingkat kekebalan seseorang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan). Ibu hamil dari daerah endemi yang tidak mempunyai kekebalan dapat menderita malaria klinis berat sampai menyebabkan kematian. Di daerah endemisitas tinggi, malaria berat dan kematian ibu hamil jarang dilaporkan. Gejala klinis malaria dan densitas para sitemia dipengaruhi paritas, sehingga akan lebih berat pada primigravida (kehamilan pertama) dari pada multigravida (kehamilan selanjutnya). 2. PENGARUH MALARIA PADA JANIN a. Malaria Plasenta. Plasenta juga berfungsi sebagai “Barrier” (penghalang) terhadap bakteri, parasit dan virus. Karena itu ibu terinfeksi parasit malaria, maka parasit akan mengikuti peredaran darah sehingga akan ditemukan pada plasenta bagian maternal. Bila terjadi kerusakan pada plasenta, barulah parasit malaria dapat menembus plasenta dan masuk ke sirkulasi darah janin, sehingga terjadi malaria kongenital. Abortus, kematian janin, bayi lahir mati dan prematuritas dilaporkan terjadi pada malaria berat dan apa yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut diatas masih belum diketahui. Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin, karena terganggunya transfer makanan secara transplasental, demam yang tinggi (hiper-pireksia) atau hipoksia karena anemia. b. Penanganan • Kemoprofilaksis Strategi kontrol malaria saat ini untuk kehamilan masih merupakan pemberian kemoprofilaksis anti malaria yang rutin yaitu klorokuin pada setiap wanita hamil dalam daerah endemi malaria. Beberapa penelitian menunjukan bahwa kemoprofilaksis dapat mengurangi anemia pada ibu dan menambah berat badan lahir terutama pada kelahiran pertama.
  87. 87. Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan 82 Resiko malaria dan konsekwensi bahayanya tidak meningkat selama kehamilan kedua pada wanita yang menerima kemoprofilaksis selama kehamilan pertama. Rata-rata bayi yang dilahirkan pada kehamilan pertama bagi ibu yang menerima kemoprofilaksis lebih tinggi daripada berat bayi yang ibunya tidak menerima kemoprofilaksis. Kelahiran mati dan setelah mati lahir lebih kurang pada bayi dan ibu-ibu yang menerima kemoprofilaksis dibandingkan dengan bayi dari ibu-ibu yang tidak mendapat kemoprofilaksis. • Kemoterapi Kemoterapi tergantung pada diagnosis dini dan pengobatan klinis segera. Kecuali pada wanita yang tidak kebal, efektifitas kemoterapi pada wanita hamil tampak kurang rapi karena pada wanita imun infeksi dapat berlangsung tanpa gejala. Pada wanita dengan kekebalan rendah, walaupun dilakukan diagnosis dini dan pengobatan segera ternyata belum dapat mencegah perkembanagan anemia pada ibu dan juga berkurangnya berat badan lahir bayi. • Mengurangi Kontak dengan Vektor Mengurangi kontak dengan vektor seperti insektisida, pemakaian kelambu yang dicelup dengan insektisida mengurangi prevalensi parasitemia, khususnya densitas tinggi, insidens klinis dan mortalitas malaria. Pada wanita hamil di Thailand dilaporkan bahwa pemakaian kelambu efektif dalam mengurangi anemia maternal dan parasitemia densitas tinggi, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan berat badan lahir rendah. • Vaksinasi Target vaksin malaria antara lain mengidentifikasi antigen protektif pada ketiga permukaan stadium parasit malaria yang terdiri dari sporozoit, merozoit, dan gametosit. Kemungkinan penggunaan vaksin yang efektif selama kehamilan baru muncul dan perlu pertimbangan yang kompleks. Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan vaksin untuk mencegah malaria selama kehamilan, yaitu :
  88. 88. Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan 83 a. Tingkat imunitas sebelum kehamilan b. Tahap siklus hidup parasit c. Waktu pemberian vaksin15. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang aman dan efektif untuk penanggulangan malaria

×