Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Memilih variabel dan teknik pengukurannya

21,595 views

Published on

Published in: Education
  • Login to see the comments

Memilih variabel dan teknik pengukurannya

  1. 1. MEMILIH VARIABEL DAN TEKNIK PENGUKURANNYA Proposisi Konsep Konsep Hipotesa Variabel Variabel Definisi Definisi Operasional Operasional
  2. 2. PENGERTIAN KONSEP <ul><li>Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu </li></ul><ul><li>Konsep ada dua jenis : </li></ul><ul><li>Pertama, konsep-konsep yang jelas hubungannya dengan fakta atau realitas yang mereka wakili. Contoh : MEJA : Mempunyai permukaan datar, memiliki kaki, dan digunakan untuk aktifitas-aktifitas tertentu manusia. </li></ul><ul><li>Kedua, konsep-konsep yang lebih abstrak atau lebih kabur hubungannya dengan fakta atau realitas. Contoh : Perilaku konsumen, partisipasi kerja, status kawin, jenis kelamin, status pekerjaan, jabatan, umur, produktivitas kerja, dll. </li></ul>
  3. 3. PENGERTIAN KONSEP <ul><li>Konsep yang abstrak disebut juga konstruk ( construct ) karena dikonstruksikan dari konsep yang lebih rendah tingkatan abstraksinya. </li></ul><ul><li>Jadi konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu. </li></ul><ul><li>Peranan konsep dalam dunia penelitian sangat besar karena menghubungkan dunia teori dan dunia observasi, antara abstraksi dan realitas. </li></ul>
  4. 4. PENGERTIAN PROPOSISI <ul><li>PROPOSISI ADALAH HUBUNGAN YANG LOGIS ANTARA DUA KONSEP </li></ul><ul><li>Proposisi tidak mempunyai format tertentu. biasanya disajikan dalam bentuk kalimat pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua konsep. Misalnya : “Proses migrasi tenaga kerja ditentukan oleh perbedaan upah” (Harris and Todaro) </li></ul><ul><li>Proposisi ada dua tipe : yakni aksioma atau postulat dan teorem. Aksioma atau postulat adalah proposisi yang kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. Teorem adalah proposisi yang dideduksikan dari aksioma. </li></ul>
  5. 5. PENGERTIAN TEORI <ul><li>TEORI adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep. </li></ul><ul><li>TEORI mengandung tiga hal : </li></ul><ul><li>Pertama, teori adalah serangkaian proposisi antar konsep-konsep yang saling berhubungan. </li></ul><ul><li>Kedua, teori menerangkan secara sistematis suatu fenomena sosial dengan cara menentukan hubungan antar konsep. </li></ul><ul><li>Ketiga, teori menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya. </li></ul>
  6. 6. PENGERTIAN VARIABEL <ul><li>Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, konsep-konsep harus dioperasionalisasikan dengan mengubahnya menjadi variabel. </li></ul><ul><li>Variabel adalah konsep yang memiliki variasi nilai. </li></ul><ul><li>Contoh : Konsep Badan , agar konsep tersebut dapat diteliti secara empiris, konsep tersebut harus dijadikan variabel dengan mengambil dimensi tertentu badan. Misalnya tinggi badan , berat badan dan bentuk badan yang mengandung variasi nilai. </li></ul><ul><li>Variabel ada dua bentuk, yaitu variabel kategorikal dan variabel bersambungan. Variabel kategorikal adalah variabel yang membagi responden menjadi dua kategori atau beberapa kategori. Variabel yang terdiri dari dua kategori disebut dikotomi dan variabel yang memiliki banyak kategori disebut politomi. </li></ul><ul><li>Contoh variabel dikotomi : jenis kelamin (pria/wanita), status pekerjaan (bekerja/tidak bekerja), status perkawinan (kawin/tidak kawin). Contoh Variabel Politomi : Jenis Pendidikan (tidak sekolah, SD, SMP, SMU, S-1, S-2). </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Variabel Bersambungan adalah variabel yang dapat ditentukan nilainya dalam jarak jangkau tertentu dengan desimal yang tidak terbatas. </li></ul><ul><li>Contoh : umur, jumlah pendapatan, jumlah pengeluaran rumah tangga,berat, tinggi, luas. Misalnya : berat seseorang 56,5 kg dan tinggi, 1,75 meter. </li></ul><ul><li>Variabel menurut ciri pokoknya dapat berbentuk variabel diskrit (discrete), yang berarti tidak mempunyai pecahan (utuh). Misalnynya jumlah anak dalam satu keluarga adalah variabel diskrit, Mis : satu, dua, lima. </li></ul>
  8. 8. JENIS-JENIS HUBUNGAN ANTAR VARIABEL <ul><li>Hubungan paling mendasar adalah hubungan antara dua variabel/saling berhubungan : variabel pengaruh (independent variable) dengan variabel terpengaruh (dependent variable) </li></ul><ul><li>TIPE HUBUNGAN ANTARA VARIABEL : </li></ul><ul><li>HUBUNGAN SIMETRIS </li></ul><ul><li>HUBUNGAN TIMBAL BALIK </li></ul><ul><li>HUBUNGAN ASIMETRIS </li></ul>
  9. 9. <ul><li>HUBUNGAN SIMETRIS </li></ul><ul><li>Kedua variabel merupakan indikator untuk konsep yang sama. Contoh : Jumlah anak lahir hidup dan tingkat kelahiran kasar adalah dua indikator dari konsep fertilitas. </li></ul><ul><li>Kedua variabel adalah merupakan akibat dari faktor yang sama. Contoh : Pada suatu negara meningkatnya pelayanan kesehatan dibarengi pula dengan bertambahnya pesawat udara. Kedua variabel tidak saling mempengaruhi, tetapi keduanya merupakan akibat dari peningkatan pendapatan. </li></ul><ul><li>Kedua variabel berkaitan secara fungsional. Contoh : Dimana ada guru disana ada murid. Dimana ada majikan disana ada buruh. </li></ul><ul><li>Hubungan kebetulan semata-mata. Contoh : Seorang bayi ditimbang, kemudian meninggal keesokan harinya. Berdasarkan kepercayaan, kedua peristiwa dapat dianggap saling berkaitan, tetapi dalam penelitian empiris tidak dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut meninggal karena ditimbang. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>HUBUNGAN TIMBAL BALIK </li></ul><ul><li>Hubungan timbal balik adalah hubungan dimana suatu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat dari variabel lainnya. </li></ul><ul><li>Hubungan timbalik balik tidak dapat ditentukan variabel mana yang menjadi sebab dan variabel yang menjadi akibat. Pada suatu waktu variabel X mempengaruhi variabel Y, pada waktu lainnya variabel Y mempengaruhi X. Contoh : Penanaman modal mendatangkan keuntungan dan pada gilirannya keuntungan akan memungkinkan penanaman modal. </li></ul>
  11. 11. <ul><li>HUBUNGAN ASIMETRIS </li></ul><ul><li>Hubungan antara stimulus dan respon . Contoh : penelitian untuk mencari hubungan antara devaluasi nilai uang dengan peningkatan ekspor. </li></ul><ul><li>Hubungan antara disposisi dan respon . Yang dimaksudkan dengan disposisi adalah kecenderungan untuk menunjukan respon tertentu dalam situasi tertentu. Berbeda dengan stimulus yang datang dari luar, “disposisi” berada dalam diri seseorang. Misal : sikap kebiasaan, nilai, dorongan, kemampuan, dsb. Contoh hubungan antara kepercayaan seseorang dengan kecenderungan memakai obat tradisional. </li></ul><ul><li>Hubungan antara ciri individu dan disposisi atau tingkah laku. Yang dimaksudkan dengan ciri adalah adalah sifat individu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan. Seperti seks, suku bangsa, kebangsaan, pendidikan, dan lain-lain. </li></ul><ul><li>Hubungan antara prakondisi yang perlu dengan akibat tertentu. Contoh : Agar pedagang kecil dapat memperluas usahanya diperlukan antara lain persyaratan pinjaman bank yang lunak. </li></ul>
  12. 12. HUBUNGAN ASIMETRIS <ul><li>Hubungan yang imanen antara dua variabel . Dalam hubungan tersebut, kedua variabel terjalin satu sama lain; apabila variabel yang satu berubah, maka variabel yang lain ikut berubah. Misalnya : hubungan antara semakin besarnya suatu organisasi dengan semakin rumitnya peraturan yang ada. Administrasi yang rumit tidak disebabkan besarnya organisasi, melainkan ciri dasar dari suatu organisasi besar adalah administrasi yang rumit. </li></ul><ul><li>Hubungan antara tujuan ( ends ) dan cara ( means ). Contoh : Hubungan antara kerja keras dan keberhasilan, jumlah jam belajar dengan nilai ujian yang diperoleh, besarnya penanaman modal dan keuntungan. </li></ul>
  13. 13. HUBUNGAN ASIMETRIS DUA VARIABEL <ul><li>Hubungan dapat berupa hubungan antara dua variabel saja (hubungan bivariat) atau antara lebih dari dua variabel, biasanya antara satu variabel terpengaruh dan beberapa variabel pengaruh (hubungan multivariat) </li></ul><ul><li>Variabel Pengaruh Variabel Terpengaruh </li></ul><ul><li> X1 Y </li></ul><ul><li>Hubungan Bivariat </li></ul>
  14. 14. HUBUNGAN ASIMETRIS LEBIH DARI DUA VARIABEL <ul><li>Variabel Variabel </li></ul><ul><li>Pengaruh Terpengaruh </li></ul><ul><li>X1 </li></ul><ul><li>X2 </li></ul><ul><li>X3 Y </li></ul><ul><li>X4 </li></ul><ul><li>Hubungan Multivariat </li></ul>

×